Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Pura Giri Arjuno, Malang (2 habis)

Ada Jejak Majapahit, Umat Non-Hindu Ikut Bangun Pura Giri Arjuno

10 Juni 2021, 10: 38: 49 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ada Jejak Majapahit, Umat Non-Hindu Ikut Bangun Pura Giri Arjuno

Pamangku Pura Giri Arjuno, Romo Mangku Arif Saiful Rahman (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

MALANG, BALI EXPRESS-Ada yang menarik dalam pembangunan Pura Giri Arjuno di Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada tahun 1997 silam. Walau pun kondisinya masih sangat sederhana. Sesuai penuturan Mangku Arif Saiful Rahman, 29, saat awal pembangunan pura, ternyata tak hanya dilakukan umat Hindu semata. Tetapi juga dari umat Muslim dan Kristen.

Pamangku di Pura Giri Arjuno Malang, Mangku Arif Saiful Rahman mengatakan, tanah yang dibangun sebagai lokasi pura ini merupakan lahan milik warga setempat. Luasnya sekitar satu hektare. 

“Awalnya ini hutan semua. Kami babat, dengan bantuan dari saudara Muslim dan Kristen. Mulai pembangunan meratakan tanah, banyak dibantu mereka,” jelasnya.

Baca juga: Tahapan Akhir Ngusaba Desa, Desa Adat Lebu Nyepi Desa

Dia menceritakan awal mula keberadaan Pura Giri Arjuno yang dahulunya hanya berupa satu pesanggrahan. Pesanggrahan ini kemudian dipugar menjadi lebih bagus dan diresmikan Walikota Batu, Imam Kabul, tepatnya pada Purnama Sadha, 23 Mei 2005 silam.

Pemugaran ini dilakukan karena umat Hindu setempat meyakini, di Giri Arjuno terdapat Candi Pawon peninggalan Kerajaan Majapahit yang keberadaannya hingga kini masih misterius. Umat Hindu disana meyakini, dahulunya di sekitar candi terdapat ribuan pohon kina yang tumbuh. 

Namun, saat Gunung Arjuno meletus, candi terkubur dan pohon kina musnah diganti dengan pepohonan apel. “Makanya saat ini banyak warga umat Hindu di sekitar pura yang hidup dari berkebun apel dan sayur,” bebernya.

Sebelum diresmikan, umat Hindu di sekitar Bumiaji kerap bersembahyang di Pura Indrajaya, sekitar tiga kilometer sebelum Giri Arjuno. Namun, setelah ada Giri Arjuno, mereka lebih menikmati untuk sembahyang di sana. Baik sembahyang saat tilem maupun purnama, serta Galungan. Tak terkecuali Hari Raya Nyepi, Siwaratri, dan Saraswati. “Selalu ramai ada yang nangkil saat hari-hari tertentu,” pungkasnya.

Di lokasi berdirinya pura sekarang atau di dekat Pura Luhur Giri Arjuno juga berdiri padepokan palinggih Hyang Sarip. Saat ini, palinggih Hyang Sarip berada tepat di depan pura. Warga menjaga tradisi, bahwa sebelum memasuki area pura, setiap yang masuk, diharuskan untuk meminta izin terlebih dulu di palinggih tersebut. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP