Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Penuntut Umum Tolak Eksepsi Oknum Sulinggih yang Didakwa Pencabulan

20 April 2021, 19: 13: 19 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Penuntut Umum Tolak  Eksepsi  Oknum Sulinggih yang Didakwa Pencabulan

WAYAN : I Wayan Mahardika yang didiksa dengan nama Ida Pandita Nabe Bagawan Rsi Agung Sidimantra,  jalani sidang secara online di Pengadilan Negeri Denpasar, Selasa (20/4). (Suharnanto/Bali Express)

Share this      

DENPASAR,BALI EXPRESS - I Wayan Mahardika yang didiksa dengan nama Ida Pandita Nabe Bagawan Rsi Agung Sidimantra, kembali jalani sidang secara online di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (20/4).

Terdakwa yang didampingi tim kuasa hukumnya, menjalani sidang dari ruang penyidik Polda Bali dengan mengenakan pakaian serba hitam itu, dalam agenda mendengar tanggapan  Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas eksepsi dari pihak terdakwa. 

Kasi Intel dan Humas Kejari Denpasar, Kadek Hari Supriadi membenarkan jika pihak Jaksa menyampaikan tanggapan secara singkat atas nota keberatan atau menolak isi dari dakwaan pihak terdakwa. "Sidang masih tertutup dan masih dilakukan melalui sidang online," jelas Supriadi.

Baca juga: Out of Control, Pick Up Bermuatan Ikan Segar Terbalik

Dikatakannya, bahwa jaksa  Purwanti dan IA Sulasmi dihadapan hakim I Made Pasek,  pada intinya menolak semua eksepsi pihak terdakwa dan menyatakan surat dakwaan sudah memenuhi syarat formil dan materiil.

"Selain itu, Pengadilan Negeri Denpasar telah sesuai kompetensi relatif untuk mengadili perkara yang menjerat terdakwa ," jelasnya.

Secara rinci poin dari tanggapan JPU, menyatakan eksepsi penasihat hukum terkait kompetensi relatif PN Denpasar tidak dapat diterima dikarenakan mengacu kepada Pasal 84 ayat (2) KUHAP, PN Denpasar berwenang mengadili dikarenakan di Denpasar terdakwa ditahan.

Eksepsi yang menyatakah salah menentukan subjek, tidak dapat diterima dikarenakan identitas terdakwa telah dibacakan dalam persidangan dan membenarkan semua keterangan.

"Poin yang terakhir, bahwa eksepsi yang menyatakan tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap. Sebenarnya sudah masuk meteri pembuktian," tegasnya.

Sebagaimana diketahui bahwa terdakwa oleh JPU dalam dakwaannya dijerat dengan Pasal 289, 290 ayat (1) dan Pasal 281KUHP atas dugaan tindak pidana pencabulan.

Terdakwa diadili terkait adanya laporan dari korban atas dugaan pencabulan yang terjadi pada Sabtu dini hari, 4 Juli 2020 sekira pukul 01.00 Wita di Tukad Campuhan Pakerisan Desa Tampak Siring, Gianyar. 

Dugaan pelecehan itu dilakukan saat korban jalani ritual palukatan (pembersihan) yang mana terdakwa bertindak selaku penyembuh. Saat ritual itu, korban hanya mengenakan dalaman celana pendek boxer tanpa mengenakan busana. 

Tubuh korban diselimuti atau ditutupi oleh kain atau kemben sampai di dada. Untuk diketahui juga bahwa pria yang lahir di hari Kemerdekaan RI tahun 1983, itu, oleh pihak Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, ditegaskan jika padiksaan terdakwa tanpa mendapat rekomendasi dari pihak PHDI setempat.

Mengenai permohonan pihak terdakwa untuk menjalani tahanan rumah dan sidang offline dikatakan Juru Bicara II PN Denpasar, Made Putra Astawa, bahwa permohonann terdakwa masih dipertimbangkan oleh majelis hakim, termasuk soal permintaan sidang offline saat dihadirkannya saksi-saksi nantinya. 

(bx/har/rin/JPR)

 TOP