Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Jadikan Media Baru untuk Edukasi dan Pelestari Budaya Bali

10 Mei 2021, 08: 23: 19 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Jadikan Media Baru untuk Edukasi dan Pelestari Budaya Bali

DARING: Sejumlah narasumber dan peserta dalam acara seminar bertema 'Meningkatkan Kreativitas Seni, Film, dan Media Baru pada Masa Pandemi Covid-19', yang digelar beberapa waktu lalu. (istinewa)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Karya kreasi konten (content creation) kini banyak diunggah di youtube, instagram, dan media sosial lainnya. Secara tak langsung lantas bermunculan pembuat konten ( content creator), yang kemudian akhirnya menjadi salah satu jenis pekerjaan. 

Bali tak ketinggalan. Banyak bermunculan artis yang terkenal lewat konten yang dibuat. Konten-konten yang dibuat sebetulnya bisa menjadi media pelestarian budaya Bali.

Demikian salah satu poin yang terungkap dalam seminar secara daring alias webinar yang diselenggarakan Badan Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali, beberapa lalu. 

Baca juga: Kasih Ramadhan 10.0, Berbagi Untuk 414 Anak Yatim Piatu

Seminar bertema 'Meningkatkan Kreativitas Seni, Film, dan Media Baru pada masa Pandemi Covid-19', menghadirkan dosen Fotografi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Dr. I Komang Arba Wirawan, S.Sn.,M.Si dan Content Creator Puja Astawa.

Dalam seminar tersebut, dipaparkan kreativitas di bidang seni, film, maupun media masa kini tetap berkembang. Justru pembuatan konten video maupun musik menjadi hal yang sudah lumrah. Masyarakat, mulai dari usia dini hingga lanjut usia kini biasa menikmati sajian video maupun lagu lewat berbagai platform media di dunia maya. 

Seperti diakui Puja Astawa, penikmat videonya tak hanya golongan muda, melainkan lansia. Ini juga tak lepas dari pelibatan sang ibunda di beberapa video garapannya. “Karena memang konten yang saya siapkan menyasar anak muda hingga dewasa,” ungkapnya.

Menurutnya, konten yang dibuat tak semata-mata mempertimbangkan sisi komedi, melainkan berupa pesan yang terselip di dalamnya. Ini menurutnya sesuai kebiasaan masyarakat saat ini yang lebih tertarik menyimak informasi dengan gaya santai. 

Bagi pria asal Buleleng ini, menghasilkan konten lebih berupa karya yang menjadi kepuasan tersendiri. Terlebih, karya tersebut bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain. Mulai dari nilai-nilai pendidikan, budaya, dan sebagainya yang dikemas dalam komedi agar menarik minat warganet.

 “Secara tidak langsung, saya juga menyisipkan nilai-nilai budaya di dalamnya. Selain menggunakan bahasa Bali ala Buleleng, saya menggunakan istilah yang mulai jarang digunakan, seperti dampar, makisid, dan lainnya,” jelasnya.

Sementara Dr. Komang Arba mendorong agar semangat berkarya masyarakat Bali tetap kuat di tengah situasi pandemi Covid-19. Salah satunya bisa melalui pembuatan konten-konten kreatif yang kini bisa mendatangkan penghasilan. Namun, ia mendorong agar konten yang dibuat tetap mengedepankan nilai-nilai edukasi.

Bagi pembuat konten yang belum berhasil, ia berharap tak menyerah. Menurutnya diperlukan kerja keras dan konsitensi. Sebab, untuk dikenal, memerlukan karya yang konsisten dan memiliki ciri khas. 

Di sisi lain, mantan wartawan yang juga asal Buleleng ini, juga menekankan agar konten yang dibuat tak hanya sekadar mengejar viralitas semata. Melainkan tetap berisi nilai-nilai yang mendidik. Walau kadang hasil karya sudah dikemas dengan baik, belum tentu viral. Namun ia mendorong agar pembuat konten tak putus asa. 

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP