Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Perjalanan Atma Setelah Kematian (2)

Atma Dihadang Buaya, Macan, Anjing Hingga Pasukan Bhuta

09 Juni 2021, 14: 07: 33 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Atma Dihadang Buaya, Macan, Anjing Hingga Pasukan Bhuta

PERJALANAN : Perjalanan Atma menuju Surga hadapi banyak rintangan, dan sangat dipengaruhi laku menjalani kehidupaan saat madih hidup. (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS-Dalam perjalanannya Atma untuk nyujur Mahameru atau Surga, maka dipastikan akan menjalani sejumlah rintangan. Karena itu, Sang Atma terlebih dulu mesti memohon kepada Hyang Bhatara Guru di Sanggah Kemulan.

Akademisi UNHI Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS mengatakan, orang Hindu di Bali menurut Lontar Atma Prasangsa harus bhakti kepada Hyang Guru di Sanggah Kemulan atau Rong Telu. 

“Kita tidak bisa membayangkan kalau kita tidak punya Rong Telu. Apalagi tidak percaya dengan keberadaan Hyang Guru. Apa bisa melanjutkan perjalanan menuju Surga? Saya rasa akan sulit mencapai surga,” jelasnya.

Baca juga: Sarasamuccaya (28) : Bisa Menasihati Diri

Setelah menghadap Bhatara Guru, disebutkan sang Atma harus meminta izin atau petunjuk kepada Dewi Durga di Pura Dalem. Itulah mengapa para sentana mempersembahkan sesajen kepada Bhatari Dalem. Disanalah Atma akan mendapat petunjuk Ersanya kaja kangin atau arah timur laut.

“Sehingga di Bali sering kita dengar nyanyian secara turun temurun bebeke putih jambul, makeber ngaja kanginang. Itu sebagai tanda jika arah Ersanya itu sangat penting, suci, mulia, karena arah menuju Surga,” sambungnya.

Dalam perjalanannya menuju Ersanya, Atma terlebih dulu akan melihat sungai besar. Itulah Sungai Serayu. Di tempat itu sang Atman menemukan Buaya Putih yang tak lain adalah Ari-ari dari sang Atman saat ia lahir dahulu.

“Wahai Buaya Putih, jangan ganggu perjalananku Nyujur Surga. Kamu adalah saudaraku satu ibu. Kami tidak lain adalah ari-ariku. Begitu sang Atman ngomong seperti itu, sang Buaya Putih akan tunduk,” jelasnya, merujuk dalam Lontar Atma Prasangsa.

Atma melanjutkan perjalanan dan melihat hutan. Hingga bertemulah dengan Raksasa Ulu. Karena kepalanya saja yang terlihat tanpa badan, matanya saja besar. Ini adalah tenaga Ibu saat melahirkan atau Teja Bagindriya.

“Ini adalah bayun meme. Yen sing ade meme, sing ade tiang. (kalau tidak ada tenaga Ibu saat melahirkan, maka tidak ada saya) Itulah sebabnya jangan coba-coba berani sama ibu,” ungkapnya lagi.

Perjalanan dilanjutkan. Kemudian sang Atma dihadang oleh Macan Garang. Wujud Macan Garang ini adalah darah saat sang Atma terlahir dahulu. Setelah itu, ketemu dengan anjing hitam atau Asu Gablog besar yang berdiri seperti bukit. Ia adalah simbol dari saudara sang Atma, yakni air ketuban atau Yeh Nyom.

Setelah itu, muncul Babhutan berjumlah enam. Mereka adalah Sang Bhuta Bhawal, Sang Bhuta Badpamiad, Sang Bhuta Mrajasela, Sang Bhuta Kreda, Sang Bhuta Batmoti, dan terakhir Sang Bhuta Jigrug

Mereka Babuthan, tapi disebut Sang. Inilah Dewa ya, Bhuta ya. Jadi di Bali memang ada ajaran Bhuta, Dewa, Manusa. Saat Atma bertemu Bhabhutan, maka dalam Lontar Atma Prasangsa terungkap jika Atma akan berbicara kepada enam bhuta itu.

“Ida Sang Babhutaan, sentana titiang mangkin ring Mercapada mangkin makarya upacara. Ngrastitiang titiang mangda prasida nyujur Suarga. Sampunang Dewa ngalangin titiang. Sang Bhawal mangkin merika, sentana titiang ngaturang bubur pirate. Sang Badpamiad merika sentana titiang ngaturang Panjang Ilang. 

Dewa Sang Mrajsela Naturang bagian ida Sakarura. Dewa Bhuta Gridig sampun karyanange Ketipat Segeh Takilan. Sang Batmoti sampun kekaryanang Segehan Bubuh Tetadahan dan Sang Buta Igrug dihaturkan Ulam Bebek dan Sajeng,” ungkapnya.

Begitu disampaikan, maka keenam bhuta itu berhenti menghadang. Keenam bhuta itu kemudian menghilang dan menuju Mercepada untuk menyantap sesajen yang dipersembahkan pratisentana sang Atma.

“Bayangkan kalau sesajen atau lelabaan itu tidak ada, maka sudah pasti sang Atman akan dihadang. itulah fungsinya lelaban. Itulah fungsinya Sakerura, Ketipat Segeh Takilan, Ulam Bebek dan sesajen lainnya

Setelah enam Bebhutaan menghilang, sang Atma di Marga Tiga kemudian bertemu dengan empat Kala. Mereka adalah saudara empat Sang Atma atau Catur Sanak. Yakni kakaknya berupa Sang Jogormanik dan Sang Suratma. Kemudian adiknya Sang Mahakala, serta Sang Dorakala,

“Itulah sebabnya kalau di Bali ila-ilah dahat kalau lupa dengan saudara empat. Inilah yang menjadi penciri Hindu Bali dibandingkan dengan Hindu etnis lainnya. Maka dari itu, kita harus ingat dengan saudara empat saat mau kemanapun bepergian,” bebernya.

Terakhir, sang Atma pun bertanya, dimana tempat Surga. Dimana di Surga sebut Prof Yudha Triguna adalah perkampungannya para dewa. Satu catatan penting bahwa Ida Bhatara Siwa sering turun ke Surga. Ini berarti bahwa Surga itu bukanlah genah Bhatara Siwa. Dimana, tempat Dewa Siwa ada jauh di atas Surga.

“Dari ini dapat disimpulkan bahwa orang Hindu di Bali percaya bahwa kita lahir bersama empat saudara. Maka wajib bagi kita untuk selalu ingat, toleran dan selalu harmoni dengan saudara empat. Niscaya kita akan dilindungi sampai menuju Surga,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP