Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Tahapan Akhir Ngusaba Desa, Desa Adat Lebu Nyepi Desa

10 Juni 2021, 10: 05: 03 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Tahapan Akhir Ngusaba Desa, Desa Adat Lebu Nyepi Desa

NYEPI: Sekaa Roras dan pacalang menjaga pelaksanaan Nyepi Desa di Desa Adat Lebu, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Rabu (9/6) pagi. Bendesa Adat Lebu, I Wayan Darmanta. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS-Bali memiliki beragam jenis tradisi yang sejak zaman dahulu hingga saat ini tetap dijaga. Seperti dilakukan masyarakat Desa Adat Lebu, Desa Lokasari, Kecamatan Sidemen, Karangasem. 

Sama seperti desa-desa adat lainnya di Karangasem, warga Desa Adat Lebu pun memegang teguh tradisi yang secara khusus memaknai hasil pertanian atau kemakmuran yang diperoleh warga setempat.

Tradisi itu dilaksanakan dalam upacara yang dinamai Ngusaba Desa. Rangkaian upacara yang berlangsung belasan hari selama Sasih Sadha itu, diakhiri dengan pelaksanaan Nyepi Desa. Nyepi yang secara khusus berlaku di desa adat setempat. 

Baca juga: Diinginkan Persijap, Teco Proteksi Hariono di Bali United

Secara umum, prosesi dan pelaksanaan Nyepi Desa di Desa Adat Lebu memang sama dengan pelaksanaan Nyepi yang berlangsung setahun sekali di seluruh Bali. Begitu pun dengan pelaksanaan Catur Brata Panyepian, warga mematuhi

Amati Geni (berpantang menyalakan api, lampu atau alat elektronik)  Amati Karya, yakni menghentikan kerja atau aktivitas fisik untuk belajar dan refleksi diri atas hidup yang dijalani. Kemudian 

Amati Lelanguan, yakni berpantang menghibur diri atau melakukan kesenangan, dan Amati Lelungaan, warga dilarang bepergian. Namun, durasi waktu Nyepi Desa di Desa Adat Lebu berakhir sampai pukul 12.00 Wita.

Bendesa Adat Lebu, I Wayan Darmanta menjelaskan, Nyepi Desa di Lebu digelar tepat pada Tilem Sasih Sadha, rahina Buda Umanis Wuku Tambir, atau Rabu (9/6). Nyepi Desa ini pun menjadi tahapan akhir dari semua upacara yang berlangsung selama Ngusaba Desa.

Nyepi Desa dilaksanakan sehari pasca warga adat menggelar upacara khusus di Pura Dalem pada Anggara Kasih Wuku Tambir. Sepekan sebelumnya, juga digelar upacara khusus Ngusaba Desa di Pura Puseh pada rahina Saniscara Paing Wuku Merakih.

Kata Darmanta, rangkaian Ngusaba dimulai dengan pembentukan kelompok pelaksana yang dalam istilah desa setempat disebut Sekaa Roras atau kelompok 12 yang anggotanya terdiri atas 12 orang. 

Mereka yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Nyepi Desa. Karena pelaksanaan Nyepi Desa berlangsung di seluruh wilayah desa, maka Sekaa Roras ini ditugaskan berjaga di perbatasan antar desa dan pura. 

Mereka akan menyampaikan kepada warga luar yang melintas, bahwa di Lebu sedang dilaksanakan Nyepi Desa. Sekaa Roras juga memercikkan air suci atau tirta kepada orang yang melintas sebagai simbol pembersihan dan permohonan keselamatan.

“Tidak ada yang berbeda dengan Nyepi pada Sasih Kadasa. Warga juga melaksanakan Catur Brata Penyepian. Namun, kami di Desa Lebu melaksanakannya sampai pukul 12.00 Wita. Selesai itu, kami akan menggelar paruman bersama 36 orang prajuru membahas rangkaian Ngusaba Desa yang sudah berjalan,” jelas Darmanta.

Pantauan di lokasi menunjukkan, pelaksaan Nyepi Desa berlangsung khusyuk. Sekaa Roras pun tampak berjaga di perbatasan Desa Adat Lebu bersama pecalang setempat. Mereka juga memercikkan air suci atau tirta kepada orang yang melintas sebagai simbol pembersihan dan permohonan keselamatan.

Lalu, adakah sanksi bagi mereka yang melanggar saat dilangsungkannya Nyepi Desa? Bendesa Adat Lebu, I Wayan Darmanta mengungkapkan, sanksi tersebut jelas ada. Bahkan, sanksi tersebut termuat dalam Awig-awig desa. 

Karena itu, pacalang bersama Sekaa Roras ditugaskan memantau jalannya pelaksanaan Nyepi Desa. Apabila ada warga kedapatan melanggar, Sekaa Roras yang bakal memanggil warga tersebut untuk diserahkan ke desa adat.

Selanjutnya, akan ada pembahasan khusus terkait warga itu di pura desa setempat mengenai sanksi apa yang akan dikeluarkan. Di sana, warga yang melanggar akan diberikan kesempatan menjelaskan persoalan. 

“Desa adat akan menimbang apabila yang bersangkutan bersedia memohon maaf di area pura, dan berjanji tidak mengulangi lagi pada pelaksanaan Nyepi Desa selanjutnya,” ucapnya. 

(bx/aka/rin/JPR)

 TOP