Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pura Pucaksari Dibangun Kelompok Pemburu, Wajib Ada Padi Gaga

09 Juni 2021, 08: 43: 05 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pura Pucaksari Dibangun Kelompok Pemburu, Wajib Ada Padi Gaga

PUCAKSARI : Kondisi Pura Pucaksari di Dusun Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng.  (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Pura Pucaksari di Dusun Insakan, Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng hanya disungsung sekitar 50 orang kepala keluarga (KK) saja, yang disebut sebagai Sekaa Juragan.

Mencari Pura Pucaksari sebenarnya tidak terlalu sulit, karena berada di ruas jalan penghubung antara Desa Pedawa dengan Desa Sidatapa. Posisinya persis di pinggir jalan. Pohon cempaka berusia ratusan tahun yang berada di seberang pura menjadi penanda pura ini.

Balian Desa Pedawa, sekaligus sebagai salah satu panyungsung Pura Pucaksari, Pan Karpani, 65, menceritakan, keberadaan Pura Pucaksari sangat erat kaitannya dengan Sekaa Juragan. Mereka ini berprofesi sebagai juru boros (kelompok berburu) yang ada di hutan areal Desa Pedawa.

Baca juga: Masuki Latihan Khusus, Pemanjat Disiapkan Jalur Makin Rumit

Pura Pucaksari Dibangun Kelompok Pemburu, Wajib Ada Padi Gaga

PADI GAGA: Pangempon Pura Pucaksari menunjukkan padi Gaga. Hasil tradisi Ngaga yang selanjutnya digunakan untuk upacara di pura. (Putu Mardika/Bali Express)

Para pendahulunya yang suka berboros ini kemudian sepakat mendirikan palinggih sederhana yang merupakan stana dari Ida Bhatara Sri, yang kini dikenal dengan Pura Pucaksari. 

Konon, para pendahulunya itu kerap bersembahyang terlebih dulu sebelum berangkat maboros atau berburu hewan di hutan.

“Juragan itu asal katanya jarag. Kami menyebut majejarag atau maboros. Memang karena sekaa maboros berlangsung dari turun-temurun, sehingga lama kelamaan leluhur kami mendirikan parahyangan yang kini disebut Pucaksari,” jelasnya, kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Pan Karpani menyebut, saat ini jumlah panyungsung di Pura Pucaksari mencapai 50 KK atau sekitar 120 jiwa. Mereka merupakan keturunan dari Sekaa Juragan yang saban hari jumlahnya kian bertambah banyak.

Hanya saja, ia tak menampik saat ini tradisi maboros kian jarang dilaksanakan. Hal ini terjadi lantaran masyarakat sebagian besar bermata pencarian sebagai petani dan buruh. Namun, pada waktu tertentu saja masyarakat melaksanakan aktivitas maboros.

Dikatakan Pan Karpani, pujawali di Pura Pucaksari dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Tepatnya digelar pada Purnama Sasih Kaulu, atau Februari. Panyungsung pun berbondong-bondong menghaturkan sesajen.

“Upacaranya satu hari satu malam. Kami panyungsung Pura Pucaksari yang mempersiapkan segala sarana upacaranya dengan ngayah bersama-sama. Tidak menutup kemungkinan masyarakat di Desa Pedawa juga nangkil ke pura ini,” jelasnya.

Yang menarik dari pujawali di Pura Pucaksari adalah penggunaan sarana padi Gaga yang wajib ada. Sehingga masyarakat Pedawa memiliki tradisi Ngaga demi mendapatkan padi Gaga yang menunjang sarana upacara.

Dikatakan Pan Karpani, untuk mendapatkan padi Gaga, penyungsung Pura Pucaksari harus menggelar tradisi Ngaga yang dilaksanakan secara turun temurun dari pendahulunya. Kemudian padi Gaga yang dipanen setiap enam bulan itu dijadikan sarana saat pujawali.

Tradisi Ngaga dilaksanakan setiap Desember. Lokasinya berada di sebelah selatan Pura Pucaksari. Di lahan seluas 8 are milik salah seorang pangempon pura. Padi Gaga ditanam dengan sejumlah prosesi.

Saat tradisi Ngaga dilaksanakan, puluhan krama pangempon Pura Puncak Sari biasanya sudah berkumpul di sebuah ladang, lengkap dengan pakaian adat madya. Setiap krama terlihat membawa bambu yang ujungnya runcing dengan kondisi batang yang masih hijau. Bambu itulah yang nantinya digunakan untuk menajuk (menanam) bibit padi Gaga yang akan ditanam di lahan seluas 8 are.

Sebelum dimulai, para krama ini memastikan lebih dulu, supaya benih padi Gaga dicampur dengan beberapa jenis biji-bijian. Seperti jagung, kacang kedelai hitam (undis) dan jagung kedu, serta obat pemali (campuran dari kunyit, daun endong dan dapdap). 

Tambahan obat pemali ini, sebagai antisipasi tanaman tersebut diserang hama saat bertumbuh. Begitu segala benih itu tercampur, maka prosesi dilanjutkan dengan matur piuning di lahan tersebut. 

Setelah itu, barulah puluhan krama secara bersama-sama langsung melakukan tradisi Ngaga. Dalam menjalankan prosesi tersebut, mereka pun telah membagi tugas masing-masing. Ada yang mendapat tugas menajuk tanah, ada pula krama yang bertugas menaburi lubang hasil tajukan tersebut dengan benih padi dan kacang-kacangan. 

“Proses pelaksanaan tradisi Ngaga sangat panjang. Dahulu pernah tradisi Ngaga tidak dilaksanakan hampir 47 tahun. Kami beli padi Gaga di Bangli untuk sarana upakara. Akhirnya kami setiap pujawali di Pucaksari ada karauhan (trance). Meminta agar tradisi Ngaga digelar kembali. Selanjutnya kami laksanakan tahun 2018 lalu,” jelas Pan Karpani.

Diterangkan pula, saat tradisi Ngaga tidak dilaksanakan, hasil panen cengkih dan hasil kebun memang berlimpah. Namun justru kebutuhan hidup masyarakatnya tak mampu tercover dari hasil kebun.

Tidak jarang pula ada masyarakat yang menjual ladangnya. “Akhinya setelah mendapat pawisik (petunjuk), kami panyungsung Pura Pucaksari sepakat melaksanakan kembali tradisi Ngaga,” imbuhnya.

Uniknya, selama prosesi menanam Padi Gaga di tegalan itu, semua krama secara bersama-sama berteriak wuuuu...wuuuu...wuuu. Konon dari penuturan beberapa krama, teriakan itu bertujuan supaya benih-benih yang ditanam tidak bongol (tuli), mau tumbuh dan berkembang, serta tidak diserang hama.

“Pang ten bongol bibite, nike mangda masuryak wuuuu...wuuuu...wuuuu... (biar tidak tuli benihnya, makanya berteriak wuuu...wuuu...wuuu),” jelas Pan Karpani.

Padi Gaga yang ditanam pangempon pura kemudian dipanen setelah enam bulan. Panen biasanya dilaksanakan setiap bulan Mei.

Ia menyebut, hasilnya sekitar 15 kilogram. Untuk sementara waktu, padi Gaga yang dihasilkan disimpan di lumbung pangempon pura yang telah ditentukan. 

Kemudian saat pujawali barulah ditumbuk untuk dimasak dan dihaturkan ke Pura Pucaksari. “Nasi yang dihaturkan di Pura Pucaksari kemudian dilungsur, untuk ditunas krama,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP