Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Nusantara
icon featured
Nusantara

Khas Kampung Jawa; Berbuka Dengan Sate Puting Susu

19 April 2021, 10: 30: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Khas Kampung Jawa; Berbuka Dengan Sate Puting Susu

EMPUK: Setelah diolah Sate Susu terasa empuk. Sate ini berbahan dari puting susu sapi. Kuliner cirikhas Kampung Jawa. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Ketupat, gulai, kolak, kurma, merupakan sejumlah sajian khas yang tidak boleh dilewatkan saat Ramadhan. Kendati demikian, setiap daerah memiliki santapan khasnya masing-masing di saat bulan suci tersebut. Contohnya di Bali, tepatnya di wilayah Kampung Jawa, Denpasar, ada kuliner unik yang hanya bisa ditemukan saat bulan puasa yakni sate susu.

Berbeda dengan sate lainnya, sate susu di sini menggunakan bahan baku puting susu sapi. Yang menjadikannya istimewa, sate susu hanya bisa ditemukan saat bulan puasa saja. Menu kuliner ini cocok dipadu-padankan dengan menu takjil lainnya saat berbuka.

Ditemui lapaknya di Pasar Ramadhan, salah satu pedagang sate susu, Selamet, mengatakan sate susu memang khas di Bali saat bulan puasa. Terutama di Pasar Ramadhan yang digelar Masjid Baiturrahmah, akan banyak pedagang sate susu yang membuka lapak.

Baca juga: 600 Ribu Penduduk Bali Telah Disuntik Vaksin Covid-19

“Di pasar ini setiap bulan Ramadhan jualan sate susu. Hari-hari biasa ada yang jualan, tapi hanya beberapa orang. Saat Ramadhan ini banyak yang jualan. Sate susu ini memang khas di Kampung Jawa di bulan Ramadhan, di luar (Bali) jarang ada. Di sini sudah ciri khasnya,” ujar pria asli Madura tersebut, Minggu (18/4).

Selamet menjelaskan, sate susu menggunakan bahan baku dari kelenjar susu atau puting susu sapi. Yang kemudian diolah sedemikian rupa agar terasa empuk. Bedanya sate susu dengan sate lainnya yakni ada pada teksturnya. Sate susu sebelum diolah teksturnya sedikit keras. “Sate susu terbuat dari puting susu dari sapi. Jadi bukan air, bukan susu. Nanti dagingnya itu direbus lagi agar empuk,” katanya.

Saat Ramadhan, bahan baku sate susu ini akan sulit sekali dicari. Lantaran, tak sedikit orang yang berjualan makanan khas Ramadhan ini. “Karena Ramadhan banyak pedagang yang jualan sate susu jadi susah cari dagingnya. Harganya juga mahal. Hari-hari biasa peminatnya jarang, sedangkan saat Ramadhan jadi meningkat. Momennya pas dengan sate susu saat berbuka puasa,” tuturnya.

Satu tusuknya, Selamet menjual dengan harga Rp 2.000 sampai dengan Rp 2.500. Patokannya ada pada ketebalan dagingnya. Sedangkan untuk bumbu, Selamet menggunakan bumbu ganep racikan sang istri. “Untuk satenya saya pakai bumbu ganep. Itu istri yang siapkan semuanya, kalau saya tinggal bakar dan jual-jualin,” ungkapnya.

Pria yang mengaku sudah berjualan sate selama lima tahun ini mengungkapkan, dirinya hanya menjual sate susu saat Ramadhan. Sedangkan pada hari biasa, Selamet hanya menjual sate kambing.

“Jadi saya khusus jualan sate susu saat Ramadhan saja. Tidak tentu seharinya berapa (menyiapkan dagingnya). Karena dagingnya sudah disiapkan sebelum Ramadhan. Biasanya saya habiskan sekitar 40 kg dan kadang masih kekurangan lagi. Jadi stok jauh-jauh hari sebelum Ramadhan, disimpan di freezer, direbus, dan sebagainya. Karena saat Ramadhan susah, banyak yang nyari,” kata dia. “Tapi tahun ini saya kurangi stok daging karena pandemi. Selain itu pedagang sate susu saat Ramadhan juga sudah banyak sekali,” imbuhnya. (ika)

(bx/bay/yes/JPR)

 TOP