Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
DRESTA

Langgar Nyepi Adat di Gulinten Disanksi Beras 25 Kg

04 Mei 2021, 08: 02: 28 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Langgar Nyepi Adat di Gulinten Disanksi Beras 25 Kg

Bendesa Adat Gulinten, Ketut Sujana. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

AMLAPURA-BALI EXPRESD-Warga Desa Adat Gulinten, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, sejak lama pantang menerima tamu, ataupun keluar rumah saat pelaksanaan Nyepi Adat. Jika melanggar, warga akan dikenai sanksi berupa beras sebanyak 25kg ke desa adat. Sanksi tersebut tersirat dalam Awig-awig atau aturan adat setempat.

Bendesa Adat Gulinten, I Ketut Sujana mengatakan, sejauh ini sangat jarang ada warga yang melanggar poin-poin yang telah diatur dalam pelaksanaan Nyepi Adat. Diantaranya menerima tamu, mengajak tamu ke wilayah desa adat, atau keluar rumah saat pelaksanaan Nyepi Adat. 

Hal ini juga terjadi pada pelaksanaan Nyepi Adat akhir 2020 lalu. “Awig-awig itu dianggap telah sah. Pelaksanaannya sudah masuk dalam kesepakatan krama (warga),” tegas Sujana, Senin (4/5). 

Baca juga: Murad, Pedagang Es Teh Dari Generasi ke Generasi

Sujana menegaskan, pemberian sanksi itu dilakukan agar warga lebih memaknai pelaksanaan Nyepi adat.

Ia mengakui, jumlah warga yang melanggar tidak banyak. Terakhir pada 2019. Saat itu, ada salah satu warga yang menerima tamu saat Nyepi Adat. Karena desa adat memiliki aturannya, warga tersebut mendapat sanksi menyerakan 25 kg beras kepada desa adat. 

“Setelah pernah terjadi, warga mulai memahami, dan tidak ada lagi yang melanggar,” katanya. Bukan hanya menyerahkan beras, warga yang terkena sanksi dapat menebusnya dengan menyerahkan uang yang senilai dengan 25 kg beras," paparnya. 

Sujana menegaskan, aturan itu dikecualikan bagi warga yang tidak tahu aturan adat tersebut. Misalnya warga luar yang tidak sengaja masuk wilayah desa atau warga yang memiliki kepentingan mendesak.

Pihaknya berharap, walaupun momen Nyepi Adat terasa pas untuk momen berkumpul, aturan tetap berjalan. Pelaksanaan Nyepi Adat diharapkan berjalan tertib. “Jangan sampai momen Nyepi Adat ini dipakai sekadar kumpul-kumpul. Walaupun ada kerabat, saudara, atau teman dekat, itu tetap dilarang,” ucap Sujana.

Awig-awig tentang sanksi Nyepi Adat ini sudah ada sejak lama. Begitu pula rangkaian upacaranya dinilai penting, lantaran sebagai wujud syukur atas hasil perkebunan yang dinikmati warga setempat. 

Dengan tradisi Maayu-ayu dan Nyepi Adat, masyarakat diyakini dapat berkah. Warga juga diajak untuk mendoakan agar desa terlepas dari marabahaya dan tetap tentram.

Nyepi yang khusus digelar di Gulinten itu juga tidak jauh beda dengan Nyepi tahun baru Caka, yakni tetap melaksanakan Catur Brata Panyepian. Bedanya digelar setengah hari, dimulai pukul 07.00 hingga 14.00 Wita. Termasuk dilaksanakan serangkaian upacara Maayu-Ayu di Pura Desa yang puncaknya bertepatan pada Purnama Kaenam. 

Kemudian ada pelaksanaan pamunggahan dan pamiyosan. Sehari sebelum Nyepi Adat, juga ada upacara Nengklong. Upacara tersebut memakai seekor anak sapi sebagai sarana persembahan kepada bhutakala. Saat Nengklong, di masing-masing rumah warga wajib memasang Sanggah Cucuk.

(bx/aka/rin/JPR)

 TOP