Senin, 14 Jun 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Guru Honorer Alami Hipoglikemia Paska Vaksin, Kisahnya Viral

10 Juni 2021, 19: 56: 25 WIB | editor : Nyoman Suarna

Guru Honorer Alami Hipoglikemia Paska Vaksin, Kisahnya Viral

PASKA VAKSIN : Dwarsa Sentosa sedang ditangani tim medis saat drop paska vaksin. (istimewa)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) kembali terjadi di Buleleng. Kali ini seorang guru honorer harus merasakan Hipoglikemia atau gula darah rendah. Kadar gula di dalam darah berada di bawah normal usai melakukan vaksinasi. Hal itu dialami Nyoman Mangku Dwarsa Sentosa. Dwarsa mengalami Hipoglikemia. Dalam postingannya di social media tanggal 21 Mei 202, Dwarsa menceritakan pada tanggal 20 Mei 2021 ia mengikuti vaksinasi di kantor desa Gerokgak sekitar pukul 10.00 wita. Ia menerima vaksin Aztrazeneca. Sebelum divaksin, Dwarsa menjalani proses screening kesehatan. Tensi sebelum vaksin adalah 90. Tim screening mengijinkan Dwarsa untuk vaksinasi karena kondisinya saat itu sehat. Kemudian 15 menit usai vaksin, ia merasakan sesak dan hampir kehilangan kesadaran. Dalam postingan itu juga ia menyatakan trauma mengikuti vaksinasi. Postingan itu pun di repost oleh akun-akun social media lainnya dan viral.

Saat dikonfirmasi, Kamis (10/6) pagi, Dwarsa mengakui kondisinya drop 15 menit setelah vaksin. Bahkan tensi darah turun menjadi 75. Saat menjalani screening awal tim medis mengijinkan untuk mengikuti vaksin, lantas Dwarsa pun melanjutkan ke tahap berikutnya yakni menerima vaksin. “Karena diijinkan, saya lanjut saja. Saya pikir mungkin tubuh saya yang tidak kuat menerma vaksin ini,” ujarnya.

Dwarsa pun mengaku harus menggunakan alat bantu oksigen untuk memulihkan kondisinya seperti semula. Menurutnya, saat ia drop dan hampir kehilangan kesadaran tim medis yang bertugas dengan sigap menangani KIPI yang dialami olehnya. “Oksigen ditempat saja. Karena waktu drop itu sesak nafas. Recovery untuk bisa pulang itu sekitar sejam di lokasi dengan bantuan oksigen dan dibantu perawat dengan dipaksa makan dan minum yang manis untuk angkat gula darah. Sementara tensi dibantu naik dengan makanan itu juga. Perawat dan dokter yang standby saat itu gercep dan salut dengan tanggungjawabnya. Selebihnya, efek lanjutan panas demam sampai 37.6 mentok, gejala vaksin pada umumnya kayak imunisasi pasti tubuh bereaksi kan wajar kalau panas panas sedikit. Tapi sekitar seminggu tetep lemes. Setelah itu normal seperti biasanya. Yang gak bisa ilang ya traumanya,” tegasnya.

Baca juga: Jadi Kasak-Kusuk, Sekda Tabanan Sebut Gaji Ke-13 Lagi Diproses

Saat ditanya untuk mengikuti vaksin tahap kedua, Dwarsa berharap jika diperbolehkan tidak melanjutkan ke tahap kedua maka ia tidak akan mengikuti karena takut terjadi hal yang sama. “Jika tidak wajib, tidak terimakasih. Seandainya wajib sekali dan harus memilih antara melanjutkan karir di dunia pendidikan atau tidak karena vaksin ini, saya lebih milih nyawa sih. Karna saya perang dengan hipotesissaya sendiri. Gimana kalau efeknya A, gimana kalau efeknya B. Dan opsi lain, jika konsekuensi menolak vaksin ini (menolak bukan tidak setuju, tapi menolak karena trauma) sangat parah, ok ayok vaksin. Tapi izinkan saya banding untuk divaksin di UGD dengan alat bantuan pernafasan dipasang sebelumnya dan didampingi oleh dokter. Seandainya fatal, setidaknya tidak terlambat penanganannya. Seandainya aman, terimakasih banyak. Seandainya game over, ya viral lagi,” tuturnya.

Disinggung terkait postingannya yang viral dan di repost oleh akun media social lainnya, Dwarsa tak mau menanggapi. Ia pun meminta jika merepost atau mengunggah ulang diharapkan dengan bijak. “Saya no comment dengan repostan itu. Jangan digawatkan kendati benar saya mengalami ini. Soalnya bahasa beberapa oknum itu tidak setuju dengan program vaksin. Sementara saya setuju, tapi secara personal saya takut karna efeknya parah. Dan siapa yang berani mati? Mending kehilangan pekerjaan daripada kehilangan nyawa,” tegasnya.

Tidak dapat dipungkiri KIPI yang diakibatkan oleh vaksin Aztrazeneca ini memang beragam. Namun kasus yang dialami Dwarsa tergolong kasus baru paska vaksin di Buleleng.

Dikonfirmasi terpisah Sekretaris Satgas Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa mengatakan, dibutuhkan ketelitian dari tim medis yang melakukan screening terhadap pasien yang akan divaksinasi. Tujuannya adalah untuk memastikan kondisi pasien sebelum dan sesudah mengikuti vaksin. “Sangat membutuhkan kecermatan itu. Tapi dari sisi kasus Buleleng persentasenya kecil sekali untuk KIPI ini. Saya pun baru tahu,” ujarnya.

Suyasa menambahkan, diperlukan edukasi untuk memberikan pemahaman terkait dengan KIPI vaksin. “Ini kejadiannya case per case tidak bisa digeneralisasi. Masing-masing tubuh memberikan rekasi yang berbeda-beda,” tambahnya.

Ia pun memerintahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk menelusuri KIPI yang terjadi paska vaksin. Tidak saja pada kasus ini namun juga pada kasus yang lainnya.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP