Minggu, 09 May 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
DRESTA

Gunakan Kayu Hutan Adat Tigawasa Mesti Seizin Para Ulu

05 Mei 2021, 07: 28: 30 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Gunakan Kayu Hutan Adat Tigawasa Mesti Seizin Para Ulu

Kelian Adat Tigawasa, Made Sudarmayasa (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Hutan Adat Tigawasa dikelola dengan mengedepankan kearifan lokal. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui bagi krama (warga) yang hendak memohon kayu untuk kepentingan membangun parahyangan.

Kelian Adat Tigawasa, Made Sudarmayasa mengatakan, masyarakat yang memerlukan kayu harus menghadap Para Ulu untuk meminta izin pengambilan kayu di hutan. Kemudian, menghadap kepada Balian Desa untuk dicarikan hari baik penebangan kayu di hutan. Pengambilan kayu yang ada di hutan, juga harus didampingi oleh aparat desa adat.

“Pengambilan kayu tidak boleh lebih dari yang disepakati. Bila dalam penebangannya melebihi kesepakatan, maka akan dikenakan sanksi adat. Artinya hanya secukupnya saja melakukan,” bebernya, Selasa (4/5).

Baca juga: Pura Gunung Raung, Sumber Sinar Suci di Alas Sarwa Ada

Disinggung terkait penanaman pohon di hutan adat, Sudarmayasa menyebut, pihaknya rutin melakukan penanaman dengan meggandeng Dinas Kehutanan. 

Pohon yang ditebang untuk kebutuhan parahyangan langsung diganti dengan pohon sejenis untuk reboisasi.

Masyarakat, sebut Sudarmayasa, juga membuat pagehan (pagar hidup dari pepohonan). Pagehan ini dibuat setelah ada pengukuran dari pemerintah desa tentang luas dari tanah warga tersebut. 

Pagehan sebagai pembatas antara kebun dengan pura hutan. Sehingga warga tidak sembarangan memasuki memperluas perkebunannya ke pura hutan.

Dengan adanya pagehan ini, masyarakat yang memiliki kebun yang berdampingan dengan pura hutan ini, juga tidak berlaku sembarangan.

Apabila secara sengaja memperluas areal perkebunannya atau memasuki pura hutan, maka yang bersangkutan akan mengalami bencana. Seperti sakit secara niskala. 

Kepercayaan ini telah berlangsung secara turun temurun. Fenomena inipun telah banyak dialami oleh masyarakat setempat. “Prinsip kami ketika hutan lestari, tentu akan memberikan manfaat ekonomi. Saat membangun parahyangan tentu sangat dimudahkan. Jadi masyarakat hanya butuh biaya menebang saja. Jadi sangat dibantu,” ucap Sudarmayasa. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP