Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ngaben Adat di Sidatapa Tanpa Bade dan Pembakaran Mayat

04 Mei 2021, 07: 53: 53 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ngaben Adat di Sidatapa Tanpa Bade dan Pembakaran Mayat

SIDATAPA : Prosesi Ngaben di Desa Sidatapa, Buleleng, tak mengenal adanya pembakaran mayat. (Putu Mardika/Bali Express/istimewa)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Upacara Ngaben Adat di Desa Sidatapa tergolong unik. Selain sarana upakara yang sangat sederhana, Ngaben di salah satu Desa Bali Aga di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng ini, juga tidak menggunakan Bade. Bahkan, upacara yang kerap dilaksanakan pada Sasih Kaenem dan Sasih Kapitu ini, tidak ada prosesi pembakaran di areal Setra.

Prajuru Desa Adat Sidatapa, Putu Nadia, 45, menyebut, proses Ngaben Adat di desanya memang berbeda dengan Ngaben pada umumnya di Bali. Hal itu tak lepas dari tradisi Bali Aga yang ia terima secara turun-temurun dari leluhurnya.

Dikatakan Putu Nadia, Ngaben adat di Sidatapa prosesinya sudah dimulai sejak H-11. Dimana upacara diawali dengan masadok (melapor) ke Balian oleh sang Yajmana selaku keluarga yang akan menyelenggarakan Ngaben. 

Baca juga: Simpan Ganja 9,13 Kg di Karung Baju, Jaringan Medan Diringkus

Ngaben Adat di Sidatapa Tanpa Bade dan Pembakaran Mayat

BANGUN URIP: Prosesi pembuatan Bangun Urip untuk upacara Ngaben Adat di Desa Sidatapa, Buleleng. Prajuru Adat Sidatapa, Putu Nadia.   (Putu Mardika/Bali Express)

Selain ke Balian, mereka juga masadok ke Jero Pangeter, Panyarikan dan Kelian Adat. Setelah padewasan dirasa sudah tepat, acara dilanjutkan dengan menyerahkan Batun Lis. Setelah diserahkan, itu sebagai sinyal jika upacara Ngaben Adat tidak boleh batal digelar. “Sebab, kalau batal bisa saja ngerebeda (membuat kekecauan) roh yang telah meninggal itu,” jelas Nadia.

Pada H-3, ritual dilanjutkan dengan Naceb Bale Sawa di rumah sang Yajmana. Bale Sawa dianggap penting dan vital. Sebab aktivitas upacara Ngaben Adat ini sebagaian besar dilaksanakan di Bale Sawa selain di Setra.

Selanjutnya persiapan pada H-2 dilanjutkan dengan memotong babi hitam. Babi ini harus babi Bali, bukan berasal dari jenis landrace. Pemotongan babi hitam untuk sarana upacara harus dilaksanakan di luar areal upacara. Namun, bisa dilaksanakn di areal kebun atau rumah orang lain.

“Kalau dipotong di area upacara, sudah dianggap kesepungan atau kotor. Makanya babi yang digunakan untuk upacara pembersihan dipotong di luar area upacara. bisa di kebun, di rumah orang lain,” bebernya.

Babi yang dipotong hampir seluruh organnya digunakan untuk sarana upacara. Mulai dari bagian kepala, darah, hingga jeroan. Yang memotong babi juga harus berjumlah tujuh orang. Mereka merupakan orang terlatih yang biasa memotong babi untuk sarana upacara Ngaben Adat. 

“Memotong babi tak boleh sembarangan. Harus orang yang paham,” akunya.bSetelah daging babi yang dipotong posisinya diatur, dilanjutkan dengan ritual Pangening-ening. Babi itu dibersihkan lewat sarana samsam. Sarananya dari cabe besar dan kelapa parut. Cabe besar itu simbol pangleburan. Sedangkan kelapa yang diparut itu simbol Dewa Brahma.

“Sebelum babi dibawa ke tempat upacara, baru masuk harus ada wangsit berupa suaraning palungan. Suara ini bermakna asing-asing karya itu dihaturkan ke Dalem yang menguasai upacara. Entah ke Dalem Setra, Prajapati. Supaya terhubung secara niskala,” terangnya lagi.

Pada puncak upacara Ngaben Adat diawali dengan ritual Masagi pada pagi harinya. Untuk upacara di rumah adat, sarana yang digunakan berupa Banten Bale Taksu Nasi Sok Be Karangan. Sok (wakul) berisi nasi, dengan lauk daging babi. “Itu ada Bangun Urip, wewalungan, ada Bali taksunya. Itu yang jangkep. Maknanya agar dihaturkan kepada roh yang diaben,” paparnya.

Ritual menghaturkan nasi karangan di Bale Sawa, tepatnya di bangsal atau tegak gede sudah mulai dilakukan. Perhitungannya, setiap satu sawa yang diaben, wajib menyiapkan minimal tiga buah Nasi Karangan. Namun, jika lebih dari tiga akan jauh lebih bagus.

Kemampuan menyediakan Nasi Karangan ini, sebut Nadia, memang tergantung kondisi ekonomi sang Yajmana. Nasi Karangan ini akan dinikmati bersama-sama oleh keluarga pangarep yang diaben dan sejumlah warga lainnya.

“Jadi ada tradisi makan bersama. Satu Nasi Karangan diagem oleh empat orang. Menunya berisi daging babi, olahan daging babi, janganan (jukut-jukutan) sate. Semua lauk bahannya dari daging babi, utamanya babi penamiu yang memang disiapkan khusus. Ini makanya sebagai saksi secara skala dan niskala ada upacara pengabenan,” akunya. 

Terkait sarana upakara berupa Bangun Urip, dikatakan Prajuru Desa Adat Sidatapa, Putu Nadia, wajib ada wewalungan, daging, tulang iga, kepala, dan semua organ babi digunakan untuk prosesi. Sedangkan isian jeroan digunakan untuk membuat urutan. Bangun Urip tersebut dihaturkan di Bale Sawa.

Di sisi lain, ada perbedaan terkait penggunaan sarana gantal bagi orang yang diaben masih remaja atau sudah menikah. Dimana, gantalnya (base berisi pamor, gambir, buah pinang) dibungkus dengan base lekesan. Sedangkan, jika yang diaben sudah menikah, maka gantalnya akan diikat dengan tali benang merah.

Lalu, apa saja prosesinya di Setra? Dikatakan Nadia, sang Yajamana wajib membawa Nasi Sok Be Karangan ke Setra. Babi pebersihan juga dibawa ke Setra sebagai bekal untuk roh yang akan diaben. 

Menariknya, selama perjalanan dari lokasi upacara ke Setra tidak menggunakan Bade. Melainkan hanya menggunakan sok sebagai wadah. Bahkan, prosesinya tidak ada yang dibakar. Semua upacara kematian di Sidatapa tanpa adanya kremasi atau pembakaran. 

Pertimbangannya, para pendahulunya berasumsi di Sidatapa banyak tempat suci yang ngider pegunungan.

Kadang-kadang jarang berbentuk palinggih, karena sangat disucikan. Dengan adanya pembakaran inilah, asap dari tempat suci yang ada di areal Desa Sidatapa ini kena tinusan (asap), sehingga khawatir beliau akan murka. “Sehingga segala prosesi kematian dipendem,” akunya lagi.

Seluruh prosesi upacara Ngaben Adat dipuput Balian Desa, khususnya Balian Gede dan Balian Panyanding. Dimana, Balian Panyanding atau Balian Alit bertugas muput dari puncak pangabenan sampai Megat Berata dan Nagiang Pitaul tepat 42 harinya. Sedangkan untuk upacara Ngapisan, dipuput oleh Balian Gede. “Semua prosesinya hanya pakai saha. Tidak ada mantram khusus,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP