Minggu, 09 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Simbol Rwa Bhinneda,Titi Gonggang Tak Boleh Sembarangan Dilewati

05 Mei 2021, 07: 22: 00 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Simbol Rwa Bhinneda,Titi Gonggang Tak Boleh Sembarangan Dilewati

PAMEDAL: Kemegahan pamedal Pura Gunung Raung di Desa Taro, Kecamatan Gianyar. Jero Mangku Ketut Telaga (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS- Di Pura Gunung Raung di Desa Taro Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, ada sejumlah palinggih yang punya sejarah masing masing. Selain Ida Bhatara Sasuhunan Gunung Raung, di pura yang pujawalinya dilangsungkan setiap Buda Kliwon Ugu ini, juga berstana Palinggih Ida Ratu Madeg. 

Kemudian ada pula Palinggih Uluning Masceti, Ida Bhatara Nenehlu Dirga Sri Menganti, Ratu Bhagawan Penyarikan dan Bhatara Ratu Undar-Andir.

Yang menarik, di Pura Gunung Raung ini juga terdapat Titi Gonggang. Titi ini tak boleh sembarangan dilewati manusia. 

Baca juga: Penumpang Bandara Ngurah Rai – Bali Naik 16 Persen

Menurut mitologi, Titi Gonggang memang diperuntukkan untuk Ida Bhatara yang berstana di Pura Gunung Raung.

Dikatakan Jero Mangku Telaga, di Pura Gunung Raung ini memiliki pamedal nyatur. Bagi yang hendak nangkil ke pura, ada pantangan, khususnya di pamedal agung. Tidak boleh dilewati bagi ibu menyusui, ibu hamil, dan anak yang belum tanggal gigi.

“Titi Gonggang tidak boleh sembarangan dilewati, karena pamedalan Ida Bhatara. Jika tidak sengaja dilewati, sebagai konsekuensi harus menghaturkan pacaruan dengan sarana ayam sebagai bentuk permohonan maaf,” jelasnya.

Jika dilihat, Titi Gonggang merupakan sebuah palinggih yang terbuat dari tiga buah bambu dibentuk menyerupai jembatan (titi) dengan panjang kurang lebih satu meter. “Titi Gonggang merupakan suatu tanda yang dibuat secara khusus, untuk menandakan kedatangan Rsi Markandeya di dareah Taro ini,” bebernya lagi.

Dari penuturan lisan para pendahulunya, Jero Mangku Telaga menyebut, pertama kali Rsi Markandeya membuat permukiman adalah di Desa Puakan. Kemudian Desa Taro Kaja, yang didahului dengan pembangunan Pura Agung Gunung Raung. 

Jika dilihat secara seksama, jarak Titi Gonggang dari Candi Bentar diukur menggunakan ukuran panjang telapak kaki pemangku. Maka ukuran tersebut adalah 9 telapak kaki pemangku atau dalam Bahasa Bali adalah Sia Tapak Ngandang.

Bentuk simbol Titi Gonggang di Pura Agung Gunung Raung yaitu berbentuk persegi panjang menyerupai jembatan kecil. Tiga buah bambu diletakkan di atas lubang yang merupakan instrumen utama dalam simbol tersebut.

Di samping kiri dan kanan dari Titi Gonggang terdapat dinding pembatas, selain itu terdapat patung Jogormanik di sebelah kiri dan patung Sang Suratma di sebelah kanan. 

Material paling penting dalam Titi Gonggang adalah bambu yang membentuk titi. Ukuran bambu yang digunakan untuk simbol Titi Gonggang berdasarkan pada Asta Kosala. Bambu yang digunakan untuk simbol yaitu 1 depa atau sekitar 45 cm.

Alat ukur yang digunakan adalah ukuran panjangnya tangan (depa) dari pamangku atau orang yang dituakan. Tidak hanya di Pura Agung Gunung Raung, simbol Titi Gonggang juga berada di beberapa pura, diantaranya di Desa Taro, yaitu Pura Puseh Puakan, Pura Puseh Tatag, dan Pura Dalem Tatag.

“Bagi masyarakat Desa Taro, Titi Gonggang juga merupakan sebuah simbol Rwa Bhinneda, dualitas yang mesti ada. Hal ini secara simbolik terlihat dengan pengelompokan antara areal suci dan kotor, pengkategorian orang jahat dan orang baik atau perbuatan jahat dan perbuatan baik,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP