Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Senderan Kavling Ambrol, Pengembang Ngaku Siap Ganti Kerugian Petani

10 Mei 2021, 17: 38: 04 WIB | editor : Nyoman Suarna

Senderan Kavling Ambrol, Pengembang Ngaku Siap Ganti Kerugian Petani

Perbekel Desa Tulikup I Made Ardika. (Dewa Rastana/Bali Express)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS – Longsornya senderan kavlingan tanah di Banjar Tegal, Desa Tulikup, Kecamatan Gianyar, pada hari Jumat (7/5) membuat pengembang kavlingan tersebut dipanggil ke Kantor Desa Tulikup, Senin (10/5). Terlebih, longsoran senderan telah menimbun saluran irigasi yang mengairi delapan subak di sekitar Desa Tulikup 

Pengembang kavlingan kemudian dipertemukan dengan perwakilan petani yang intinya menuntur ganti rugi atas peristiwa tersebut. 

Perbekel Desa Tulikup, I Made Ardika, menjelaskan jika dalam pertemuan tersebut pihaknya menyampaikan aspirasi masyarakat diantaranya agar air segera mengalir. Disamping itu pihak pengembang juga diminta memenuhi sejumlah hal agar dikemudian hari senderan tersebut tidak lagi ambrol. "Masyarakat tidak ingin nanti senderannya ambrol lagi," ujarnya.

Baca juga: Mengaku Tidak Tahu, Pengemudi Xenia Tabrak Lari Pemotor Diringkus

Ditambahkannya jika sejatinya saat ini air sudah mengalir namun dengan volume kecil. "Irigasi ini kan mengaliri 8 subak, karena air yang mengakir kecil jadi cabangnya tidak dapat air karena airnya kecil," imbuhnya.

Selain itu, masyarakat juga mendesak pengembang kavlingan mengubah posisi senderan. Yakni memundurkan beton senderan dua meter dari badan sungai. Ketinggian senderan juga harus dikurangi agar tidak membahayakan masyarakat. Dimana keputusan tersebut sudah sesuai dengan pararem di Desa Adat.

Kemudian tuntutan yang ketiga, masyarakat meminta pengembang kavlingan untuk memperbaiki senderan yang rusak sehingga air sungai tidak merembes. Dan terakhir para petani yang terdampak meminta ganti rugi atas kasus tersebut. "Karena akibat material senderan yang menimbun aliean irigasi, selama tiga petanu dan pemilik kolam tidak mendapatkan air, padahal mereka sangat membutuhkan air. Jadi untuk  tuntutan masih dikomunikasikan,” tegas Ardika.

Atas tuntutan tersebut, pengambang kavlingan yang datang ke Kantor Desa pun berjanji akan menyelesaikan persoalan tersebut. “Dan pengembang mengaku siap," lanjutnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan jika pihaknya ingin agar persoalan iti selesai dengan baik-baik. Bahkan sejak awal pihak prajuru sempat memperingati pengembang agar membangun senderan sesuai aturan. "Sempat diperingati oleh prajuru, tapi karena kami tidak paham bestek, akhirnya dibangun seperti itu," tandasnya. 

Sebelumnya diberitakan bahwa senderan kavling setinggi 6 meter dengan panjang 20 meter ambrol dan menutupi saluran irigasi 8 subak di Desa Tulikup.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP