Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Poliklinik Komplementer RSUP Sanglah, Penyembuhan Dengan Energi Prana

20 April 2021, 18: 06: 28 WIB | editor : Nyoman Suarna

Poliklinik Komplementer RSUP Sanglah, Penyembuhan Dengan Energi Prana

NON MEDIS : Penanggung jawab Poliklinik Komplementer dan Homecare RSUP Sanglah, dr. Ketut Ayu.MARS. sedang mengobati pasien dengan metode prana healing. (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS- Selain pelayanan pengobatan medis di Poliklinik dan IRD, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah juga memiliki satu layanan yang sifatnya non medis namun bukan layanan klenik. Ialah Poliklinik Komplementer dan Homecare RSUP Sanglah yang berlokasi di gedung Wings Internasional lantai II. Seperti apa layanan di poliklinik ini?

Penanggung jawab Poliklinik Komplementer dan Homecare RSUP Sanglah, dr. Ketut Ayu.MARS., ketika ditemui Selasa (20/4) mengatakan di poliklinik ini ada tiga layanan yang diberikan yakni layanan Prana Healing, layanan Hipnoterapi, layanan akupuntur. "Di poliklinik ini, kami memberikan layanan  kesembuhan dengan energi prana, energi yang berasal dari alam semesta, terapinya pun untuk semua penyakit baik itu penyakit fisik ataupun penyakit yang sifatnya psikis yang disebabkan oleh stress," jelasnya.

Untuk energi prana sendiri, diakui dr. Ayu di masyarakat Bali memang sudah dikenal sebagai salah satu metode penyembuhan, namun selama ini praktik penyembuhan dengan menggunakan prana healing masih termasuk pada metode pengobatan alternatif. Namun sejak bulan Desember 2019 lalu, melalui Permenkes RI nomor 37 tahun 2017, tentang pelayanan kesehatan tradisional dan komplementer yang terintegrasi, RSUP Sanglah memiliki pelayanan terapi penyembuhan dengan energi prana atau prana healing.

Baca juga: Ini Penawaran Honda Bali Virtual Exhibition Sales Program

Untuk proses penyembuhannya, dr. Ayu yang sudah menjadi dokter di RSUP Sanglah sejak tahun 1994 ini mengatakan prosesnya sendiri memang sedikit berbeda dari proses penyembuhan terapi medis pada umumnya. "Hal ini karena proses penyembuhan dengan energi prana ini didasarkan pada penyembuhan yang didasarkan pada struktur tubuh manusia yang terdiri dari dua lapisan, yakni tubuh fisik dan tubuh bioplasmik atau tubuh energi yang tidak tampak," paparnya.

Tubuh bioplasmik ini terdiri dari 11 Cakra mayor yang letaknya mulai dari ubun-ubun sampai dengan lubang anus. 11 Cakra mayor ini berfungsi untuk mengatur dan menciptakan energi untuk tubuh bioplasmik manusia. 

Selama satu tahun keberadaan klinik ini di RSUP Sanglah, dr. Ayu mengakui pasien yang datang ke poliklinik ini sangat banyak dengan berbagai kondisi fisik dan psikis. Untuk penyakit medis, pasien yang datang mulai dari pasien kanker, penderita penyakit kekentalan darah, pasien TBC, pasien keterlambatan tumbuh kembang hingga pasien covid. 

Khusus pada pasien covid-19 ini, dr. Ayu menegaskan pasiennya tidak datang ke poliklinik namun diobati dengan metode pengibatan jarak jauh dengan mengirimkan energi pran ke pasien covid. "Selama ini, banyak pasien covid yang sudah merasa lebih baik dengan metode pengiriman energi prana ini," paparnya. 

Lantas bagaimana cara kerja dari prana healing ini, sehingga mampu menyembuhkan seseorang? Ibu dokter yang pernah menjabat sebagai kepala instalasi Radioterapi RSUP Sanglah ini  menjelaskan dalam proses penyembuhan, seorang healer akan memperbaiki energi tubuh pasien dengan menggunakan sumber energi dari alam. "Ketika proses terapi, kami akan mengarahkan pasien ke posisi rileks dengan bantuan musik meditasi om, kenapa menggunakan meditasi om? Karena sudah ada penelitian, meditasi Om ini mampu membersihkan energi negatif dan menciptakan energi positif," urainya. 

Dalam prosesnya, dr. Ayu menggunakan kristal bening sebagai perantara healer, kristal ini akan digunakan untuk membersihkan energi negatif yang ada di tubuh pasien dan memasukkan energi positif yang ada di alam semesta melalui kristal tersebut. 

Nengah Merta, 33, asal Karangasem mengakui mendapat efek kesembuhan yang langsung ketika melakukan berobat di poliklinik ini. "Saya menderita penyakit pengentalan darah, sehingga saya harus melakukan penyedotan sel darah merah dua Minggu sekali sejak tiga tahun lalu, setelah melakukan terapi ini sejak dua bulan lalu, saya sudah tidak melakukan penyedotan sel darah merah lagi dan ketika kontrol ke internis, darah saya sudah dinyatakan normal," ungkapnya.

(bx/gek/man/JPR)

 TOP