Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Konsep Unik Rumah Adat Desa Julah 

Tidur, Upacara Hingga Melahirkan di Dapur bagi Pengantin Baru

16 April 2021, 16: 33: 28 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Tidur, Upacara Hingga Melahirkan di Dapur bagi Pengantin Baru

KAMULAN: Kelian Adat Julah Jro Ketut Sidemen dengan latar belakang Palinggih Kamulan, sebagai satu-satunya tempat suci. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sebagai desa tua, Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng, juga memiliki rumah adat yang sangat unik. Rumah adat yang desainnya sederhanya dan hanya cukup untuk satu kepala keluarga (KK) ini, begitu kompleks dan tidak lepas dari kearifan lokal desa tersebut.

Belum lama ini Bali Express (Jawa Pos Group) sempat menginjakkan kaki ke Desa Julah. Terlihat jika dalam satu areal pekarangan bisa terdapat belasan rumah adat yang disebut dengan banjar. Namun angkul-angkul atau pintu masuk hanya satu buah. Sedangkan kumpulan banjar disebut dengan tempekan dan berada di satu gang kecil. Rumah adat ini berdiri kokoh di tanah pekarangan desa.

Secara struktur, rumah adat Julah memang sangat sederhana. Sebuah rumah tinggal yang dihuni oleh satu kepala keluarga (KK) di Julah, hanya terdapat empat jenis bangunan yang terpisah, tanpa adanya ornamen khusus. Yakni tempat suci (Sanggah Kamulan), bale meten (tempat tidur), dapur, dan kamar mandi.

Baca juga: Satukan Sekte di Bali, Bentuk Desa Pakraman

Tidur, Upacara Hingga Melahirkan di Dapur bagi Pengantin Baru

CANANG: Bentuk canang masyarakat adat Julah dengan salah satu bahan dari daun Intaran sebagai pengganti bunga. (Putu Mardika/Bali Express)

Perbedaan status sosial, tidak berlaku dalam susunan ruang rumah tinggal masyarakat di Julah. Kondisi ini mencerminkan masyarakat Julah menganggap dirinya sejajar, tidak ada perbedaan kasta maupun status sosial.

Posisi rumah adat mengarah kepada konsep ulu-teben. Sebelah timur terdapat Sanggah Kamulan dan di seberangnya terdapat dapur. Sedangkan posisi rumah berada di sebelah baratnya menghadap ke timur. Nah di antara dapur dan Kamulan inilah dijadikan sebagai akses keluar masuk. Di bagian teben-nya terdapat kamar mandi.

Kelian Adat Julah, Jro Ketut Sidemen, 68, kepada Bali Express mengatakan, satu rumah adat hanya boleh dihuni satu KK saja. Setiap anak yang sudah menikah hanya boleh tinggal dengan orang tua paling lama satu tahun. Setelah lewat setahun, anak tersebut harus hidup terpisah dengan orang tuanya, baik itu sudah cukup dari segi ekonomi maupun tidak. 

Menikah menurut Jro Sidemen, sama dengan mandiri bagi masyarakat Desa Julah. Yang berperan utama dalam kepala keluarga adalah pihak laki-laki. Ayah sebagai kepala keluarga, dan anak laki-laki terkecil mendapat prioritas utama dalam keluarga. Baik itu menyangkut warisan, maupun hak dan kewajiban yang lain. 

Namun, jika ekonomi masih belum mapan, mau tidak mau anak yang sudah menikah disarankan harus membuat paon atau dapur terlebih dulu jika belum mampu membangun rumah adat versi Julah.

“Paon (dapur) bukan hanya tempat memasak saja. Tetapi lebih dari itu. Bisa tidur disana, masak, makan, melahirkan, melaksanakan ritual, sampai menaruh pakaian disana. Makanya paon-nya besar. Minimal ukurannya 4x4,” ujar Sidemen.

Setelah membangun paon, barulah disarankan untuk menguatkan sisi ekonomi. Caranya, pengantin baru ini bisa membuat gelogor atau kandang untuk beternak babi ataupun ayam. Jika ekonomi dirasa sudah mapan, dilanjutkan dengan membangun Sanggah Kamulan.

Jika dilihat secara seksama, bentuk Sanggah Kamulan juga sangat sederhana. Mirip seperti Jineng atau Gelebeg. “Kenapa bentuknya seperti Gelebeg? karena Desa Julah itu memuliakan Dewi Sri. Makanya kami senantiasa menggunakan babi hitam mulus sebagai sarana ritual,” imbuhnya lagi.

Kamulan, sebut pensiunan guru SMA ini, merupakan pusat orientasi bagi bangunan-bangunan lainnya. Selain itu, masyarakat Julah memiliki tradisi Mendak sebagai wujud interaksi antara masyarakat dengan leluhurnya. Lokasi Mendak terletak di antara bangunan Sanggah Kamulan dan dapur. 

Dengan ritual Mendak ini, warga Julah berharap agar leluhur berkenan datang memberikan kesejahteraan bagi penghuni dalam bentuk berkah pangan. Sehingga anak cucunya tetap bisa bertahan hidup. 

“Semua upacaranya di Kamulan. Dari upacara Manusa Yadnya sampai Dewa Yadnya. Mau upacara perkawinan, tiga bulanan, kematian, semua kami laksanakan di Palinggih Kemulan,” jelasnya.

Di dalam Kamulan, warga Julah meyakini berstana konsep Tri Murti, atau Brahma, Wisnu dan Siwa. Keyakinan ini dipertegas dengan penggunaan bunga tiga warna di setiap ritual. Seperti bunga kembang sepatu yang berwarna merah, bunga menuri berwarna putih, dan bunga temen untuk berwarna gelap.

Posisi Palinggih Kamulan, sebut Jro Sidemen, harus sejajar dengan dapur. Berhadap-hadapan. Agar batas-batas selatan dan utara itu jelas. Sedangkan di titik tengah itu ada perempatan, dan di titik inilah kerap dijadikan sebagai upacara Ngulapin, bagi ada orang yang meninggal.

Sidemen menegaskan, di Julah memang tidak mengenal istilah Sanggah Dadia, atau klan. Menurutnya, peran Kamulan menjadi sangat vital dalam setiap ritual. “Tetapi kami juga mengenal dengan Sanggah Misi. Itu khusus masih satu ikatan keluarga, dan palinggihnya juga cukup satu,” bebernya.

Lanjutnya, masyarakat memang tidak diperkenankan membangun rumah tinggal dua lantai. Ia menyebut, ada larangan tidak tertulis yang diyakini secara turun-temurun agar tidak membangun kamar mandi satu atap dengan tempat tidur. “Aturan tersebut masih ditaati sampai saat ini,” akunya.

Memang rumah adat Julah tidak terdapat ventilasi yang proporsional seperti rumah pada umumnya. Justru sengaja tidak diisi. Menurut Jro Sidemen, ada makna tersendiri mengapa tidak ditambahkan ventilasi besar. Hal itu mengacu pada pola kehidupan masyarakat Julah yang merupakan hidup dari sektor agraris atau pertanian. 

“Nanti kalau rumahnya terlalu nyaman, dikhawatirkan masyarakat tidak mau bekerja ke sawah. Maka dari itu, kalau pagi ya harus pergi ke sawah, sorenya pulang untuk istirahat,” jelasnya.

Proses pewarisan dari rumah adat Julah adalah anak laki-laki terkecil dari sebuah keluarga. Anak perempuan tidak memiliki hak waris secara hukum adat, namun hal tersebut disesuaikan dengan kebijakan masing-masing kepala keluarga. 

Dikatakan Kelian Adat Julah, Jro Ketut Sidemen, apabila satu keluarga memiliki anak laki-laki lebih dari satu, maka anak kedua dan seterusnya harus meninggalkan pekarangan asli. Kecuali jika pekarangan asli masih cukup untuk dua unit kepala keluarga. 

Misalnya satu unit kepala keluarga hanya memiliki tanah di pekarangan inti seluas 8 x 7 meter. Apabila keluarga ini nantinya mempunyai dua orang anak laki-laki, maka hanya satu anak laki-laki yang berhak tinggal di rumah inti. Ruang yang tersedia hanya cukup untuk membangun satu unit Bale Meten, satu unit dapur dan satu Kamulan

Pada prinsipnya, masyarakat Julah tidak diperbolehkan memperluas ataupun menjual pekarangan inti yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keturunan masyarakat Julah yang tidak memiliki hak menempati tempat tinggal keluarga inti (batih) disediakan tempat di tegalan atau di luar permukiman.

Dikatakan Jro Sidemen, berbeda dengan masyarakat Bali dataran yang mengenal konsep Tri Mandala, yakni utama, madya, dan nista, masyarakat Julah hanya mengenal dua sistem tata nilai ruang, yaitu utama nista (sakral profan). 

Area utama merupakan area yang difungsikan untuk meletakkan bangunan yang memiliki nilai sakral (tempat suci), dan area nista digunakan untuk meletakkan bangunan yang memiliki nilai profan seperti kandang ternak, kamar mandi dan dapur. 

Selain konsep hulu-teben yang mempengaruhi tata letak bangunan, masyarakat Julah juga memiliki konsep landscape yang mengatur letak tanaman di dalam sebuah unit hunian. 

Tidak semua tanaman bisa ditanam di pekarangan masyarakat Julah. Ada nilai-nilai dalam sebuah tanaman yang mengatur posisinya dalam rumah. 

Seperti pohon Intaran yang merupakan simbol kebesaran masyarakat Julah. Daun Intaran merupakan pengganti bunga dalam sesajen masyarakat Julah. Setiap upacara wajib mempergunakan daun Intaran. 

Terdapat banyak cerita dan filosofi yang beredar dalam masyarakat Julah yang menceritakan tentang keagungan daun Intaran. “Kami membuat canang itu dari daun Intaran. Ada buah pinang, ada sirih, ada pamor. Ini konsepnya juga Tri Murti. Canang ini bisa dihaturkan setiap hari dan hari suci lainnya,” katanya.

Keberadaan pohon Intaran, sebut Jro Sidemen, juga tak lepas dari kisah historis yang dialami para pendahulunya. Dimana, dahulu Desa Julah sangat sering dilanda musibah. Hampir 75 persen warga masyarakat meninggal akibat wabah penyakit. 

Kemudian ada salah satu warga masyarakat mendapat petunjuk dari seorang balian di Ponjok Batu. Dimana, dari pawisik yang diterima, untuk mengobati masyarakat dengan mempergunakan daun Intaran. 

Daun Intaran tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh masyarakat untuk dijadikan obat. Berkat daun Intaran tersebut, kemudian masyarakat yang tadinya sekarat, bisa sembuh dan semua berhasil selamat dari wabah penyakit.

“Setelah kejadian itu, masyarakat Julah diwajibkan menanam daun Intaran di setiap pekarangan, dan tanaman tersebut harus diletakkan di area sakral (hulu). Selain daun Intaran, terdapat tanaman lain yang diperbolehkan ditanam dalam pekarangan masyarakat Julah, seperti pohon temen, medori, dan riba,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP