Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Menghitung Tuhan

Oleh: IK Budiasa*

20 April 2021, 14: 12: 49 WIB | editor : I Putu Suyatra

Menghitung Tuhan

IK Budiasa (Sekjen ICHI) (ISTIMEWA)

Share this      

RAMAI lagi. Lagi dan lagi. Ada orang yang merasa begitu istimewa, benar, cerdas dan beruntung karena Tuhannya satu. Tak cukup merasa beruntung, dia bahkan mengejek orang lain “kok Tuhannya banyak”, begitu katanya, di podium, diiringi tawa orang-orang yang mendengarkan ceramahnya.

Sejatinya, biji rambutan juga satu. Tapi biasa saja. Pohon kara juga satu, malah dijadikan istilah “sebatang kara” yang mengingindikasikan kesedihan. Jadi satu atau sejuta bisa sama-sama istimewa, tergantung konteksnya. Begitu juga ketika angka itu disematkan sebagai bilangan yang mengindikasikan “jumlah Tuhan”.

Pertanyaannya, apa sih Tuhan itu? Apakah Ia semacam mahluk langit dengan cambuk hukuman di satu tangan bagi mereka yang tidak percaya, dan gula-gula hadiah di tangan lain bagi mereka yang tunduk dengan puja puji? Dan Dia harus menjadi satu-satunya, seperti raja yang menuntut kesetiaan mutlak tanpa ruang untuk yang lain?

Baca juga: Sepi Pembeli, Pedagang Pasar Sukawati Pilih Tinggalkan Pasar Relokasi

Dalam ajaran Hindu, Tuhan disebut Achintya. Tak terpikirkan. Dalam Weda disebut Brahman. Tak ada patung, tak ada rupa, tak ada sifat untuk Brahman ini. Tak ada identitas apa pun. Tak terjangkau, tak terkatakan. Weda tertua menyebut “ekam sat wiprah bahuda wadanti”. Ia satu tapi orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Apakah “satu” itu seperti biji rambutan atau pohon kara? Di situlah barangkali bedanya. Dalam Upanishad dikatakan, Tuhan seperti garam yang larut dalam air. Ia larut, ada dan memberi rasa bagi tiap butir atom ciptaannya. Dalam Gita Ia berkata “Akulah panas pada api, Aku rasa pada air, Aku adalah pemberi hidup pada yang hidup”.

Kalau Ia ada dalam dan sekaligus di luar, lebih besar dari semua ciptaan, seperti air yang memenuhi samudra — ada di luar dan di dalam ikan-ikan yang hidup di tengahnya, masuk ke pori-pori karang, menguap menjadi mendung, turun menjadi hujan, diserap akar dan dedaunan, mengalir ke sungai-sungai, danau-danau, masuk ke rumah-rumah menjadi air minum dan untuk mandi — lalu bagaimana menjawab pertanyaan “berapa jumlah air di bumi?”

Dijawab dengan angka 1, benar karena semua air mengandung zat yang sama. Sama-sama cair. Bilang tak berhingga juga benar karena air mineral beda rasa dengan air hujan, air kelapa beda rasa dengan air perasan jeruk. Beda pula dengan air semangka dan air kencing. Bila untuk menjawab pertanyaan “berapa jumlah air” saja begitu sulit, apalagi menjawab pertanyaan “berapa jumlah Tuhan” yang Dia dipercaya memenuhi air, api, udara, pertiwi dan kehampaan, lebih besar sekaligus memenuhi setiap pori-pori semesta?

Bila Dia begitu MAHA hingga melampaui segala bentuk, sifat, nama, rupa, maka sesungguhnya angka pun tidak dapat mewakili keberadaannya. 1, 2, 100, 100000000, tak ada yang bisa menggambarkan-Nya.

Weda memang menyebutNya dengan Eka, Esa, tetapi Ia juga sekaligus memenuhi semesta tanpa ada noktah yang alpa dari kehadiran-Nya. Ia ada di dalam dirimu, diriku, dalam seorang suci dan dalam seorang pendosa, dalam pertapa dan dalam seekor kera. Lalu bagaimana angka dapat mewakili-Nya?

Maka kita hanya mengenal-Nya melalui manifestasinya. Bila yang tak terpikirkan itu disebut Nirgunam, maka manifestasinya kita sebut Sagunam. Dalam udara kita panggil Dia sebagai Bayu. Dalam api kita sebut Dia sebagai Agni. Dalam pengetahuan kita sebut Dia sebagai Saraswati. Dalam kebijaksanaan kita memanggil-Nya Ganesa. Dalam penciptaan kita memuja-Nya sebagai Brahma, dalam pemeliharaan sebagai Wisnu, dan dalam peleburan sebagai Siwa. Dan lainnya, dan sebagainya.

Itulah pemahaman kita, Hindu, tentang Tuhan sesuai Weda. Kita tidak perlu merasa minder karena tidak terbiasa menghitung jumlah Tuhan, karena Ia memang melampaui hitungan, angka, atau apa pun yang mampu dipikirkan manusia. Kita tidak perlu memperlakukan-Nya seperti seekor ayam jago: dielus, dibanggakan sebagai yang terhebat, satu-satunya, tidak ada yang menyamai, memuji-mujinya tiap waktu, tetapi memenjarakannya dalam sangkar kecil.

Dan, yang terpenting, meski tak bisa menghitung jumlahnya, kita bisa dengan jernih menerima ajaran-ajaran etisnya. Tri Kaya Parisudha, Catur Paramitha, Tat Twam Asi, Ahimsa, dan lain sebagainya. Karena dalam hidup, kita tidak mempertandingkan Tuhan. Kita mempertandingkan pikir, ucap, dan laku kita. Seberapa Tuhan yang kita yakini itu men-drive kita pada kebaikan2, dan seberapa ajarannya itu menuntun kita pada kemajuan spiritual. (*)

Sekjen Ikatan Cedikiawan Hindu Indonesia (ICHI)

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP