Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Desa Adat Bedha Gelar Ngaben Bikul

04 Mei 2021, 20: 56: 57 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Desa Adat Bedha Gelar Ngaben Bikul

BIKUL : Raja Tabanan Ida Cokorda Anglurah Tabanan, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga, dan Bendesa Adat Bedha I Nyoman Surata dalam pacaruan serangkaian upacara Mrateka Merana atau Ngaben Bikul, Selasa (4/5). (istimewa)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS – Sebuah upacara unik kembali digelar Desa Adat Bedha, Tabanan. Ucapara itu dinamai Mrateka Merana. Upacara yang dikenal juga dengan sebutan Ngaben Bikul ini akan digelar, Rabu (5/5).

Sebagai persiapannya, Selasa (4/5), pihak desa adat setempat menggelar upacara pacaruan di Pura Puseh Luhur Bedha.

Upacara pacaruan tersebut dihadiri juga oleh Raja Tabanan Ida Cokorda Anglurah Tabanan, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, dan tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua DPRD Tabanan I Made Dirga.

Baca juga: Jelang Idul Fitri, Pemkab Jembrana Gelar Pasar Murah

Bendesa Adat Bedha I Nyoman Surata menjelaskan, prosesi upacara Ngaben Bikul ini termuat di dalam dalam sastra dan disesuaikan dengan dresta.

Pelaksanaannya juga tidak rutin. Hanya khusus dilakukan pada saat terjadi serangan hama yang tidak terkendali pada kegiatan cocok tanam yang dilakukan krama desa adat setempat.

"Tidak rutin dilaksanakan. Kecuali ada merana akeh atau serangan hama yang tidak terkendali,” jelas Surata.

Dalam pelaksanaannya, upacara tersebut menyerupai prosesi Pitra Yadnya. Mulai dari Ngaben sampai dengan nganyut ke segara (pantai) atau sungai.

Sementara yang diaben dalam upacara ini adalah Jro Ketut, sebutan halus dalam istilah bahasa Bali bagi tikus.

“Prosesinya hampir sama dengan Ngaben manusia. Cuma prosesinya hanya sampai ngayut di segara atau pantai. Artinya akan kembali ke Panca Maha Butha,” jelasnya.

Terakhir kali, upacara ini dilaksanakan krama desa adat setempat sekitar sepuluh tahun lalu. Upacara ini pada prinsipnya bertujuan mensucikan atma dari hama penyakit. Khususnya padi.

Sehingga dalam siklus kehidupan berikutnya, hama tersebut tidak terlahir kembali ke bumi sebagai hama perusak. Dan, hasil bumi yang dicocoktanamkan oleh krama desa adat setempat memberi hasil yang baik. 

(bx/hai/rin/JPR)

 TOP