Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Mahasabha II MGTH, 2 April 2021

Maha Gotra Tirta Harum, Era Baru Wujudkan Spirit Pasemetonan

01 April 2021, 08: 35: 37 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Maha Gotra Tirta Harum, Era Baru Wujudkan Spirit Pasemetonan

MAHASABHA : Persiapan Mahasabha II Maha Gotra Tirta Harum. Ketua Panitia Mahasabha, I Dewa Gede Mahendra Putra. (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Mahasabha II Maha Gotra Tirta Harum (MGTH) telah direncanakan sejak tahun lalu, diawali dengan pembahasan secara intensif anggaran dadar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) MGTH yang dilaksanakan secara terbatas di Pura Taman Narmada Bali Raja, Taman Bali, Bangli. 

Pembahasan dan perencanaan terhadap pokok-pokok bahasan layaknya sebuah organisasi secara simultan dilaksanakan seperti Laporan Pertanggungjawaban Pengurus, Rencana Kerja Pasemetonan dan Susunan Pengurus MGTH. 

Ketua Panitia Mahasabha, I Dewa Gede Mahendra Putra menjelaskan, mengingat situasi Pandemi Covid-19 yang membatasi jumlah kehadiran peserta, paruman Mahasabha II MGTH dilaksanakan secara bertahap. 

Baca juga: Usadha Babahi (8) : Mengembalikan Serangan Babahi

"Melalui sidang-sidang komisi dan sidang pleno pembahasan materi dalam acara Pra Mahasabha. Acara ini telah sukses dilaksanakan 16 Januari 2021 hingga menghasilkan kesepakatan yang pada acara Mahasabha II ini siap diparipurnakan," jelasnya, Rabu (31/3).

Pelaksanaan Mahasabha II MGTH yang semula direncanakan dilaksanakan di Pura Penataran Agung Taman Bali, Bali pada tanggal 14 Februari 2021, sempat tertunda mengingat meningkatnya penyebaran virus Covid-19 di Kabupaten Bangli, diikuti dengan keluarnya Surat Edaran Bupati No 440. 

Namun, dengan tidak mengurangi makna musyawarah acara Pra Mahasabha dan acara Mahasabha ini dilangsungkan secara virtual melalui Zoom Meeting  pada 2 April 2021 dari Gedung Nari Graha, Renon, Denpasar. 

Disampaikan juga sejarah singkat Maha Gotra Tirtha Harum, yang berawal dari kedatangan Dang Hyang Subali dan Dang Hyang Jaya Rembat  ke Bali tahun 1350 sebagai Bhagawanta mendampingi Shri Kresna Kepakisan sebagai Adipati pemimpin Bali setelah penundukan Bali tahun 1343. 

Perjalanan Dang Hyang Subali dalam usaha memohon petunjuk secara niskala kepada penguasa Bali di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) telah meninggalkan jejak jejak bersejarah.

Dimulai dari tempat armada Majapahit berlabuh di Pantai Rangkung atau Pantai Lebih, menuju camp Gajah Mada di Samprangan kemudian naik ke arah timur laut meninggalkan jejak jejak yang hingga kini dilestarikan dan disucikan  menjadi Pura, seperti Pura Batu Madeg Guliang, Pura Surabi Guliang, Pura Pasenetan Guliang, Pura Dalem Tengaling, Pura Taman Narmada Bali Raja Taman Bali, Pura Dalem Siladri di Nyalian, Pura Tirta Harum dan Pura Jero Puri. 

"Selain jejak tempat bersejarah tersebut, Dang Hyang Subali juga menurunkan seorang putri bernama Ni Dewi Njung Asti yang kelahirannya dikaitkan dengan mata air suci di tepi jurang Tukad Melangit yang dikenal dengan nama Tirta Harum," sambungnya. 

Setelah beberapa tahun kepemimpinan Dalem Kresna Kepakisan berlangsung, seterusnya pemerintahan digantikan putra beliau, yakni Dalem Wayan bergelar Sri Agra Samprangan atau dikenal pula dengan sebutan Dalem Ile. 

Kemelut pemerintahan yang terjadi selama pemerintahan Dalem Ile mendorong beberapa petinggi Kerajaan untuk segera melakukan suksesi yang pada akhirnya diangkatlah adik beliau Dalem Ketut Ngulesir sebagai Raja Bali dan beristana di Gelgel bergelar  Dalem Semara Kepakisan. 

Mengingat usia dan pengalaman yang masih muda, Prabu Hayam Wuruk kemudian mengutus paman sekaligus mertua beliau, yakni Shri Wijaya Rajasa yang juga duduk sebagai Anggota Dewan Sapto Prabhu sebagai Dang Guru Nabe Dalem. 

Kedatangan Shri Wijaya Rajasa tahun 1380 sangatlah strategis mengingat beliau adalah Raja Kedaton Timur Majapahit sekaligus adalah Raja dari 3 Kerajaan bawahan Majapahit yaitu Kerajaan Daha, Keling dan Wengker. 

Beliau juga penguasa pusat perekonomian Majapahit di Pamotan dan pesisir utara Jawa yang membentang dari Lamongan hingga sebagian Jepara. 

Di Bali Shri Wijaya Rajasa dikenal dengan sebutan Shri Aji Wengker atau Dalem Keling berpesraman di sebelah Timur Laut Kerajaan Samprangan di sebuah Jero Agung Guliang, peninggalan Dang Hyang Subali yang sekarang dikenal dengan nama Pura Dalem Tengaling.

Selama masa penggemblengan Dalem Semara Kepakisan sebelum menduduki Singgasana Kerajaan di Keraton Gelgel, Shri Wijaya Rajasa sendiri memimpinn tata kelola pemerintahan di Bali selama 8 tahun. Terutama pada daerah daerah yang masih bergejolak seperti di daerah sekitar Tamblingan, Gobleg dan sekitarnya, serta daerah pegunungan Kintamani dan Karangasem. 

"Prasasti Tamblingan III dan Prasasti Her Abang II yang dikeluarkan oleh Shri Wijaya Rajasa, menjadi bukti peran beliau sekaligus menjawab teka teki kenapa seorang Raja dari Jawa bisa mengeluarkan prasasti di Bali," papar pria yang menjabat Kepala Dinas Sosial Provinsi Bali ini. 

Diungkapkan I Dewa Gede Mahendra Putra, sudah menjadi kehendak sejarah bahwa kehadiran Shri Wijaya Rajasa di Jero Agung Guliang telah mempertemukan beliau dengan Putri Dang Hyang Subali, Ni Dewi Njung Asti. 

Pertemuan ini melahirkan Sang Angga Tirta yang sepeninggal Shri Wijaya Rajasa ke Jawa dibesarkan oleh Danghyang Jaya Rembat yang sebelumnya tinggal di Kentel Gumi. Keturunan Sang Angga Tirta inilah seterusnya menjadi cikal bakal Wamsakarta Satrya Taman Bali. 

Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong putra putra Sang Angga Tirta ditempatkan sebagai penguasa wilayah, dimana Sang Garbha Jata yang beristri putri Dalem Waturenggong menjadi Manca di Taman Bali bergelar I Dewa Taman Bali. 

Sang Telabah menjadi Anglurah di Kuta dengan Gelar Gusti Telabah atau Arya Telabah. Sedangkan warih Sang Angga Tirta yang lain diberi kekuasaan di Nyalian, yang sebelumnya pernah dibuatkan sebuah puri di sebelah utara Bencingah Kerajaan Gelgel, disebut Puri Denbencingah bergelar I Dewa Kanca Den Bencingah. 

Bertahun tahun sebagai manca di Taman Bali, wilayah ini pun berkembang menjadi Kerajaan Taman Bali yang independen. 

Dari beberapa buku yang diterbitkan tahun 1800-an Kerajaan Taman Bali tercatat pernah menjadi bagian dari 8 wilayah kekuasaan (kerajaan) di Bali bersama dengan Kerajaan Klungkung, Karangasem, Gianyar, Badung, Buleleng, Mengwi dan Tabanan.

Sementara kekuasaan Nyalian pun berkembang hingga secara de facto menjadi sebuah Kerajaan Nyalian. Dalam sejarah Kerajaan Nyalian tercatat ikut membantu Kerajaan Taman Bali dalam perseteruan Taman Bali dengan penguasa Singarsa Bangli, yang akhirnya berhasil mendudukkan salah satu putra Kerajaan Taman Bali sebagai penguasa Singarsa Bangli. Ke-anglurahan ini pun berkembang pesat hingga menjadi sebuah Kerajaan Bangli. 

