Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Soma Pamacekan Agung, Leak Kumpul Bahas Tumbal dan Hukuman  

20 April 2021, 07: 23: 10 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Soma Pamacekan Agung, Leak Kumpul Bahas Tumbal dan Hukuman   

Putu Agus Panca Saputra alias Jro Panca. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Lima hari pasca Buda Kliwon Dunggulan atau Galungan, umat Hindu mengenal dengan istilah Soma Pamacekan Agung. Hari yang jatuh saat Soma Kliwon Wuku Kuningan ini, dianggap hari keramat bagi umat Hindu, khususnya di Bali. 

Soma Kliwon Wuku Kuningan diyakini waktu yang tepat bagi orang yang mendalami ilmu pangleakan untuk melakukan pertemuan secara niskala.

Penekun spiritual Putu Agus Panca Saputra yang dikenal dengan nama Jro Panca, 30, mengatakan, kata Pamacekan Agung berasal dari kata Pacek atau menancapkan sebuah tapa. Sedangkan kata Agung berarti besar, mulia, kuat atau teguh. 

Baca juga: Alokasi DAU Berkurang, Tabanan Pangkas Anggaran 12 Kegiatan 

Pelaksanaan Soma Pemacekan Agung merupakan satu rangkaian dari Hari Raya Galungan dan Kuningan. Saat Pamacekan Agung diyakini sebagai momentum penguatan diri bagi umat Hindu terhadap godaan Sang Kala Tiga, sehingga Sang Kala Tiga dapat disomya agar kembali ke sumbernya.

Dikatakan Jro Panca, secara filosofis Pamacekan Agung mengandung makna, bahwasanya hari ini manusia diingatkan agar kemenangan yang telah diperoleh melalui pertempuran melawan Adharma, agar dijadikan sebagai tonggak kebangkitan kesadaran diri. Kemudian sebagai pengukuhan komitmen untuk selalu menjaga martabat kemanusiaan, dan menghindarkan diri dari momo angkara.

Penjelasan tentang Soma Pamacekan Agung, sebut Jro Panca, bisa ditelisik dalam Lontar Dharma Kahuripan. Dimana, Pamacekan Agung disebutkan : Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma. 

Kutipan ini memiliki makna : Pamacekan Agung, namanya demikian adalah pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sanghyang Dharma.

“Tapa yang dimaksud adalah proses pengendalian diri. Untuk menuju Sang Hyang Dharma. Jadi Pamacekan Agung tidak selalu konotasinya negatif,” ujar Jro Panca kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Selain itu, dalam Lontar Sundarigama juga dijelaskan : Soma Kliwon, pemancekan agung ngaran, masegeh agung ring dengen, mesambleh ayam samalulung, pakenania. Ngunduraken sarwa bhuta kabeh. Artinya, saat Senin Kliwon (wuku Kuningan) adalah Hari Raya Pamacekan Agung. Ketika sore, patut mempersembahkan segehan agung di depan pintu keluar rumah yang dilengkapi sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada Bhuta Kala beserta pengiringnya agar kembali ke tempatnya.

“Yang dimaksud ayam semalulung itu adalah seekor ayam pitik yang baru turun (menetas) sebelum tujuh hari,” imbuh Jro Panca.

Lalu, mengapa Soma Pamacekan Agung kerap dikeramatkan? Pria yang rutin mengisi konten Youtube Taksu Poleng ini menuturkan, Soma Pamacekan Agung erat kaitannya dalam konsep kawisesan. Dimana, saat Pamagpag Pamacekan Agung atau Redite Kuningan (sehari sebelum Soma Pemacekan Agung) kerap dijadikan ajang unjuk gigi bagi para Leak Pamoroan.

“Leak Pamoroan itu maksudnya Leak yang belajar tanpa sastra. Misal bisa ngaleak karena nguntal, pekakas, panangkeb, pangaseng. Ini yang dikonotasikan sebagai Leak Pamoroan. Mereka biasanya jadi binatang,” bebernya.

Saat Pamagpag Pamacekan Agung, biasanya yang dibahas oleh para Leak itu tentang kantah (tumbal). Ia mencontohkan seperti Leak yang tidak pernah memberikan kantah. Jadi akan menjadi ajang rapat secara niskala bagi para Leak Pamoroan.

Sedangkan, saat Pamacekan Agung, biasanya dimanfaatkan para Leak yang belajarnya melalui kawisesan, nyastra atau Dharma Weci. Sore hari saat Soma Pamacekan Agung juga dijadikan ajang menghukum para Leak yang belajar pangleakan tanpa menggunakan pakem atau agem-ageman, sehingga kerap dilanggar.

“Biasanya ada Bedhawa Pangleakan. Seperti aturan khusus bagi para Leak. Misal binatang tidak boleh dicetik. Kadang ada tetangga yang iri, lalu babinya yang dicetik. Nah itu tidak boleh. Melanggar aturan dan bisa kena hukuman,” jelasnya.

Menariknya, para Leak yang dihukum akan menjalani peradilan. Sehingga dikenal dengan pamatut atau pembalik sumpah. Jro Panca menyebut, biasanya upacara itu dilakukan di Pura Dalem, Prajapati, dan Pamuunan. 

Di sisi lain, ada sejumlah pantangan yang harus dihindari bagi orang-orang pada umumnya saat Soma Pamacekan Agung tiba. Diantaranya tidak boleh potong rambut, potong kuku hingga keramas. Karena diyakini kalau melakukan hal itu bisa disebut kekaranan. “Artinya bisa badan kita dipinjam, sehingga kelihatan kita seolah bisa ngaleak. Ini harus diwaspadai,” bebernya.

Ia juga tak menampik, di masyarakat kerap muncul mitos untuk tidak keluar saat sandikala ketika Soma Pamacekan Agung. Pertimbangannya, karena masyarakat sedang menghaturkan lelabaan atau sesajen. Sehingga energi negatif tidak masuk ke pekarangan rumah. “Jadi, kalau mampu melewati momentum ini, sehingga selamat sampai saat Kuningan, barulah melakukan perayaan sebagai simbol kemenangan,” pungkasnya.

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP