Minggu, 13 Jun 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

CAS Pemkab Badung Belum Mampu Atasi Gejolak Harga

07 Mei 2021, 18: 42: 26 WIB | editor : Nyoman Suarna

CAS Pemkab Badung Belum Mampu Atasi Gejolak Harga

CAS: Controlled Atmosphere Storage (CAS) yang dikelola Perumda Pasar Mangu Giri Sedana (MGS) di sebelah Pasar Petang. (DOK.BALI EXPRESS)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS – Keberadaan Controlled Atmosphere Storage (CAS) yang dikelola Perumda Pasar Mangu Giri Sedana (MGS), saat ini belum mampu mengatasi gejolak harga di pasaran. Bahkan, harga cabai merah sempat tak terkendali, dengan mencapai harga Rp 100 ribu per kg dari harga Rp 85 ribu per kg. Saat ini stok cabai dan bawang masih kosong lantaran hasil pertanian mengalami penurunan.

Direktur Utama Perumda MGS Made Sukantra mengatakan, gejolak harga yang terjadi lantaran hasil panen petani cabai dan bawang turun. Kondisi ini berdampak pada stok kebutuhan yang disimpan di CAS. “Awalnya tujuan CAS adalah untuk menampung produksi cabai dan bawang ketika panen melimpah dan dikeluarkan apabila terjadi kenaikan harga. Namun, belakangan ini produksi petani minus sehigga terjadi gejolak harga,” ungkapnya saat ditemui di gedung DPRD Badung, Jumat (7/5).

Sukantra menuturkan, pihaknya sempat berupa mencarikan suplai cabai dan bawang dari daerah lain, seperti Kabupaten Bangli, bahkan keluar pulau Bali, di antaranya Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Probolinggo, Jawa Timur guna memenuhi kebutuhan pasar. Hanya saja, ketiga wilayah tersebut juga mengalami kondisi yang sama dengan Badung. “Kami sempat berkoordinasi dengan daerah penghasil cabai dan bawang. Namun mereka juga tidak mendapatkan panen yang berlimpah. Sebelum Galungan, kami berencana ke Bima untuk langsung mencari ke petani, namun karena terjadi bencana banjir jadi dibatalkan,” jelasnya.

Baca juga: KONI Buleleng Tambah 4 Cabor Baru

Pihaknya juga mengakui, stok cabai dan bawang di CAS hingga kini masih kosong. Hasil pertanian yang mengalami penurunan akibat cuaca dan hasil panen langsung terserap oleh pasar. “Karena tidak ada over produksi masyarakat, jadi kami tidak menyimpan (stok di CAS). Saat ini hasil pertanian sudah terserap langsung oleh pasar atau unit agro yang langsung membeli produksi masyarakat,” paparnya.

Seperti diketahui, CAS merupakan salah satu program Pemkab Badung untuk mengatasi lonjakan harga. Tak tanggung-tanggung, pemerintah menyiapkan anggaran kurang lebih Rp 9 miliar. Pemerintah telah memutuskan pembangunan CAS akan berdiri di wilayah Kecamatan Petang. Teknologi penyimpanan bahan pangan CAS dibangun oleh Pemkab Badung sejak 2018. Teknologi yang diadopsi dari Kudus, Jawa Tengah ini diklaim dapat mengawetkan bahan pangan agar tidak cepat busuk. Dengan adanya teknologi CAS, setiap panen raya, petani di Badung tidak mengalami kerugian akibat harga yang sangat murah. (esa)

(bx/wan/man/JPR)

 TOP