Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Berikut Tips Mengatasi Kegemukan

02 Mei 2021, 17: 15: 24 WIB | editor : Nyoman Suarna

Berikut Tips Mengatasi Kegemukan

Ahli Gizi RSUD Kabupaten Buleleng, Dewa Nyoman Alit Wijaya memberikan keterangan tips diet rendah energi dan gizi seimbang. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Gemuk adalah persoalan pelik bagi sebagian masyarakat. Terlebih kaum hawa. Kegemukan seolah-olah menjadi momok yang menakutkan. Betapa tidak, memiliki badan yang berlemak dan berlipat-lipat tentunya tidak enak untuk dipandang. Tak jarang mereka yang mengalami kegemukan atau kelebihan berat badan akan berusaha sekeras mungkin untuk menurunkannya hingga mendapat berat ideal. Bahkan ada pula yang melakukan olah raga berat setiap harinya untuk membakar kalori. Ada pula yang mengatur pola makan dengan diet ketat hingga menyiksa diri.

Menyikapi fenomena tersebut Ahli Gizi RSUD Buleleng, Dewa Nyoman Alit Wijaya memberikan tips diet yang aman, sehat, konsisten dan tentunya tidak menyiksa untuk penderita kegemukan itu sendiri. Dewa Alit juga menyebut, tidak saja kaum hawa saja yang mengalami kegemukan namun juga kaum adam atau pria. Dari hasil survey tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), 41 persen karyawan karyawati RSUD Buleleng mengalami kegemukan. “Untuk itu saya ingin membagi tips diet,” ujarnya.

Yang pertama, Dewa Nyoman Alit Wijaya membeberkan penyebab kegemukan yang sering dialami. Kegemukan terjadi karena intik energi yang dikonsumsi dari makanan melebihi dari kebutuhan yang diperlukan leh tubuh. Kelebihan energi itu ditimbun menjadi lemak. Tersimpannya lemak dalam jangka waktu lama inilah yang menyebabkan kegemukan. “Kelebihan energi yang kita makan dari makanan yang kita makan sehari-hari, sementara itu melebihi kebutuhan tubuh itu sndiri,” terangnya.

Baca juga: Polisi Periksa Dirut PT Kimia Farma Diagnostik Terkait Alat Uji Bekas

Jika makan hanya untuk memikirkan rasa kenyang saja, itu artinya akan berdampak kepada apakah itu nanti gizi kurang atau status gizi normal, ataupun status gizi lebih. Mungkin saja yang dikonsumsi kurang memenuhi kebutuhan tubuh, tentunya akan mengalami masalah-masalah kekurangan gizi itu sendri. “Kebetulan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuhnya ya tentunya normal-normal saja. Nah kalau yang dikonsumsi itu ternyata melebihi daripada kebutuhan tubuh, inilah yang menyebabkan gizi lebih,” lanjutnya.

Dewa Alit juga menyebut, seringkali mendengar pendapat yang keliru. Pendapat lain mengatakan, tidak apa-apa gemuk, yang penting sehat. Jika makanan-makanan tersebut sering dijejali masuk ke dalam tubuh, maka akan menimbulkan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan kegemukan. Seperti misalnya Hipertensi, jantung, diabetes, ataupun struke.  “Nah ini juga keliru. Boleh dikatakan kalimat ini adalah kalimat yang menjerumuskan. Banyak kalimat lain yang menjerumuskan, seperti makan hanya untuk kenyang, makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Nah itu adalah bahaya-bahaya yang akan muncul setelah jangka waktu lama yang akan dirasakan setelah umur 60 tahun ke atas,” kata dia.

Mungkin banyak yang bertanya kenapa indek kebutuhan tubuh bisa melebihi dari yang dibutuhkan. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kegemukan itu sendiri. Mungkin karena ada pendapat makan hanya untuk kenyang yang notabene itu keliru dan bisa dikatakan menjerumuskan, begitu pula makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Atau misalkan tidak apa-apa gemuk yang penting sehat. Padahal gemuk itu sudah merupakan suatu masalah. Kemudian faktor stress juga. Kadang-kadang orang stress pelariannya ke makanan. Sehingga asupannya akan lebih banyak. Kemudian selanjutnya aktivitas tubuh yang kurang. Kalau dulu orang mencari makan dengan berburu atau bercocok tanam, sekarang cari makan hanya dengan aplikasi di telepon pintar. Yang terpenting lagi adalah kebiasaan makan yang buruk. Untuk kebiasaan makan yang baik itu adalah tiga kali sehari dan dua kali snack. “3 kali makan utama adalah sarapan, makan siang dan makan malam. Dalam sarapan dan makan siang ada snack dan makan siang dengan makan malam ada snack. Jadi interval waktunya 3 jam. Sehingga dengan makan teratur, tentunya nanti tidak ada yang namanya kelaparan. Yang ada hanya lapar dan itu wajar. Lalu ketika kita melewatkan sarapan, snack juga tidak. Kemudian jam 2 atau jam 3 baru makan, tentunya ini akan timbul yang namanya kelaparan,” ujarnya.

“Ketika merasa kelaparan, lalu di meja ada hidangan yang sesuai dengan selera kita, istilahnya mau balas dendam nih. Lalu kita makan dengan lahap tanpa memperhatikan asupan gizi yang masuk. Inilah yang menyebabkan tertimbunnya atau kelebihan energy yang masuk dalam tubuh,” lanjutnya.

Faktor-faktor penyebab kegemukan seringkali berasal dari hal-hal kecil yang tidak disadari. Bukan hanya bersumber dari faktor makanan semata. Ahli Gizi ini ppun memberikan tips Diet Rendah Energi Gizi Seimbang. Dalam diet ini mengandung pengertian, bahwa kandungan energi yang masuk itu sesuai kebutuhan normal. Tujuan dari diet yang benar adalah mencapai berat badan yang normal. Kemudian saat menurunkan berat badan, hanya setengah atau 1 kg dalam seminggu. Itu adalah kondisi yang bisa diterima untuk menurunkan berat badan. Untuk mengimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, terkait dengan diet rendah energi, gizi seimbang adalah dalam makanan sehari-hari agar lengkap. “Lengkapnya disitu adalah ada karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral. Kemudian ini kita tuangkan dan terjemahkan dalam makanan, karbohidrat itu ada nasi, mie, jagung, ada roti. Kemudian ada protein seperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan. Lalu ada vitamin dan mineral seperti sayur dan buah. Nah tentunya disana ada serat dan air. Jadi dalam menerapkan gizi rendah energi seimbang, disini adalah hadirkanlah mereka dalam makanan kita sehari-hari. Artinya, dengan kehadiran mereka, zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dapat terpenuhi,” jelasnya.

Terkait dengan jumlah makanan yang harus dikonsumsi agar sesuai dengan indek kebutuhan tubuh, Dewa Alit menerangkan konsep Isi Piringku. Dalam konsep tersebut akan diatur jumlah asupan gizi yang harus masuk dalam tubuh dalam setiap kali makan. “Disitu, kita bisa lihat seberapa sih makan nasi, seberapa sih kita makan lauk sampai sayur dan buah. Jadi agar sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Bisa dilihat Isi Piringku dalam uraian Kemenkes RI. Ini adalah 700 kalori yang untuk satu kali makan. Disitu terdapat makanan pokok, lauk pauk, buah, dan sayur. Nah artinya sudah lengkap. Nasi 150 gram, sayuran 150 gram, protein 80 gram, buah 150 gram. Jadi kalau makan tiga kali sehari kebutuhan kalori dalam tubuh adalah 2.100 dalam sehari,” tambahnya lagi.

Namun fakta di lapangan mengungkap kebutuhan kalori dengan jumlah 2.100 per hari adalah jumlah yang kurang bagi orang gemuk. Biasanya mereka akan cenderung menambah kebutuhan kalori tanpa memperhitungkan dampak yang akan diterima. “Kalau untuk orang yang gemuk, porsi demikian mungkin kurang. Biasanya kalau diet cenderung mengurangi dan mengurangi. Kalau gemuk cenderung menambah dan terus menambah. Pola mengurangi dirasa akan susah. Biasanya begitu,” tutur Dewa Alit.

Terkait fenomena tersebut, Dewa Alit pun mencoba mengubah pola diet dengan membalikkan asupan makanan. Jika biasanya asupan yang ditambah adalah karbohidrat, maka kali ini diubah menjadi mineral. Ada pola yang harus disikapi dengan bijak. Seperti menambah beberapa asupan yang justru dapat menurunkan berat badan. Menambah air putih dalam setiap kali makan dapat mengurangi bebab konsumsi terhadap karbohidrat. Minumlah air putih sesaat ketika bangun tidur di pagi hari. Lalu minumlah satu gelas air putih 30 menit sebelum makan. “Kenapa air penting, karena disini ada korelasi antara konsumsi air putih yang banyak akan dapat menurunkan berat badan. Nah bagaimana kita mengatur ataupun kapan kita konsumsiair putih ini, supaya berkorelasi dengan penurunan berat badan. Pertama ketika bangun tidur. Berikutnya adalah, 30 menit sebelum makan. Lalu ketika merasa lapar diluar jam makan minumlah air putih. Dengan mengkonsumsi air putih dengan benar, kita dapat megontrol asupan energi yang masuk dalam tubuh agar tidak menimbulkan kegemukan,” ungkapnya lagi.

Yang kedua, tambahkan sayur dan buah dalam setiap makanan. Karena sayur dan buah ini yang mengandung vitamin dan mineral. Kemudian mengandung serat. Kemudian dengan serat ini lemak yang ada dalam tubuh akan diajak keluar dalam bentuk fases. Namun dibalik itu, 90 persen orang Indonesia tidak mengkonsumsi sayur dan buah, sehingga kebutuhan serta dan vitaminnya dalam tubuh, kurang. “Kebanyakan dari kita malas mengkonsumsi sayur. Lebih tertarik pada daging. Cara mengkonsumsi sayur dan buah. Dalam setiap makan, sepertiga dari piring itu isinya adalah sayur. Diusahakan juga ada buah. Minimal saat makan snack. Buah tersaji,” paparna.

Yang ketiga dalam mengatasi kegemukan adalah langkah kaki. Ternyata langakah kaki juga berperan dalam membantu menurunkan berat badan. Lakukan dengan santai sambil mendengarkan musik, sehingga lupa jika sudah berjalan cukup jauh. “Seperti saya misalnya tugas di bagian gizi, parkir kendaraan di basement. Jadi ada waktu untuk berjalan cukup jauh,” kata dia.

Di Indonesia rata-rata orang berjalan kaki sangat jarang. Ada yang bilang minimal 3.000 langkah kaki, sebenarya adalah 7.000 lagkah kaki yang harus dilakukan per harinya. Sehingga dapat berpengaruh terhadap penurunan berat badan. “Kalau sekarang biar cepat sudah ada motor, sudah ada mobil. Jadi malas kan orang mau jalan. Jadi usahakan ada aktivitas atau gerak. Minimal jalan kaki. Itu sangat bagus untuk diet. Tapi harus konsisten. Mudah kan, tidak mahal dan tidak menyiksa,” ujar Dewa Alit.

Dan tips yang terakhir adalah mengatur jam tidur. Porsi tidur bagi penderita kegemukan juga memiliki peran penting. Waktu tidur yang teratur juga akan berkorelasi dengan upaya penurunan berat badan. “Keempat adalah menambah jam tidur. Tidur yang bagus itu 7-8 jam sehari. Ini adalah untuk tidur malamnya. Kalau kita bisa mengatur jam tidur seperti itu, itu akan berkorelasi lagi terhadap penurunan berat badan,” tutupnya.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP