Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
DRESTA

Tigawasa Lindungi Hutan Adat Lestari dengan Awig-awig

03 Mei 2021, 10: 21: 05 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Tigawasa Lindungi Hutan Adat Lestari dengan Awig-awig

Kelian Adat Tigawasa, I Made Sudarmayasa. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-DESA Tigawasa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, memliki strategi khusus untuk melindungi dan mengelola hutan adat. Salah satunya dengan memproteksi hutan adat seluas 90 hektare yang tersurat dalam Awig-awig desa. 

Tak pelak, hutan adat yang dikelola dengan mengedepankan aspek kearifan lokal ini membuatnya kian lestari. Kelian Adat Tigawasa I Made Sudarmayasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan, ada Awig-awig khusus yang mengatur pengelolaan hutan adat di desanya. 

Awig-awig ini ditulis dan diresmikan sejak tahun 1986. Masyarakat kerap menyebutnya sebagai alas duwe, karena dianggap sebagai tempat suci yang dikeramatkan.

Baca juga: Mulang Pakelem Berharap Tak Lagi Ada Musibah di Air

“Secara garis besar, Awig-awig ini melarang masyarakat untuk mencari dan menebang kayu di kawasan hutan adat Tigawasa. Kecuali jika kayunya digunakan untuk pembangunan parahyangan," ujarnya. 

Apabila dadya yang menggunakan, lanjutnya, maka mereka wajib memohon kepada Padulu desa adat. Termasuk untuk pembangunan pura di desa. "Jadi penebangan kayu sebatas keperluan saja. Diluar itu tidak diizinkan,” jelasnya, Minggu (2/5) siang.

Ia menambahkan, sebelum ada Awig-awig, jauh sebelumnya masyarakat Desa Adat Tigawasa sudah menerapkan peraturan lisan (tidak tertulis) terkait pengelolaan hutan desa adat. 

Menariknya, meski sebatas peraturan tak tertulis, namun tingkat kepatuhan warga akan aturan tersebut sangatlah tinggi.

“Akhirnya tahun 1986 dimasukkan ke dalam Awig-awig. Sampai sekarang dipatuhi. Astungkara belum pernah kami melihat ada warga yang berani melanggarnya. Karena ada sanksi yang akan dijatuhkan melalui perarem jika ada yang melanggar,” ujar pria yang juga Perbekel Desa Tigawasa sejak tahun 2016 silam ini.

Dikatakan Sudarmaja, hutan adat seluas 90 hektare tersebut tersebar di sejumlah lokasi. Di Dusun Congkang dengan sebutan hutan Pememan seluas 42 hektare. 

Hutan lainnya berlokasi di sebelah utara desa, yakni hutan Batunya seluas 18 hektare, dan hutan di sebelah utara desa adalah hutan Sangiang seluas 30 hektare,

Jenis pohonnya pun beragam dengan jenis tanaman yang mendominasi, yakni Kayu Majegau, Kayu Batu, Kayu Iseh. Ada pula tanaman Aren, kopi, Kwanitan/Kuweni, dan lainnya.

“Di hutan adat ini juga kami memiliki spesies kayu Tingas, ada juga kayu Wangkal. Dan juga jenis-jenis kayu lain yang digunakan untuk keperluan upacara. Jadi, hutan adat yang kami kelola ini mirip seperti Bumi Banten,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP