Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali
Umbu Landu Paranggi Berpulang

Kenangan Bersama Umbu Landu Paranggi dari Para Sastrawan

07 April 2021, 07: 27: 33 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kenangan Bersama Umbu Landu Paranggi dari Para Sastrawan

KENANGAN : Putu Satria Kusuma (baju hitam) bersama Umbu Landu (endek ungu). (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Umbu Landu Paranggi, sastrawan legendaris Indonesia yang berusia 77 tahun menghembuskan nafas terakhirny, Selasa (6/4) sekitar pukul 03.55 wita. Kepergian Umbu, Sang Maha Guru bagi para sastrawan itu meninggalkan kesan tersendiri bagi para sastrawan yang mengenalnya. Umbu yang dihormati dan disegani dikalangan sastrawan itu merupakan sosok yang misterius. Susah ditebak.

Dimata seorang sastrawan Buleleng, Made Adnyana ‘Ole’, seorang Umbu Landu itu tidak saja misterius. Tapi semasa hidupnya dia tidak pernah tinggal di satu tempat secara menetap. Dalam hal berkomunikasi, Umbu juga kerap menggunakan bahasa-bahasa yang jenaka. Idiom-idiom yang tidak biasa sering digunakan yang terkadang mengundang gelak tawa. Terkadang idiom-idiom itu juga hanya dipahami oleh Umbu. Tapi seseorang mendengar tetap saja turut tertawa. “Tidak ada yang tau dia tinggal dimana. Kalau mau nganter dia pulang, turunkan di tengah jalan. Tapi pada akhirnya dia mau nurut untuk memberi tahu keberadaannya, mengingat usianya sudah tua. Kalau ngobrol sama dia, lucu. Suka pakai idiom-idiom yang tidak biasa. Contoh, seseorang datang dengan pacarnya. Lalu Umbu melihat. Kemudian dia berkata, Ah dia pasti sudah di semakbelukarkan. Semakbelukar itu artinya mungkin sudah diajak bercinta atau berkasih. Ada lagi seperti ini, Tidak usah diberi makan. Dia sudah makan daging berkilo-kilo meter. Mungkin maksudnya sosis ya. Karena kalau berkilo-kilogram itu kan sudah biasa,” cerita Ole sambil terkekeh, Selasa (6/4) sore.

Di mata Ole, Umbu itu adalah guru. Bukan hanya bagi dirinya. Namun bagi semua seniman yang mengenal sosok Umbu. “Dia tidak mengajar. Tapi kami menyebutnya guru. Kami yang menempatkan dia sebagai guru,” ujarnya.

Baca juga: bank bjb Selenggarakan RUPST Tahun Buku 2020

Hal senada diungkapkan Putu Satria Kusuma. Sastrawan Buleleng yang juga menekuni dunia teater. Bagi Satria, Umbu adalah guru bagi seniman khususnya penekun seni sastra. Namun demikian Umbu juga memperhatikan seni lainnya seperti seni teater, rupa dan film. “Saya sendiri mendapatkan energi dan pemahaman yang luas dalam sastra dan teater dari Umbu. Saya masih ingat ketika kami memainkan naskah Macbet karya W.Shakesprare satrawan Inggris yang juga penyair besar,” ungkapnya.

Satria pun mengingat Umbu pernah berpesan agar hati-hati memainkan dialog-dialog dari karya Shakespeare karena satu kata dialognya adalah satu tetes darah sastra. Melalui kolom yang diasuh Umbu memberi kesempatan bagi sastrawan dan pelaku teater di Bali untuk berkarya. “Umbu, saya ikuti turun ke sekolah dan komunitas sastra dan teater di seluruh Bali pada era 80 dan 90 untuk membangkitakan semangat sastra dan teater. Umbu memberi angin kehidupan bagi anak anak remaja dan anak abak muda untuk masuk menghidupkan daya sastra sekaligus ekspresi seninya. Dalam musik misalnya, Umbu memberi energi lahirnya musikalisasi puisi yang pertama di bali,” terangnya.

Dari penuturan Satria, sebelum kepergiannya, ia sempat bertemu beberapa kali dengan Umbu. Pertemuannya dengan Umbu suatu hari saat ia membacakan puisi Ibu Penjaga Mata Air. Mendengar puisi itu Umbu dengan tegas meminta Satria untuk memerankannya dalam sebuah pementasan. Namun sayang, belum sempat digarap, Umbu pun berpulang. “Umbu tidak hanya menyentuh kami agar mencintai sastra modern, juga seni pertunjukan. Kehadirannya sangat penting dalam menumbuhkan seni modern yang tak hanya sebatas sastra juga seni pertunjukan. Dan saya pun masih berhutang pertunjukkan dengan beliau. Mudah-mudahan saya bisa memenuhi permintaan beliau membuat pementasan yang diadaptasi dari puisi Ibu Penjaga Mata Air,” ungkap Satria.

Sependapat dengan Ole, bagi Satria, Umbu adalah sosok yang humoris. Bila bertemu dengan kawan-kawan seniman dan sastrawan, Umbu kerap melontarkan lelucon-lelucon yang mampu mencairkan suasana. “Dia itu lucu. Kalau misalnya ngopi-ngopi bareng dan tidak ada dia rasanya seperti ada yang kurang. Tidak greget gitu. Pokoknya ada aja yang diomongin dan kami semua tertawa,” kata dia.

Karya-karya sastra berupa puisi Umbu Landu tersebar hingga ke pelosok negeri. Tak terkecuali ke telinga-telingan para sastrawan ini. Salah satu puisi karya Umbu Landu berjudul Apa Ada Angin di Jakarta? Puisi itu merupakan sebuah puisi metafora yang menggambarkan hiruk pikuknya Kota Jakarta. “Itu ada puisinya judulnya Apa Ada Angin di Jakarta? Itu seperti puisi ramalan. Dan memang faktanya Jakarta sangat penat. Coba lihat sekarang apakah bisa berkutik di Jakarta dengan kepadatannya yang seperti itu. Itu hebatnya dia, apa yang ditulis memang begitu adanya,” ungkap dia.

Selain sosoknya yang jenaka, Umbu Landu juga merupakan sosok yang mudah bergaul. Dimana pun ia berkunjung dan bertemu kawan, ia selalu dapat beradaptasi dengan mudah. “Kalau ketemu biasa dia bercanda. Kalau ada yang main kartu dia kadang ikut main juga,” tambah Ole.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news