Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Yayasan Griya Gede Manik Uma Jati

Bersihkan Unsur Atma, 19 Pamilet Ikuti Upacara Atma Wedana

11 Juni 2021, 08: 12: 39 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Bersihkan Unsur Atma, 19 Pamilet Ikuti Upacara Atma Wedana

ATMA WEDANA: Prosesi Upacara Mapandes dan Atma Wedana yang digelar Griya Gede Manik Uma Jati di Yayasan Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, Rabu (9/6). (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS-Upacara Mapandes atau Matatah dan Atma Wedana massal digelar Griya Gede Manik Uma Jati, pada 8 dan 9 Juni 2021.  Rangkaian upacara yang dilangsungkan di Yayasan Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan ini, dipuput langsung Ida Pandhita Mpu Yogiswara.

“Atma Wedana merupakan suatu ritual membersihkan unsur atma. Karena Atma masih diliputi oleh Tri Sarira. Itu dibersihkan, agar bisa menstanakan Atma tersebut di tempatnya. Atau arti lainnya mengembalikan unsur Atma itu, agar Atma bisa menyatu dengan Prama Siwa atau Acintya. Ini merupakan proses lanjutan dari Ngaben atau Pitra Yadnya,” ujar Ida Pandhita Mpu Yogiswara saat ditemui di Griya Gede Manik Uma Jati, Rabu (9/6) lalu.

Menurutnya, untuk menstanakan Atma tersebut, tidak cukup hanya dengan melakukan ritual Atma Wedana, Mamukur, Ngarorasin, atau Ngalikur. 

Baca juga: Ibas Terima Cumlaude Saat Sidang Doktor, Ini yang Dibahas

Bersihkan Unsur Atma, 19 Pamilet Ikuti Upacara Atma Wedana

PUPUT : Rangkaian upacara Atma Wedana yang dilangsungkan di Yayasan Griya Gede Manik Uma Jati, Kepaon, Pemogan, Denpasar Selatan, dipuput langsung Ida Pandhita Mpu Yogiswara. (istimewa)

Dia menambahkan, ritual tersebut kurang lebih sama, hanya berbeda nama dan hari dari ukuran waktu pada saat meninggal. 

“Jika ritual Atma Wedana dilakukan setelah 12 hari meninggal disebut dengan Ngarorasin. Jika ritual dilakukan setelah 21 hari disebut dengan Ngalikur. Jika lebih dari itu, harus mencari hari baik. Inilah yang disebut dengan Atma Wedana,” jelasnya.

Ida Pandhita Mpu Yogiswara memaparkan, Atma Wedana terdiri dari Atma dan Wedana. Atma berarti roh. Wedana, terdiri dari We yang artinya air, dan dana adalah persembahan. Artinya, menarik Atma itu dan mengembalikannya ke dalam air, itulah yang dilakukan persembahan yang disebut dana.

“Apa contohnya dana itu? Seperti bebantenan dan dekorasinya yang lain. Saat itu, karena kita membeli perlengkapan banten itu, artinya kita memberi dana atau bantuan, uang, atau kehidupan kepada orang lain juga. Kemudian, perlengkapan itu kita rangkai dan kita persembahkan kepada leluhur, agar leluhur kita bisa memberikan kesejahteraan kepada keturunannya,” terangnya. 

“Setelah kita melaksanakan ritual Nyegara Gunung, kita kembali ke Kamulan kita sendiri atau ke pura pribadi kita sendiri. Kita menstanakan Atma itu kembali yang disebut dengan Dewa Pitara,” imbuhnya.

Ida Pandhita Mpu Yogiswara menegaskan, upacara Atma Wedana tidak harus digelar secara besar-besaran. Upacara yang dilakukan tergantung kepada kemampuan setiap umat. 

“Umumnya setiap masyarakat Bali memiliki pakemnya. Kalau memang belum mampu, tidak perlu dipaksakan. Tapi terkadang banyak yang ingin jor-joran. Sekarang semuanya tergantung pada karmanya sendiri. Walaupun jenis upacara seperti Ngaliwer atau Maligia, tapi proses terakhir di Kamulannya kalau tidak rajin melakukan persembahan bakti, sama saja,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ida Pandhita Mpu Yogiswara mengatakan, pihaknya bersama-sama melakukan persembahan ini agar di tengah pandemi Covid-19 masyarakat tetap bisa berbakti kepada leluhur. “Karena kita memiliki keletehan atau kesebelan yang disimbolkan dengan kematian. Agar kami juga bisa mengabdi kepada masyarakat. Dan, kita sebagai umat Hindu di Bali agar bisa melakukan suatu persembahan yang layak dengan apa yang dimiliki,” imbuhnya.

Rangkaian ritual Atma Wedana ini dimulai  Rabu (9/6) pukul 06.00 Wita. Prosesi terus berlanjut hingga dini hari, dengan upacara Nganyud ke Pantai Matahari Terbit,  Kamis (10/6). 

Dalam prosesi upacara Atma Wedana di Griya Gede Manik Uma Jati dipuput Ida Pandhita Mpu Yogiswara. Rangkaian acara Atma Wedana ini sudah dimulai dari beberapa waktu lalu dengan kegiatan puncak pada 9 Juni. Total ada 19 pamilet atau peserta yang mengikuti upacara tersebut, dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. (ika)

(bx/rin/rin/JPR)

 TOP