Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Permasalahan Desak Darmawati jadi Momentum Berharga

19 April 2021, 12: 48: 38 WIB | editor : I Putu Suyatra

Permasalahan Desak Darmawati jadi Momentum Berharga

Ketua APHB I Wayan Suartika, S.Ag., M.Ag (ISTIMEWA)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Ungkapan salah satu oknum dosen UHAMKA, Desak Made Darmawati yang menyinggung umat Hindu, khususnya di Bali tengah menjadi perbincangan hangat. Meski Desak Darmawati telah menyampaikan permohonan maaf, namun sejumlah pihak tetap menempuh upaya hukum. Permasalahan ini pun turut dikomentari Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB).

Ketua APHB, I Wayan Suartika, S.Ag., M.Ag sangat menyayangkan hal yang disampaikan Desak Darmawati pada ceramah 2019 tersebut. “Yang jelas kita menyayangkan sikap Bu Desak, yang membangun wacana kegaduhan dan melanggar Pancasila. Bahkan ini berpotensi mengganggu kerukunan beragama kita,” ungkapnya, Minggu (18/4).

Yang lebih membuat pihaknya geleng-geleng kepala, menurut Suartika adalah wacana yang dibangun merupakan kesalahan pemahaman Desak Darmawati terhadap konsep beragama masyarakat Hindu di Bali. Hal ini tentu bisa memicu kesesatan pemahaman, jika orang yang menyimak penyampaian Desak tak melakukan telaah dan kajian. Sebab, hal-hal yang disampaikan Desak keliru. Misalnya tentang Tuhan dalam agama Hindu yang disebut banyak. Begitu pula tentang upacara ngaben, soal reinkarnasi, dan sebagainya.

Baca juga: Sudah Kantongi Hak Paten, Produksi Kopi Biji Salak Masih Terbatas

Magister Brahma Widya IHDN Denpasar (kini UHN I Gusti Bagus Sugriwa) tersebut pun mengelus dada ketika Desak Darmawati yang sudah berpindah keyakinan menjelekkan agama leluhurnya bahkan Pulau Bali, tempat dirinya lahir. “Menurut saya, hal-hal yang diwariskan oleh leluhur, selama itu baik dan benar, sebagai anak bangsa wajib kita hormati. Bukan malah mencela. Apalagi seorang dosen, seharusnya mampu berhati-hati dalam berbicara. Selain itu, seharusnya memberi tuntunan yang baik, bukan malah mengumbar kebencian,” tegas pria asal Besakih, Karangasem ini.

Di sisi lain, Suartika yang merupakan mantan pengurus PD KMHDI Bali ini mengajak seluruh umat Hindu untuk juga melakukan introspeksi diri atau mulat sarira. Ia berharp agar permasalahan ini tak hanya dipandang dari sisi negatif belaka. “Setiap permasalahan, tentunya memiliki dua sisi. Sisi buruknya, permasalahan ini tentu menyakiti hati kita sebagai umat Hindu. Namun sisi baiknya adalah menguatkan kecintaan kita kepada agama Hindu,” ujarnya.

Untuk menunjukkan rasa cinta, selain beberapa pihak telah menempuh upaya hukum, menurut Suartika tak kalah penting untuk mempelajari agama Hindu secara lebih mendalam. Sehingga jangan sampai seperti Desak Darmawati yang tak memahami agama Hindu, nantinya tersandung permasalahan gara-gara kesalahpengertiannya. “Mari kembali bersama-sama belajar tentang agama Hindu. Kita kuatkan pemahaman dengan belajar dan terus belajar. Sehingga pemahaman kita tidak dangkal,” ajaknya.

Hal ini juga mengingatkan pentingnya edukasi sejak dini tentang agama Hindu di internal keluarga. Sehingga praktik keagamaan semakin jelas dipahami oleh generasi, terutama generasi muda. “Ini perlu dibiasakan. Misalnya orang tua meluangkan waktu setiap minggu berdiskusi dengan anak-anak tentang agama Hindu. Mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya Tri Sandhya, tattwanya apa, susilanya seperti apa, acaranya bagaimana. Kemudian soal sanggah merajan, banten saiban, dan lainnya. Ini kan hal-hal yang ada di sekitar kita,” ujarnya.

Selain itu, menurut pria yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial ini, umat perlu berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan umat Hindu lainnya. Hal ini akan semakin memperluas pengetahuan dan kebijaksanaan. “Sekarang kan sudah dimudahkan dengan media sosial. Berbagai hal keagamaan, kita bisa diskusikan. Misalnya ada hal-hal yang belum kita pahami tentang Hindu, manfaatkan media sosial untuk berdiskusi. Bisa juga berbagi pengalaman dengan saudara-saudara kita di daerah lain. Misalnya ada masalah yang perlu dicarikan solusi. Sehingga jalinan komunikasi ini akan semakin menguatkan solidaritas dan kualitas kita,” tegasnya.

Suartika pun berharap atas permasalahan ini, masyarakat Hindu semakin dewasa dalam berpikir, berbicara, maupun bertindak. Kekecewaan menurutnya manusiawi, namun cara menanggapi permasalahan tersebut akan menunjukkan kualitas diri umat Hindu. “Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai hal ini menyulut kebencian kepada umat agama lainnya. Biarkan langkah hukum yang telah ditempuh saudara-saudara kita berjalan sesuai aturan. Jangan sampai kita melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum,” tandasnya.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP