Selasa, 11 May 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Kebocoran Perumda Air Minum Badung Tembus 40,6 Persen

04 Mei 2021, 21: 24: 20 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kebocoran Perumda Air Minum Badung Tembus 40,6 Persen

Rapat: Ketua Komisi III I Nyoman Alit Yandinata memimpin rapat dengar pendapat dengan jajaran Direksi Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung, Selasa (4/5). (Istimewa)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS– Komisi III DPRD Badung menggelar rapat dengar pendapat dengan jajaran direksi Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung, Selasa (4/5). Rapat berlangsung alot karena lebih banyak membahas kebocoran yang dialami perusahaan milik Pemkab Badung itu.

Rapat dipimpin Ketua Komisi III I Nyoman Alit Yandinata. Dari pihak Air Minum Tirta Mangutama hadir Dirut I Wayan Suyasa bersama jajarannya. Di sana terungkap bahwa kebocoran yang terjadi di Perumda Air Minum mencapai 40,6 persen. Hal itu kemudian menyebabkan perusahaan itu rugi mencapai Rp 13,8 miliar lebih pada tahun 2020.

Baca juga: Resmi, Singapore Airlines Tunda Penerbangan ke Bali

“Ini bagaimana bisa sampai ada 13 ribu pelanggan yang meter nol tidak ada pemakaian sama sekali. Saya minta ada sikap tegas untuk itu,” tegas Yandinata. Politikus PDIP ini meminta jajaran direksi untuk bekerja keras agar kejadian yang baru kali pertama terjadi di perusahaan tersebut tidak terulang kembali di tahun berikutnya.

Wakil Ketua Komisi III I Nyoman Satria pun meminta penjelasan langkah yang dilakukan untuk menutupi kerugian yang terjadi. Sebab kebocoran itu dinilai tidak wajar, melampaui batas toleransi kebocoran yakni 21 persen dari jumlah produksi. Satria juga mempertanyakan gajih ke-13, tunjangan hari raya (THR) serta tunjungan kinerja di tengah perusahaan yang dalam kondisi rugi. “Langkah apa yang sudah dilakukan dirut,” tanya Satria. 

Dirut Perumda Air Minum Tirta Mangutama I Wayan Suyasa mengatakan, telah melakukan sejumlah langkah. Salah satunya dengan efisiensi. Baik dari gajih pegawai sampai program kerja. “Pendapatan gajih THL (tenaga harian lepas) kami kurangi 50 persen. Jatah premium juga kami hilangkan. Termasuk asuransi juga kami turunkan, dan pengurangan gajih 13,” ujar Suyasa. 

“Jadi disamping efisiensi pendapatan pegawai juga ada pengurangan biaya-biaya lainnya,” tambahnya.  Biaya - biaya tersebut seperti biaya rutin dan tidak rutin. Program yang sifatnya tidak mendesak juga ditunda realisasinya. Hasil penyisiran pengiritan itu, didapatkan dana sebesar Rp 2,5 miliar.

Lanjut dia, kerugian yang terjadi lantaran 10 ribu pelanggan di bidang usaha pariwisata sedang mengalami masalah terkait Covid-19. Kendati jumlah pelanggan rumah tangga lebih besar yakni 60 ribu lebih, tidak mampu menutupi biaya produksi. “10 ribu pelanggan di pariwisata ini dulu mampu untuk mensubsidi pelanggan di rumah tangga,” ungkapnya. (esa)

(bx/wan/man/JPR)

 TOP