Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Jangan Gegabah, Antukang Bhatari Sri Bila Alih Fungsi Sawah

17 April 2021, 07: 29: 15 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Jangan Gegabah, Antukang Bhatari Sri Bila Alih Fungsi Sawah

SAWAH: Petani di kawasan Desa Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung, menggarap sawah. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Alih fungsi sawah untuk dijadikan bangunan, terutama rumah, perlu diperhatikan dari sisi ritual. Umat Hindu di Bali percaya bahwa area sawah dijaga oleh Ida Bhatari atau Dewi Sri. Oleh karena itu, sebelum membangun rumah di bekas lahan persawahan ada istilah Ngantukang Bhatari Sri. 

Ngamantukang atau Ngantukang Dewi Sri diartikan sebagai proses mengembalikan kuasa Ida Bhatari terhadap area itu untuk selanjutnya diubah dari yang semula sawah menjadi pekarangan untuk tempat tinggal.

Prosesi ini jelas sangat penting. Jika tak dilakukan, maka ada kepercayaan bahwa pekarangan yang ditempati tersebut nantinya bisa mendatangkan petaka bagi penghuni. Sebab, sawah menjadi tempat yang cukup disucikan umat Hindu. Sehingga, untuk bisa ditinggali manusia, hendaknya ada ritual sebagai tanda memohon restu. 

Baca juga: Tersangkut Dugaan Keterangan Palsu, ZT Nyatakan Tidak Pernah Menipu 

“Ngantukang Bhatari Sri atau Ngantukang Bhatari Sri memang bukan hal baru. Ini biasanya dilaksanakan saat area sawah dialihfungsikan untuk tempat tinggal. Jadi, umat Hindu di Bali pada umumnya melaksanakannya sebelum proses Ngaruwak Karang,” ujar Jro Mangku Wayan Pada, Rabu (7/4) lalu.

Perlu dipahami, kata dia, ritual ini bukan berarti mengusir Sang Dewi Kemakmuran dari lahan yang hendak dialihfungsikan, melainkan mengembalikan anugerah sekaligus memohon restu untuk lahan tersebut digunakan untuk dibanguni tempat tinggal. Nantinya di pekarangan tersebut kuasanya akan digantikan Ratu Made Alangkajeng yang distanakan di Palinggih Panunggun Karang. “Jadi semacam pergantian administrasi kalau boleh diandaikan,” katanya.

Prosesi Ngantukang Bhatari Sri, menurutnya sederhana. Namun, tetap memerlukan pihak yang berwenang, dalam hal ini pinandita ataupun pandita. Sebab, menggunakan sarana berupa upakara dan harus benar tahapan dan prosesnya. 

“Secara umum, biasanya dilaksanakan oleh pinandita atau pamangku. Sehingga prosesnya berjalan secara baik dan benar,” ucapnya.

Mengenai upakara atau sarana ritualnya, biasanya dibuatkan banten khusus. Namun ada pula yang menggunakan pajati. Hal ini tergantung dari kebiasaan di daerah setempat dan pinandita yang bersangkutan. 

Setelah matur piuning, sebagai simbol pengalihan fungsi, maka sejumput tanah di masing-masing sudut area tersebut diambil dan diletakkan di atas daun dadap. “Nantinya tanah beserta banten tersebut dibawa ke Palinggih Bhatari Sri setempat. Di sana juga dilakukan matur piuning bahwa lahan yang diambil tanahnya tersebut dialihfungsikan untuk tempat bermukim,” kata pria 47 tahun ini.

Bagaimana jika hal ini tak dilakukan? Jro mangku asal Tabanan ini mengatakan, menurut kepercayaan akan berdampak buruk bagi penghuni. Misalnya sakit atau tertimpa musibah yang datang silih berganti. “Karena kita percaya bahwa sawah tersebut suci, maka jika digunakan untuk tempat tinggal, tentu akan berdampak lain atas aktivitas yang kita lakukan selama tinggal di tempat itu. Misalnya kotor karena aktivitas rumah tangga. Sehingga perlu dilakukan prosesi ini,” katanya.

Itu pula sebabnya, kata dia, di area sawah tak disarankan melakukan kegiatan yang bisa membuat kotor, baik sekala maupun niskala. “Secara sekala, logikanya tak sepatutnya kita mencemari sawah. Karena kan kita bergantung pada padi yang menjadi bahan konsumsi utama. Kalau sawah tercemar, maka bisa gagal panen, hasilnya tak maksimal, bahkan bisa meracuni orang yang mengonsumsi berasnya,” ujarnya.

Sementara secara niskala, menurutnya, kembali ke kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, khususnya petani yang memuja Bhatari Sri guna keberhasilan panen. Sehingga area persawahan sepatutnya dijaga dan dihindarkan dari aktivitas yang bisa membuat leteh atau kotor secara niskala.

 “Maka dari itu, tak salah jika ada yang beranggapan bahwa area sawah tenget. Sebetulnya setiap jengkal tanah tenget kalau kita percaya dengan kuasa Hyang Ibu Pertiwi. Jadi, baik-baik dan bijaklah mengelola tanah. Jangan karena mengejar keuntungan semata, tanah dicemari. Toh nanti yang terkena dampak ya kita sendiri,” tegasnya. 

Jro Mangku Pada juga berharap, jika memang tak betul-betul mendesak, hendaknya sawah tak dialihfungsikan. Sebab, Bali salah satunya terkenal karena sawahnya yang indah. Hal ini sebagai warisan dari tradisi agraris leluhur yang masih lestari hingga kini. 

“Meski dibolehkan, sebisanya janganlah (alih fungsi sawah). Mari kita jaga sawah untuk kelangsungan generasi. Apalagi mengingat jauh berkurangnya lahan terbuka hijau saat ini,” tandasnya. 

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP