Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Jelang Galungan, Harga Babi Hidup Masih Stabil

06 April 2021, 20: 20: 44 WIB | editor : Nyoman Suarna

Jelang Galungan, Harga Babi Hidup Masih Stabil

STABIL : Ternak babi di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. (Agung Bayu/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Harga babi hidup jelang hari raya Galungan cenderung stabil. Namun, untuk kisaran harganya, berbeda-beda tergantung pakan babi tersebut. Hal ini diakui oleh salah satu peternak babi di Denpasar, Putu Wardana.

Dia menyebutkan, untuk harga babi hidup dengan pakan kering atau pakan jadi berkisar Rp 45 – 46 ribu perkilo. Sedangkan untuk harga babi hidup dengan pakan limbah sekitar Rp 43 – 44 ribu perkilo. “Harganya tergantung pakannya. Ini nanti yang beda kualitas dagingnya. Pakan kering atau pakan jadi yang lebih bagus dagingnya karena lemaknya tidak ada,” ujar Wardana saat ditemui di lokasi, Selasa (6/4).

Khusus di tempatnya, dia tidak hanya menjual babi hidup saat Galungan-Kuningan saja. Sistemnya, jika babinya sudah siap, sudah bisa dijual. “Biasanya babi dengan berat 1 kwintal sudah bisa dijual, tergantung kebutuhan. Sekarang di lokasi ada 30 babi. Di sini saya tidak stok, jadi kalau laku saya cari lagi. Saya menyediakan tergantung modal,” katanya.

Baca juga: Tiga Hari Masuk ICU, Umbu Landu Paranggi Meninggal Dunia

Wardana mengaku, penjualan babi hidup jelang Galungan ada peningkatan. Hanya saja tidak terlalu tinggi. Lantaran, dia memperkirakan, daya beli masyarakat masih belum kembali normal. “Peningkatan penjualan di Galungan sekitar 20 sampai 30 persen. Tidak tinggi. Karena keadaan ekonomi belum stabil, jadi untuk masalah keperluan daging tidak begitu banyak. Masyarakat banyak yang beralih ke daging ayam. Soalnya kalau daging babi harganya selalu mahal di pasar, bisa sampai Rp 100 ribu,” jelasnya.

Disinggung terkait isu demam babi Afrika (ASF) beberapa waktu lalu, Wardana mengungkapkan, penjualannya sempat anjlok total. Bahkan, dia mencatat kematian babinya mencapai 60 ekor. “Menurun drastis, sampai 90 persen penurunannya. Babi saya banyak yang mati. Ada 60 ekor yang mati waktu Maret-April. Obatnya juga tidak ada untuk virusnya itu. Jadi untuk antisipasi saya lakukan penyemprotan saja seminggu dua kali,” katanya.

Menurutnya, grubug tidak selalu ada setiap tahunnya. Kendatipun musim penyakitnya ada, tapi tak separah isu demam ASF kemarin. “Kemarin kan habis-habisan. Sekarang sudah menurun, palingan penyakit biasa saja seperti pernapasan atau pencernaan,” ungkapnya.

Diungkapkannya, setelah grubug penjualan babi hidup otomatis meningkat tajam. Terhitung dari harga Rp 10 - 15 ribu perkilo, sampai menjadi Rp 50 ribu beberapa waktu lalu. “Karena setelah grubug populasi babi di Bali menurun. Populasinya sedikit, tapi permintaan di lapangan banyak. Sekarang di Denpasar dan Badung untuk indukannya jarang, yang dominan sekarang nyari bibit ke Bangli dan Payangan,” katanya.(ika)

(bx/aim/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news