Dalam kesempatan terpisah, Sekretaris Panitia Mahasabha, Dewa Ambara juga menyampaikan sudah menjadi kehendak sejarah pula berbagai perselisihan yang terjadi, baik diantara ketiga Kerajaan bersaudara ini maupun dengan Penguasa Bali (Dalem) menyebabkan kehancuran Kerajaan Nyalian dan Taman Bali. 

Hal ini pula kemudian membuat pratisentana Satrya Taman Bali hingga kini tersebar tidak kurang pada 226 Desa di seluruh Kabupaten di Bali. Berbagai kisah sejarah mewarnai penyebaran ini hingga terbentuk soroh-soroh yang beragam dan terhimpun dalam bentuk dadia dadia. 

"Penyebaran pratisentana Satrya Taman Bali dengan beragam soroh dan dadia ini, kemudian sejak awal tahun 1970 mulai lebih intensif mengorganisir diri hingga pada tahun 1995 sepakat membentuk paiketan pasemetonan yang dikenal dengan nama Pasemetonan Maha Gotra Tirta Harum (MGTH),"  tandasnya. 

Ditambahkannya, kegiatan pengurus Maha Gotra Tirta Harum  yang  dipimpin Dewa Made Berata sejak terbentuknya Pasemetonan MGTH telah berhasil melaksanakan kegiatan-kegiatan di bidang Parhyangan, Pawongan dan Palemahan. Upacara Nangun Karya Pamungkah tidak kurang pada 8 Pura Kawitan MGTH telah berhasil dilaksanakan. Upacara ini secara sinergis dibarengi dengan pemugaran di hampir seluruh Pura Kawitan. 

Selain dalam pelaksanaan upacara agama dan pembangunan, kepengurusan ini telah pula berhasil menyusun Buku Sejarah MGTH beserta silsilah Wamsakarta Satrya Taman Bali yang dikoordinir oleh I Dewa Gde Oka bersama dengan I Dewa Putu Diarta Nida dan A. A. Anom Sudira Pering. 

"Di bidang Pawongan kepengurusan telah berhasil mendata keberadaan angga pasemetonan yang hingga kini tercatat tersebar di 226 Desa diseluruh Bali, 92 Dadia dengan sejumlah 9.302 Kepala Keluarga," paparnya. 

Sedangkan keberadaan beberapa pura peninggalan leluhur, dimana sebagian terletak pada lokasi dan posisi yang sulit dijangkau, menjadi perhatian khusus dalam hal pencapaian, kebutuhan parkir, dan pembangunan sarana dan prasarana pendukung lainnya. 

Pembangunan dan penataan di bidang Palemahan ini secara terintegrasi dengan penataan pura telah pula diwujudkan. Salah satunya yang hingga kini sedang dikembangkan adalah penataan Kawasan Pura Taman Narmada Bali Raja menjadi Taman Banten.  

Sejumlah tanaman bebantenan ditanam mengelilingi taman air,  selain menjadi pusat tanaman bebantenan juga dikembangkan menjadi kawasan pelestarian lingkungan, pendidikan, kegitan sosial-budaya dan wisata spiritual. 

Pengabdian selama 25 tahun dalam kepengurusan yang didukung oleh segenap pratisantana Maha Gotra Tirta Harum sudah saatnya kini diemban oleh  Generasi yang lebih muda, melalui Mahasabha II Maha Gotra Tirta Harum. 

"Acara Mahasabha kali ini mengambil tema 'Ngupadi Dharmaning Pasemetonan Nangun Sat Kerthi Loka Bali' atau dalam Bahasa Indonesia Mewujudkan Spirit Pasemetonan dalam menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali. Tema ini sengaja diambil mengingat kesamaan Visi-Misi Pasemetonan MGTH dalam menuju Bali Era Baru," sambungnya. 

Era Baru dalam Pasemetonan MGTH adalah saat dimana untuk pertama kalinya melakukan pembaruan dalam pasemetonan setelah selama seperempat abad fokus dan disibukkan dengan kegiatan internal pasemetonan. 

Seluruh rangkaian acara yang telah dilaksanakan berupa pasamuan koordinasi panitia, rapat-rapat tim penyusun AD/ART  dan acara Pra Mahasabha, sepenuhnya mengikuti prokes Covid-19 yang ketat. 

"Astungkara tidak satupun dari acara pertemuan yang diselenggarakan menjadi klaster penyebaran virus cmCovid-19. Semoga dalam acara Mahasabha ini semuanya pulang dengan tetap seger oger-oger," tutup Dewa Ambara. 

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news