Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Tren Gowes Turun, Penjualan Sepeda Lesu

10 Juni 2021, 19: 04: 21 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tren Gowes Turun, Penjualan Sepeda Lesu

LESU: Penjualan sepeda gayung lesu di salah satu toko sepeda, Kayu Mas, di Jalan Surapati, Dangin Puri, Denpasar Timur. (Rika Riyanti/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Tren gowes mulai surut seiring dengan adaptasi masyarakat belakangan yang mulai ramai keluar rumah. Pandemi Covid-19 sempat mendorong peningkatan penjualan sepeda, terutama saat masa-masa awal. Namun saat ini, mengikuti surutnya tren gowes, penjualan sepeda gayung pun juga turut lesu. Hal itu diakui salah satu pemilik toko sepeda Kayu Mas, Ruth Sundari Himawan.

“Penjualan memang agak sepian semenjak bulan Februari tahun ini. Penurunannya sampai 50 persen. Waktu itu memang ramai sekali, sekarang turun, tapi ada saja,” ujar Ruth saat dijumpai di tokonya yang beralamat di Jalan Surapati, Dangin Puri, Denpasar Timur, Kamis (10/6).

Penurunan penjualan, kata dia, juga berpengaruh terhadap harga unit sepedanya, terutama untuk model sepeda lipat. Belakangan, dia menurunkan harga sepedanya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. “Penurunan harga memang terjadi di sepeda lipat, tapi tidak banyak. Toko yang memang menurunkan sendiri harganya karena pasaran sepi,” kata wanita asal Semarang tersebut.

Baca juga: Cakupan Vaksinasi 6 Desa di Klungkung di Bawah 30 Persen

Berbagai merek sepeda lipat tersedia di gerainya, namun yang paling digandrungi untuk merek Pacific. Sebab, sepeda lipat Pasific memiliki rentang harga sedang. “Waktu pandemi harganya stabil, kisaran Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Ada juga yang paling mahal Rp 5 juta, tapi ini tidak mengalami penurunan harga karena spesifikasi atau onderdilnya beda. Jadi tergantung yang beli, kalau mereka punya duit mereka beli yang mahalan,” terangnya.

Kendati tidak banyak, sekarang ini sepeda lipat masih tetap dicari, utamanya untuk kisaran harga Rp 2 jutaan. Untuk stoknya, Ruth mengaku, tidak seperti saat pandemi lalu. Yang mana, stok tipis tapi permintaan banyak. Ini juga berlaku untuk jenis sepeda lainnya, utamanya sepeda gunung yang kala pandemi Covid-19 menjadi incaran. Dulunya saat pandemi dan tren gowes tengah ramai, penjualan sepeda bisa sampai jor-joran, bahkan sampai harus indent sebulan.

“Sekarang kan habis, beli, habis, beli. Pesan barang, lagi dua atau tiga hari sudah datang, mungkin karena sepi. Dulu saat pandemi, bisa indent sampai sebulan karena rebutan sama yang lain,” bebernya.

Wanita yang telah membuka dagang sepedanya 45 tahun lalu itu menyebutkan, dalam seharinya bisa terjual tujuh sampai delapan unit sepeda saat pandemi Covid-19. Namun saat ini, bisa menjual tiga unit saja sudah lumayan.

“Sekarang sehari bisa terjual tiga unit saja sudah syukur. Setelah setahun pandemi ini yang cukup dicari road bike. Untuk MTB sudah tidak begitu. Harga sepeda road bike stabil di kisaran Rp 3 jutaan, karena tren baru-baru ini,” terangnya.

Dirinya menilai, penurunan penjualan sepeda tidak jauh-jauh seputar ekonomi yang masih belum pulih. Saat ini masyarakat lebih mengutamakan pembelian untuk keperluan yang lebih genting. “Susah sekarang nyari duit. Kalau mereka merasa tidak penting, jadi tidak dibeli. Sekarang kan hampir semua lesu tidak sepeda saja,” katanya.

Namun, Ruth mengaku, untuk penjualan onderdil-onderdil sepeda masih tetap ramai. Dikarenakan saat ini masyarakat, khususnya penghobi, rutin melakukan service pada sepedanya. 

Dia pun mengatakan, memasuki penerimaan raport bulan Juni, biasanya pembeli sepeda ramai. Karena para orang tua umumnya menjadikan sepeda gayung sebagai hadiah kenaikan kelas. “Sekarang belum ada yang beli. Padahal saya dengar-dengar sudah ada yang terima raport, tapi pembelian sepeda belum ramai. Biasanya ini sampai 10 unit sehari terjual,” keluhnya.(ika)

(bx/ras/man/JPR)

 TOP