Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Perjalanan Atma Setelah Kematian (1)

Aji Kurantobolong Bekal Perjalanan Menuju Surga

09 Juni 2021, 14: 02: 07 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Aji Kurantobolong Bekal Perjalanan Menuju Surga

KEMATIAN : Mati adalah kepastian yang tak bisa ditolak. Akademisi UNHI Denpasar Prof. Dr. I Gde Yudha Triguna, MS.   (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS-Bila selama hidupnya sang Atman senantiasa berbuat dharma, sudah pasti ia akan melakukan perjalanan menuju Surga setelah mati. Surga dideskripsikan sebagai tempat tinggal slpara dewa dengan segala kebahagiaan, keceriaan, serta kemewahan. Surga juga digambarkan sebagai tempat dimana tidak boleh ada permusuhan dan kebencian.

Akademisi UNHI Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS menyebutkan, dalam sejumlah pustaka di Bali, perjalanan Atman menuju Surga juga diulas dalam Lontar Atma Prasangsa. Atma dalam perjalanannya melalui tahapan-tahapan menuju pintu Surga. 

Atma ini dikenal Aji Kurantubolong. Dimana Aji Kurantobolong ini tidak lain adalah Atma yang melaksanakan parilaksana utama. Yang kedua, dahating tresna bhakti ring sane maraga sekala niskala atau sangat mencintai dengan bhakti terhadap yang bersifat skala dan niskala. 

Baca juga: Anda Kacacar (11) : Cacar Sakit Mata dan Sesak Napas

Selanjutnya pageh ring yasan dewa, senang sembahyang, ngajum parahyangan. “Kalau bisa seperti itu, maka niscaya bisa mendapatkan ajian Kurantobolong. Karena itulah Atman seperti ini bisa melewati berbagai rintangan yang ada di sepanjang perjalanan menuju Surga,” ujar Prof Yudha Triguna.

Di Lontar Atma Prasangsa juga dijelaskan, manusia memiliki Sad Anu Darsana. Dimana, manusia (jadma) lahir. Setelah lahir dia tua (jara). Tidak ada manusia yang tidak pernah sedih (duka). Pasti akan mengalami rasa sedih.

Kemudian semua orang yang terlahir pasti pernah bersalah (dosa). Selain itu, manusia juga pasti akan mengalami sakit (wiyadi). Bisa sakit keras. Dan terakhir manusia pasti akan mati (mrtyu) jika sudah waktunya.

Lanjut Prof Yudha, dalam Canakya Nitisastra, tepatnya pada Adhyaya (bagian) empat, sloka satu menyatakan : manusia sudah ditetapkan saat masih dalam kandungan, termasuk kapan dia harus akan mati (mrtyu).

“Jadi dalam kandungan pun sudah ditentukan manusia matinya karena apa, kapan waktunya,” imbuhnya. Oleh karena itu, ciri manusia akan mati terungkap dalam sejumlah lontar. Seperti Lontar Yama Purana Tatwa, Yama purwana Tatwa, Yama Tatwa, Aji Palayon Atmaprasangsa.

Ada juga dalam Swarga Rohana Parwa, Tetengger Pati Urip, Dharma Usada, Tutur Kalepasan, Tutur Kamoksan dan banyak lagi. Dengan berbagai variasinya.

Dalam Atma Prasangsa disebutkan, ketika badan kasar tidak ditumbuhi roh atau Atman (meninggal), maka sesungguhnya Atma itu masih berada di sekitar mayat atau rumah itu.

Kadang Atman ingin pergi, tapi masih merasa angen (kasihan) melihat anak, cucu, istri, ibu dan sanak keluarganya. “Itulah sebabnya agar kenapa dalam tradisi Bali, mayat yang di bale itu disampingnya ada sesajen yang disebut soda. Kalau sewaktu hidup suka makan lawar klungah, maka punjungannya berupa makanan kesukaannya. Itulah ciri bakti seorang sentana terhadap leluhurnya,” jelasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP