Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ingin Bercerai di Desa Menyali, Wajib Mesamsam di Pura Dalem

11 Mei 2021, 10: 56: 17 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ingin Bercerai di Desa Menyali, Wajib Mesamsam di Pura Dalem

PURA DALEM : Suasana di bagian depan Pura Dalem Desa Menyali, yang menjadi lokasi pelaksanaan ritual Mesamsam. (istimewa)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Ritual khusus yang dilaksanakan saat perceraian, mungkin hal yang tabu dan jarang ditemui di Bali. Bahkan, upacara ini tak selazim upacara Pawiwahan pada umumnya. Namun, di Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Buleleng, ada tradisi khusus yang dinamai Mesamsam. Ritual ini merupakan prosesi yang wajib dilalui bagi pasangan suami istri yang bercerai.

Kelian Desa Adat Menyali, Jro Gede Carita, 63, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Adat Taman Sari, Desa Menyali, Minggu (9/5)  menceritakan, tidak ada catatan tertulis sejak kapan tradisi Mesamsam dilaksanakan di Menyali. Hanya saja, tradisi lisan ini dilaksanakan secara turun-temurun oleh warganya. 

Namun, belakangan tradisi Mesamsam ini sudah dimasukkan ke dalam Awig-awig Desa Adat Menyali. Dari penuturan para pendahulunya, Desa Menyali merupakan perpaduan antara Desa Bali Kuna dengan desa yang mendapat pengaruh Majapahit. Sehingga terjadi akulturasi budaya dalam kehidupan beragama.

Baca juga: Porprov Bali 2022 Tuan Rumah Bersama, Badung Legowo

Tradisi Mesamsam ini sejatinya matur piuning secara niskala bagi suami istri yang sepakat bercerai. Prosesinya dilaksanakan di Pura Dalem Desa Menyali. Dengan tanda bukti benda uang kepeng sebanyak 11 kepeng sebagai simbolis Pangider-ider Nawa Sanga.

Mesamsam penting dilaksanakan sebagai penanda jika mereka sah mengakhiri hubungan suami istrinya. Karena saat menikah, pasangan suami istri ini juga mapiuning di Pura Kahyangan Tiga dan bukti sudah sah makrama desa.

“Pertimbanganya, mengakhiri sesuatu sangat pantas dan wajar dilaksanakan di Pura Dalem. Ini sesuai dengan yang berstana di Pura Dalem, yakni Desa Siwa sebagai Dewa Pelebur,” ujar Jro Gede Carita.

Kendati banten yang digunakan sebagai sarana Mesamsam sangat sederhana, namun untuk sampai ke titik pelaksanaan, Mesamsam memang butuh proses yang tidak singkat. Sebab, wajib melalui sejumlah tahapan.

Sebelum memastikan menggelar upacara Mesamsam, pasangan suami istri ini terlebih dulu mendapat pembinaan dari Kelian Banjar Adat dan Kertha Desa Menyali. Mereka disarankan untuk rujuk kembali dan mengurungkan niatnya untuk bercerai.

Namun, jika mediasi menemukan jalan buntu dan tekad sudah bulat untuk bercerai, barulah Mesamsam bisa dilaksanakan. Keluarga pihak laki-laki terlebih dulu harus ngolemin (memberitahu) Kelian Desa Adat Menyali, Jero Pasek selaku pemucuk desa, dan pemangku Pura Dalem akan menggelar upacara Mesamsam.

Selanjutnya Jero Pasek menentukan hari pelaksanaan Mesamsam di Pura Dalem. Setelah itu, pasangan suami istri yang akan bercerai harus hadir di Pura Dalem. Jika salah satu ada yang tidak hadir, maka Mesamsam tidak akan digelar.

“Selain disaksikan Kelian Adat, Jero Bendesa, pemangku Pura Dalem, Mesamsam juga harus dihadiri kedua orang tua suami istri yang akan bercerai. Saat itu juga kami pasti memberikan wejangan. Bahkan, kami selaku Kelian Adat akan meminta maaf kepada kedua orang tua suami istri yang bercerai, karena gagal memediasi untuk tidak bercerai,” akunya. 

Sebagai bagian dari Kertha Desa Menyali, Jero Carita menyebut, semua pihak memang tidak menginginkan adanya perceraian hingga pelaksanaan Mesamsam. 

Ia berharap agar seluruh krama hidup rukun dalam berumah tangga. Sebab, secara psikologis pasangan suami isteri yang bercerai hingga menggelar upacara Mesamsam pasti akan merasa malu dan tertekan. Karena diketahui seluruh masyarakat di Desa Adat Menyali.

“Pada saat pelaksanaan tradisi Mesamsam atau perceraian melalui tradisi Mesamsam, prajuru Desa Adat Menyali membunyikan kulkul desa yang bisa didengar seluruh masyarakat di Desa Adat Menyali,” jelasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP