Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Babad Calonarang, Simbol Magis, Perkasa, dan Perlawanan 3 Wanita  

06 April 2021, 08: 00: 42 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Babad Calonarang, Simbol Magis, Perkasa, dan Perlawanan 3 Wanita   

PENTAS : Ni Made Ari Dwijayanti (kiri) dan pementasan Aci Panyalonarangan sebelum pandemi di Jaba Pura Dalem Puri, Banjar Adat Tebasaya, Desa Adat Peliatan, Kecamatan Ubud, tahun lalu.   (istimewa)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Babad adalah satu karya sastra tradisional warisan Bali. Dalam pemahaman selama ini, babad secara ringkas dimaknai sebagai sejarah yang mengurai riwayat perjalanan leluhur. Sehingga tak salah, babad juga disebut sebagai karya sastra sejarah. Beberapa sifat-sifat babad adalah sakral-magis, religi-magis, legendaris, mitologis, raja sentries atau istana sentris.

Penekun naskah kuno Ni Made Ari Dwijayanti mengatakan, Babad Calonarang adalah salah satu bentuk karya sastra sejarah yang cukup familiar di telinga masyarakat Bali. Unsur-unsur sejarah Babad Calonarang dinyatakan dalam bentuk pelaku yang memegang peranan dalam babad ini. 

Nama tempat, nama kerajaan ataupun kejadian yang diceritakan sangatlah berkaitan memiliki keterikatan jalinan cerita.

Baca juga: Pemkot Denpasar Lakukan Terobosan Vaksinasi Berbasis Banjar

Dwijayanti mengatakan, dalam Babad Calonarang ketokohan perempuan lewat tokoh Diah Wedhawati, Diah Ratnamanggali, Rangdeng Dirah. Ketiganya adalah tokoh wanita yang disimbolkan memiliki keperkasaan. Ketiga sosok perempuan itu dalam Babad Calonarang adalah perempuan yang tidak menginginkan dirinya teraniaya. 

Dari uraian Babad Calonarang, dikisahkan Mpu Bharadah seorang pendeta sakti tidak ada yang menandingi kesaktiannya di dunia. Beliau ahli yoga dan hidup di sebuah asrama di Desa Lemahtulis. 

Saat itu, Mpu Bharadah memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Diah Wedhawati. Namun pada saat Diah Wedhawati menginjak remaja gadis ini ditinggal mati ibunya. Itulah sebabnya Mpu Bharadah menikah lagi dan berputra seorang anak laki-laki tampan bernama Mpu Bahula.

Dikisahkan Diah Wedhawati tidak kuat tinggal bersama ibu tirinya. Karenanya dengan diam-diam dia pergi ke makam ibunya dan memutuskan menetap tinggal di makam ibunya tersebut. Karena sangat sayang dengan putrinya, maka menyusullah Mpu Bharadah ke makam istrinya dan mendirikan asrama di kuburan Lemahtulis itu.

Pada saat itu raja yang memerintah di Pulau Jawa adalah Prabhu Airlangga. Raja berdarah Bali ini tidak pernah dianggap menjadi raja, namun beliau tetap disebut raja menantu kendatipun memiliki jasa membesarkan Kerajaan Daha yang dihancurkan Wura-Wuri saat pernikahannya dengan putri dari Dharmawangsa Teguh.

Adalah dia Ni Calonarang (Rangdeng Dirah), janda yang sangat sakti ini bertempat tinggal di Desa Girah dan memiliki putri cantik yang bernama Diah Ratnamanggali. Rangdeng Dirah memiliki murid-murid yang sangat setia, mereka adalah Ni Weksirsa, Ni Mahisawedana, Ni Lenda, Ni Lendi, Ni Ganda, Ni Guyang, Ni Larung.

Mereka sangat taat dengan ajaran-ajaran Rangdeng Dirah dan tetap juga menaati peraturan-peraturan yang berlaku di Kerajaan Daha. Rangdeng Dirah merupakan adik seperguruan dari Mpu Bharadah. Janda ini dipuja dan dihina oleh penduduk Daha, namun ia tetap tak bergeming melakukan suatu tindakan pembalasan. 

Memuja Bhatari Durgha adalah hal-hal yang dilakukan Rangdeng Dirah bersama murid-muridnya. “Datang ke kuburan memuja Durgha dengan mahagaib menari, terbang, berjinjit, berputar, hingga hinggap di pohon kepuh. Sementara Diah Ratnamanggali hanya mampu menyaksikan apa yang diperbuat ibu dan murid-muridnya untuk masa depan di Dirah dengan menghancurkan Daha,” ujar Dwijayanti merujuk pada Babad Calonarang, pekan kemarin.

Diah Ratnamanggali ketika itu sudah cukup waktunya untuk menikah, namun tidak ada yang berani melamarnya. Karena Rangdeng Dirah yang tidak lain adalah janda dari Mpu Wibrama ini, terkenal dengan ilmu sihirnya yang bisa melukai, bahkan membunuh hanya dengan pikiran. 

Janda ini begitu sakti, belajar ilmu kalepasan, namun tak mampu melepas hingga dia senantiasa memuja dan terikat pada diri sendiri. Dengan keadaan Rangdeng Dirah yang tidak seorang lelakipun berani meminang, sehingga marahlah janda ini. 

Kemarahan itu membuatnya berbuat jahat pada penduduk di sekitarnya. Dia menyihir penduduk hingga jatuh sakit dan korban-korbannya berjatuhan. 

Setiap tengah malam Rangdeng Dirah beserta muridnya melakukan pemujaan kehadapan Bhatari Durgha mempersembahkan mayat-mayat, mengirimkan teluh mereka pada penduduk, hingga siang-malam selalu saja ada korban, membuat kuburan penuh sesak dan tidak ada tempat lagi bagi korban.

Mayat-mayat yang tidak berdosa bergelimpangan di sawah, ladang, tepi jalan, bahkan dimakan anjing. Burung gagak mematuk-matuk mayat, sementara belatung, cacing menghancurkan organ-organ manusia, para bhutakala berpesta karena tetadahan (makanan) yang melimpah. 

Siang dan malam tidak lagi bisa dibedakan, anjing melolong tanpa henti, seolah musik yang memabukkan mengiringi mayat-mayat berjatuhan akibat ulah Rangdeng Dirah.

Keadaan itu disampaikan para abdi kepada Prabhu Airlangga, yang kemudian Prabhu mengutus utusan untuk ke Dirah. Tetapi naas, utusan itu tidak pernah kembali. Lenyap, raib, ditelan bumi Dirah. 

Tanpa berpikir panjang Prabhu mengutus para prajurit setianya untuk mengenyahkan Rangdeng Dirah, namun tidak bisa juga. Bahkan ini yang membuat Rangdeng Dirah semakin marah. 

Janda ini merasa ditantang Prabhu Airlangga, maka dari itu dia kembali berulah. Memuja Durgha, mempersembahkan tubuh-tubuh tak bersalah, menari dalam kegelapan malam di atas pembakaran mayat di Setra Gandamayu diiringi murid-muridnya.

“Airlangga merasa terpukul dengan keadaan ini, maka bertapalah dia memohon petunjuk. Lalu diceritakan, Airlangga mendapatkan bisikan bahwa kerajaannya akan terselamatkan dengan bantuan seorang mpu, dia tak lain adalah Mpu Bharadah,” jelasnya.

Maka diutuslah utusan untuk menghadap ke Lemahtulis. Selanjutnya Mpu Bharadah dan Mpu Bahula menghadap Prabhu Airlangga. Hingga disuruhlah Mpu Bahula melamar Diah Ratnamanggali agar bisa bermertua dengan Rangdeng Dirah, dan mengetahui letak pusakanya. 

Berangkatlah Bahula menuju ke Setra Gandamayu. Sementara itu, putri dari Rangdeng Dirah, yaitu Diah Ratnamanggali adalah perempuan yang mampu melihat hari esok. Perempuan jelita ini hanya bisa menangis ketika melihat bayangan-bayangan esok yang datang silih berganti ketika cahaya bulan memantul di air. 

Diah Ratnamanggali melihat lelaki, lelaki yang menjadi tempat pelabuhan air-airnya.bLelaki itu adalah Mpu Bahula, yang tak lain adalah anak dari Mpu Bharadah. Diah Ratnamanggali tak mampu menahannya, lalu dia meniupkan doa-doanya pada angin agar segera Mpu Bahula datang ke Desa Girah. Karena sesungguhnya dia tak mampu menahan perasaannya mencintai lelaki yang dia lihat di atas air kolam kecil di Setra Gandamayu Desa Dirah.

Mpu Bahula menyampaikan pesan ayahnya kepada Rangdeng Dirah, bahwa dia hendak melamar Diah Ratnamanggali. Mendengar hal tersebut Rangdeng Dirah merasa senang dan menerima pinangan Mpu Bharadah terhadap anaknya. Bahkan, dia sangat senang, karena bisa berbesan dengan Mpu Bharadah dan bermenantukan Mpu Bahula.

Diah Ratnamanggali dan Mpu Bahula hidup rukun mengarungi biduk rumah tangga. Namun Mpu Bahula merasa tidak nyaman dengan tingkah laku ibu mertuanya yang setiap malam datang ke kuburan. 

Ditanyakanlah perihal tersebut kepada istrinya dan memintalah Mpu Bahula agar diambilkan pusaka ibunya. 

Karena cintanya yang besar kepada Bahula, akhirnya Ratnamanggali mengambil pusaka ibunya secara diam-diam pada saat ibunya pergi memuja Durgha di suatu tengah malam. 

Pusaka tersebut dibacanya dalam hati oleh Mpu Bahula, ternyata isinya adalah sebuah kelepasan dengan ajaran kasih sayang, namun disalahgunakan Rangdeng Dirah.

Mpu Bahula menyampaikan isi pusaka itu kepada ayahnya. Maka datanglah Mpu Bharadah ke Setra Gandamayu menemui besannya. Mpu Bharadah menyampaikan maksud kedatangannya yaitu untuk meluruskan ajaran Rangdeng Dirah. 

Rangdeng Dirah sangat senang mendengarnya, bahkan meminta agar diruwat Mpu Bharadah, namun Mpu Bharadah menolak permintaannya.

Itulah yang membuat marah Rangdeng Dirah dan menyerang Mpu Bharadah, namun Mpu Bharadah tetap berdiri tak bergeming oleh segala serangan dari Rangdeng Dirah. Hingga pada akhirnya Rangdeng Dirah mati hanya karena pikiran dari Mpu Bharadah. 

“Matinya Rangdeng Dirah tidak semata-mata membuat Mpu Bharadah lega, karena beliau lupa memberitahu jalan ke sorga pada Rangdeng Dirah. Maka Rangdeng Dirah dihidupkan kembali dengan tirta amerta, Rangdeng Dirah akhirnya meruwat diri sendiri atas bantuan Mpu Bharadah. Rangdeng Dirah dibakar bersama pusakanya,” imbuhnya.

Diah Ratnamanggali hanya bisa menangis ikhlas di pelukan Mpu Bahula melihat ibunya lenyap bersama karma-karmanya. Pengikut Rangdeng Dirahpun bertobat dan berguru pada Mpu Bharadah.

Ari Dwijayanti mengatakan, Diah Wedhawati, Diah Ratnamanggali, Rangdeng Dirah, adalah perempuan-perempuan perkasa yang ditenggelamkan waktu. 

Ketiga sosok perempuan itu dalam Babad Calonarang adalah perempuan yang tidak menginginkan dirinya teraniaya. Hal ini dibuktikan dengan perlawanan yang mereka lakukan terhadap lelaki. 

Kendatipun Rangdeng Dirah adalah seorang janda, dia tetap ingin memberikan hal yang terbaik untuk putrinya yaitu Diah Ratnamanggali. Berbagai cara dilakukannya untuk membahagiakan putrinya tersebut, termasuk memuja Bhatari Durgha saat tengah malam.

“Ini menandakan bahwa Rangdeng Dirah adalah seorang perempuan yang magis. Dia melakukan ritual-ritual pemujaan terhadap Bhatari Durgha. Ini adalah sebuah wujud perhormatan Rangdeng Dirah dengan tingkat magis tinggi dan religi yang tidak bisa dipisahkan dari sudut pemujaan,” jelasnya.

Sementara itu, Diah Ratnamanggali adalah perempuan yang bisa melihat masa depannya. Justru dengan kelebihan yang dimilikinya, dia mengirimkan pesan-pesannya pada lelaki yang dia sayangi untuk datang segera. Ini menandakan kalau Diah Ratnamanggali secara tidak langsung memberikan peluang lebih dulu daripada yang lelaki. Walaupun pada akhirnya Diah Ratnamanggali dan Mpu Bahula bersatu dalam cinta.

Sedangkan Diah Wedhawati adalah sosok perempuan pemberontak. Dia tidak mau turut dengan nasihat dari ayahnya.

“Diah Wedhawati lebih memilih meninggalkan ayahnya, walaupun demikian ayahnya tetap menyayanginya. Ini dibuktikan dengan disusulnya dia ke tempat pelariannya dan mendirikan pasraman hingga moksa bersama-sama,” pungkasnya.

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news