Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Rumah Hangus, 11 Anggota Keluarga Terpaksa Tidur di Gudang Rombengan

20 April 2021, 20: 06: 24 WIB | editor : Nyoman Suarna

Rumah Hangus, 11 Anggota Keluarga Terpaksa Tidur di Gudang Rombengan

MENGUNGSI : Kondisi tempat tinggal sementara keluarga pemungut rombengan, paska rumahnya terbakar. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Sungguh malang nasib keluarga pemungut rombeng asal Probolinggo, Jawa Timur yang bermukim di Banjar Dinas Kelodan, Desa Bengkala. Sebab, rumah semi permanen yang dihuni selama kurang lebih 5 tahun itu ludes dilahap Si Jago Merah pada Sabtu (17/4) lalu. Kebakaran terjadi sekitar pukul 00.30 Wita. Kala itu seluruh anggota keluarga yang berjumlah 11 orang dari 4 Kepala Keluarga (KK) itu hendak pergi tidur. Baru saja memasuki kamar dan membaringkan badan di atas kasur untuk melepas penat usai bekerja, tiba-tiba dikejutkan oleh salah satu anggota keluarga yang melihat api. Seluruh anggota keluarga berhamburan keluar. Dengan cepat api yang berasal dari kamar kosong di dalam rumah itu membesar dan menghanguskan seisi rumah. Tidak saja itu, satu unit mobil pick up yang digunakan untuk mengangkut rombengan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bengkala juga turut ludes. Selain itu, 12 unit tv bekas yang masih bisa digunakan tak luput dari kobaran api yang mengamuk melahap seluruh bangunan dengan luas sekitar 1 are tersebut.

Mendapat informasi musibah kebrana yang menimpa penduduk pendatang degan 11 orang anggota keluarga, Koran ini langsung mendatangi lokasi kejadian dan menemui keluarga. Dengan dipandu Kepala Dusun Banjar Dinas Kelodan, Desa Bengkala, Nyoman Lakra, Koran ini menuju ke sebuah gudang. Lokasinya berada dipinggir jalan. Dari luar nampak sebuah gudang yang hanya beratapkan seng dan juga berdinding seng. Di dalam terlihat beberapa tumpuk karung yang isinya rombengan yang nantinya akan diserahkan kepada pengepul.

Mohamad Hari (31) salah satu kepala keluarga saat ditemui di gudang rombengan nampak tegar. Dengan menggunakan baju kaos dan sarung kotak-kotak ia menyapa koran ini dengan ramah. Ia mempersilahkan untuk berkeliling melihat situasi rumah yang tinggal abu. Tak satu pun barang yang mereka miliki terselamatkan dari amukan api.

Baca juga: Penuntut Umum Tolak Eksepsi Oknum Sulinggih yang Didakwa Pencabulan

Hari menuturkan, dirinya sangat panik saat kejadian kebakaran yang menghabiskan seisi rumah. Cita-cita merayakan Lebaran di kampung halaman tercinta terpaksa pupus dan harus tetap berada di Buleleng. “Nanti rencana masih tinggal disini dulu. Tidak bisa mikir hari raya sudah. Ini mau dibersihin dulu. Disembahyangin dulu tempatnya baru bisa dibangun lagi. Udah gak mikir apa-apa. Gak bisa pulang kami.  Kami masih bersih-bersih dulu. Menyelesaikan ini dulu. Yang bisa dijual ya jual,” kata dia.

Selain rumah dan isinya, tabungan rombengan yang rencananya dijual saat hari raya pun turut hangus. Sebagian barang yang mereka tabung selama berbulan-bulan itu merupakan barang-barang yang memiliki nilai jual tinggi. “Sebagian yang sudah siap jual juga ikut kebakar. Yang kebakar itu yang mahal-mahal. Kayak kuningan, tembaga, alumunium. Kalau dijual harganya lumayan tinggi. Bisa sampae Rp 80 ribu. Paling jelek kerugian sampe Rp 40 juta lah dari kalkulasi sendiri. Tidak terhitung berapa karung. Yang mahal-mahal semua kebakar. Alumunium itu mbak semua meleleh. Itu barang stok. Semuanya habis. Hp semua juga hangus. Syukur masih ada satu yang tersisa. Sama sekali belum sempat terjual. Biasanya yang harga super kami stok dulu. Pas hari raya baru kami jual. Barang itu tabungan kami. Kalau tidak punya uang, punya barang ya kami jual. Enak seperti itu. Sekarang sudah meleleh semua. Lebih dari 3 bulan kami kumpulkan barang-barang itu,” lanjutnya.

Saat api melalap tempat tinggalnya, ia dan anggota keluarga lainnya sempat membantu memadamkan api agar tidak merembet ke tempat lain. Namun apa daya, besarnya api dan lingkungan yang mudah terbakar membuat mereka kewalahan dan tidak bisa memadamkan. Beruntung 3 unit mobil pemadam kebarakan dengan cepat tiba dilokasi sehingga api dapat ditaklukkan. “Sempat kami bantu padamkan api tapi gak bisa. Apinya sudah sangat besar. Dalam rumah tidak ada sampah-sampah pilahan. Ada banyak barang di mobil pas baru ngambil dari TPA. Ikut terbakar juga. Yang sekarang kami pakek sumbangan dari teman-teman sini. Warga sini juga. Rencana kami lebaran di kampung. Rumah ini semi permanen. Dinding dari bedeg dan seng. Atap seng. Alas plesteran. Dasarnya batako sedikit. Tidak bagus mbak, setelah plesteran itu langsung kasur pakek kami tidur. Ya namanya orang rombengan mbak. Kasur-kasur itu juga dapat mulung di TPA,” tambahnya.

mirisnya lagi, anak bungsu Hari yang berusia 3 tahun sempat tertinggal di dalam rumah saat terbakar. Karena tingkat kepanikan yang tinggi, Hari tak sengaja meninggalkan anaknya untuk memutus aliran listrik dirumahnya. Beruntung istrinya dengan sigap membopong putri bungsunya itu. “Anak saya yang umur 3 tahun Sophie sempat tertinggal di dalam rumah saat kebakaran. Saya panik. Ingatnya matiin lampu aja. Anak saya gak ingat. Pas udah matiin lampu baru ingat tanya sama istri saya, anak saya mana. Pas lihat oh masih ada. Dan sudah diambil, baru bisa tenang saya,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Keluarga lainnya, Budiono (52) yang juga tinggal dirumah tersebut menceritakan, di rumah itu dihuni oleh 8 KK. Namun sebanyak 4 KK telah mendahului pulang kampung ke Probolinggo sejak memasuki bulan puasa. Yang tersisa hanya 4 KK saja. Menurut rencana 4 KK bersama 11 anggota keluarga lainnya ini akan turut pulang kampung juga saat lebaran. “Yang tinggal disini 4 KK. Sebelumnya ada 8 KK. 4 KK lainnya sudah pulang ke Jawa. Kemudian 4 KK yang terkena musibah beranggotakan 11 orang. Anak-anak 3 dan sisanya 8 orang dewasa. Sudah sampai 5 tahun tinggal disini. Keseharian memang sortir sampah di TPA Bengkala,” terangnya.

Budiono dan keluarga lainnya pun masih belum mengetahui penyebab pasti kebakaran yang membuat mereka keilangan tempat tinggal itu. Api secara tiba-tiba membesar dan memberangus semua yang ada dalam rumah, termasuk mobil dan 12 unit tv. “Apinya datang dari kamar kosong. Yang sebelumnya ditempati keluarga yang pulang kampung. Belum tau ya. Gak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba ada api. Pokoknya gak tau udah tiba-tiba terbakar. Tapi kemungkinan prediksi kami karena konsleting listrik sih. Yang terbakar semuanya. Mobil 1, tv ada 12 unit. Rencananya mau kami bawa pulang kampung. Kami kan pungut rongsokan, kalau ada tv bekas masih hidup kami ambil. Kami kumpulkan. Tapi terbakar semua. Kasur juga habis, pakaian, kelengkapan administrasi, surat nikah, SIM, KK semua. Apalagi uang. Hangus semua. Tinggal sarung yang nempel dibadan aja sudah. Mobil itu milik salah satu pengepul barang di singaraja. Awalnya tinggal dimana-mana. Kami masih ada hubungan keluarga semua ini. Dari Problinggo. Kami datang kesini memang mau kerja sortir-sortir plastic gitu,” ujarnya sembari menyesap rokok yang terlihat seperti puntungnya saja.

Disisi lain, penganggung jawab keluarga pemulung tersebut, Jro Wayan Rentiasa saat ditemui mengaku bersyukur tidak ada korban jiwa dalam musibah yang menimpa anak buahnya itu. Ia pun masih mengijinkan keluarga tersebut untuk tinggal di gudang rombengan yang berlokasi tepat di samping rumah yang terbakar. “Yang terpenting bagi saya tidak ada korban nyawa. Kalau harta ya bisa dicari. Sementara nanti saya akan sekat-sekat gudang ini untuk dipakai sebagai tempat tinggal sementara. Peneybab kebakaran masih belum diketahui. Polisi juga belum tau. Sementara mereka tinggal di gudang pemilahan sampah dulu sambil bersih-bersih bangunan yang terbakar itu. Yang namanya musibah tidak bisa dihindari. Akan diupacarai dulu tempatnya secara umat hindu. Karena saya yang ngontrak adalah hindu. Nanti akan dibangun lagi. Semoga nanti setelah diupacarai tidak terjadi kebakaran lagi. Lahan ini milik orang Cina tinggal di Denpasar. Jadi saya ngontrak dari dia dan diawasi oleh orang asli Bengkala. Jadi saya ngontrak sekaligus bayar pajaknya,” kata Jro Wayan.

Sementara Kepala Desa Bengkala, I Made Astika, membenarkan musibah kebarakaran yang menimpa keluarga penduduk pendatang yang bermikim di wilayah desa Bengkala. Pihak desa pun terus melakukan pemantauan terhadap mereka. Akan tetapi pihak desa masih belum bisa berbuat banyak untuk memberikan bantuan. Menurut Astika, anggaran dana desa telah di alokasikan untuk penanganan Covid-19. Namun, sebisanya pihak desa akan membantu mecarikan solusi agar keluarga tersebut dapat menerima bantuan kebutuhan sehari-hari. “Kejadian itu sudah dilaporkan kepada kami. Kami sudah memerintahkan kepada kepala dusun di Banjar Dinas Kelodan untuk memantau mereka. Karena lokasinya kebetulan disana. Kami selaku aparat desa belum bisa berbuat banyak terkait bantuan yang akan diberikan. Kalau bantuan dana tentunya kami masih belum mencukupi karena anggaran di desa sudah dialokasikan juga untuk penanganan covid-19. Nanti kami juga akan berusaha mencarikan bantuan dari pihak ketiga, kalau murni dari anggaran desa kami masih belum mampu,” terangnya.

Dalam keluarga tersebut terdapat satu anggota keluarga yang mengalami tuna rungu dan tuna wicara. Dalam kesehariannya ia mengikuti orangtuanya bolak-balik dari TPA Bengkala ke rumah untuk memilah rombengan. Pihak desa pun menyarankan agar anak yang diketahuii bernama Wahyudi (10) itu disekolahkan di sekolah inklusi Desa Bengkala. “Saya kemarin sudah koordinasi dengan keluarga, maunya pihak desa merekomendasi untuk disekolahkan di sekolah inklusi. Kebetulan anak ini special. Mengalami tuli-bisu. Kasian kalau terus diajak pungut rombeng. Minimal bisa baca tulis saja lah dulu. Setelah saya tanya lagi menggunakan bahasa isyaratnya, anak ini bilang mau sekolah tapi bawa motor, kalau jalan nanti capek katanya. Gitu dia bilang sambil gerakin tanganya kayak ngegas motor,” ujar Kepala Dusun Banjar Kelodan, Nyoman Lakra (55) sembari tertawa menunjuk ke arah Wahyudi.

Sementara, pasca musibah tersebut, tim dari Buleleng Social Community (BSC) dengan di koordinir Ketua BSC, Eka Tirtayana, sudah mendatangi lokasi kebarakan. Kelurga tersebut iberikan bantuan berupa paket sembako. Tim BSC juga telah membuka donasi kepada masyarakat umum melalui rekening bank. Dana yang terkumpul tersebut nantinya akan disumbangkan kepada keluarga yang mengalami musibah.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP