Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ini Alasan Edy Sulikantoro Memeluk Hindu Hingga Jadi Pemangku

20 April 2021, 16: 06: 24 WIB | editor : Nyoman Suarna

Ini Alasan Edy Sulikantoro Memeluk Hindu Hingga Jadi Pemangku

PINDAH AGAMA : Setelah memeluk agama Hindu, kini Edy Sulikantoro menjadi pemangku di Merajan Gede Pasek Dangke . (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Perjalanan hidup Edy Sulikantoro memang penuh lika-liku. Ia dilahirkan di Singaraja dan beberapa kali berpindah tempat tinggal karena menjalankan tugas sebagai polisi hutan. Ketika menjalankan tugas di Kabupaten Klungkung, ia bertemu dengan pujaan hati, Ni Made Artini yang dipacarinya selama 6 tahun.

Membangun hubungan yang cukup lama, membuat Edy yakin untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Namun sayang, keduanya memiliki keyakinan yang berbeda. Edy  merupakan seorang muslim dan Ni Made Artini  memeluk agama Hindu.

Ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (20/04) siang, Edy mengungkapkan, rasa cinta dan sayang yang dimiliki oleh Edy membuatnya berniat untuk melamar sang kekasih. Orang tua Made Artini mengizinkan Edy menikahi anaknya, dengan syarat  Edy mau berpindah agama karena sang kekasih tidak memiliki saudara laki-laki. “Saya rundingkan dengan keluarga terutama orang tua, tetapi ayah menyerahkan tanggung  jawab dan keputusan itu kepada saya.  Saat itu saya berpikir bahwa semua agama sama selama kita tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya,” jelasnya.

Baca juga: Menghitung Tuhan

Setelah mendapatkan restu, Edy akhirnya memutuskan untuk melakukan Sudhi Wadani yaitu upacara masuk agama Hindu yang dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Kekeran di Griya Kekeran Blahbatuh, Gianyar.

Proses selanjutnya juga dilakukan upacara Nelu Bulanin dan Matatah, sebelum akhirnya ia menikah dengan Ni Made Artini. Pada tahun 2008, ia juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari Polisi Hutan Taman Nasional Bali Barat, Gilimanuk.

Sejak memeluk Hindu, Edy selalu melaksanakan kewajiban sebagai umat Hindu dengan rajin ngayah ke Pura. Bahkan setelah menikah, hubungan ia dan keluarganya di Jawa pun nampah kian harmonis. Tak ada sekat di antara keluarga istri dan keluarga besarnya di Jawa. Bahkan ia selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung ke Jawa sambil melakukan tirta yatra.

“Setiap tahun menjelang hari raya, ketika ada tradisi nyekar di Jawa, saya selalu menyempatkan diri untuk bersilahturahmi. Dari sini saya belajar bahwa berpindahnya agama saya, tidak menjauhkan saya dengan keluarga, bahkan justru mendekatkan keluarga saya di Bali dan di Jawa,” ungkapnya.

Ketekunannya terhadap agama yang saat ini dipeluk, membuat Edy selalu menyempatkan diri untuk bertirta yatra ke pura-pura yang ada di Jawa ketika pulang kampung. Ketika tangkil ke Pura Bukit Amertha, Desa Kalangdoro, Kecamatan Tegal Sari, Banyuwangi, ia mengalami kerauhan dan meminta genta kepada Romo Mangku yang ada di sana. Namun aneh, Edy yang tidak paham dengan itu dengan fasih melafalkan mantra-mantra. “Setelah kejadian itu saya memohon petunjuk dengan Romo Mangku di  Pura Bukit Amertha dan diminta untuk sungkem di palinggih yang ada di sana,” ungkapnya.

Kejadian aneh tidak sampai di sana. Ketika sudah kembali ke Bali, tiba-tiba di rumahnya ia didatangi oleh seseorang yang mau berobat secara niskala. Ia mulai kebingungan tetapi mengiyakan permintaan orang tersebut untuk mengobatinya. “Tiba-tiba bibir saya bergerak sendiri dan menjelaskan sakit orang tersebut. Kejadian itu terus terjadi dan berulang-ulang,”ungkapnya.

Semenjak kejadian itu, Edy akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri dengan mawinten. Ia diwinten oleh Ida Pandita Dukuh Acharya Daksa dari Griya Padekuhuan Samiaga, Penatih. Pada tahun 2014, Edy akhirnya diwinten menjadi pemangku pinandita dengan nama Jro Mangku Dwi Anantaboga. “Dengan tuntunan Nabe yang mengajarkan terkait tata titi kawikon, saya banyak mendapat pelajaran,” ujar Jro Mangku Dwi Anantaboga.

Setelah tiga tahun berjalan menjadi pemangku pinandita, ia didatangi panglingsir dari Merajan Gede Pasek Dangke di Blahbatuh untuk ngayah di sana.

“Dari perjalanan saya masuk Hindu hingga menjadi pemangku saat ini, saya berpesan kepada umat yang berpindah agama agar meyakini dan menekuni agama yang baru tanpa menistakan agama yang lainnya,” pungkasnya.

(bx/man/man/JPR)

 TOP