Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
DRESTA

Aturan Adat Pertahankan Subak dari Alih Fungsi Lahan

04 Mei 2021, 09: 37: 07 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Aturan Adat Pertahankan Subak dari Alih Fungsi Lahan

Prof Wayan Windia (Putu Agus Adegrantika/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - subak di Bali sangatlah berpengaruh terhadap keberlangsungan kegiatan pertanian. Sementara saat ini lahan pertanian semakin menyempit dan berkurang, lantaran maraknya alih fungsi lahan yang produktif. 

Satu-satunya yang dapat menyelamatkan Subak di Bali adalah Awig-awig (peraturan) dari Subak itu sendiri, dan didukung desa adat setempat.

Akademisi Pertanian Universitas Udayana, Prof Wayan Windia,  Senin (3/5) menjelaskan, saat ini tidak semua Subak memiliki Awig-awig dalam mempertahankan Subak tersebut. Meski demikian, disebutkan semua Subak yang ada di Bali telah memiliki pararem (kesepakatan) yang sudah disepakati dalam paruman Subak. Hanya saja pararem tersebut tidak tertulis, dan tetap dijalankan masyarakat. 

Baca juga: Langgar Nyepi Adat di Gulinten Disanksi Beras 25 Kg

Windia mencontohkan, Subak yang memiliki Awig-awig sangat efektif dalam penerapannya guna mengantisipasi alih fungsi lahan yang produktif. Salah satunya Subak Anggabaya di Desa Adat Anggabaya, di Kelurahan Penatih, Denpasar. “ Subak Anggabaya di Penatih memiliki Awig-awig dan efektif melarang alih fungsi lahan. Sebab desa adatnya ikut mendukung Subak tersebut,” ungkap dia.

Pria asal Gianyar ini menambahkan, sebelum adanya istilah Awig-awig telah ada pararem itu. Sebab, pada zaman dahulu disebutkannya budaya tulis di kalangan masyarakat masih lemah. Sementara pararem sudah ada sejak Subak tersebut mulai eksis. “Sebelum ada istilah Awig-awig, ada perarem. Itu sudah ada sejak Subak itu eksis, kurang lebih seribu tahun yang lalu, yakni pada awal abad ke-11,” tegasnya.

Jika pun Subak memiliki Awig-awig saat ini, Windia menyebutkan, upaya itu masih tidak efektif, lantaran Subak dirasanya masih kalah melawan investor. “Meski ada Awig-awig, tidak efektif. Mungkin karena Subak kalah melawan investor. Perlu dukungan desa adat dan desa dinas, seperti di Subak Anggabaya,” imbuhnya.

Ditambahkannya, untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu ada wadah koordinasi antara Subak, Desa Adat, Desa Dinas, dan Bendega. Hal itu agar lembaga kruna dresta di Bali tersebut lebih kuat menahan intervensi dari pihak eksternal. “Misalnya investor kapitalis, pemerintah, dan lain sebagainya,” tegas Windia.

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP