Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
DRESTA

Tradisi Mejuk-jukan Simbol Hormati Wanita di Bengkala

11 Juni 2021, 08: 28: 43 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Tradisi Mejuk-jukan Simbol Hormati Wanita di Bengkala

Penyarikan Desa Bengkala, Ketut Darpa (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

KUBUTAMBAHAN, BALI EXPRESS - Sebagai desa tua, Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, memiliki sejumlah dresta yang dilakoni secara turun-temurun. Salah satunya yakni tradisi Mejuk-jukan. Tradisi ini sebagai simbol penghormatan terhadap seorang wanita.

Penyarikan Desa Bengkala, Ketut Darpa mengatakan, tradisi Mejuk-jukan dilaksanakan pada sore hari saat Pangerupukan. Ritual ini melibatkan teruna-teruni atau muda-mudi yang ada di Desa Bengkala. Syaratnya, mereka belum menikah.

Dikatakan Darpa, Mejuk-jukan ini sudah berlangsung selama ratusan tahun dan diwariskan secara turun-temurun. Tidak ada rujukan pasti yang melatarbelakangi digelarnya tradisi Majuk-jukan saat Pangerupukan Nyepi ini.

Baca juga: Ketua Organisasi Papua Merdeka di Merauke Ditangkap karena Sebar Hoaks

Namun, pada 2007 silam, Darpa yang berpartisipasi dalam penelitian arkeologi di Kubutambahan akhirnya menemukan salah satu sumber terkait tradisi ini. Tradisi Mejuk-jukan ini ternyata tertuang dalam prasasti Pakuan.

“Dalam prasasti itu, cerita berawal saat pemerintahan Raja Jansadhu yang ditulis pada abad ke-11. Dalam prasasti disebutkan, bahwa Desa Bengkala memiliki wilayah kekuasaan hingga ke Desa Pakuan yang sekarang disebut Desa Pakisan,” jelasnya.

Dikisahkan, suatu hari pada Tahun Baru Saka, ada seorang gadis cantik yang tinggal di wilayah Klandis, Desa Pakuan, sempat diperlakukan tidak senonoh oleh masyarakat setempat. Akhirnya, tetua desa setempat kala itu mengambil kebijakan dengan membuatkan Palinggih Ratu untuk pangayatan Ratu Cantik. Palinggih Ratu itu hingga kini masih ada di sebuah pura kawasan Klandis, Desa Pakisan.

Sejak kejadian tersebut, Desa Pakuan memisahkan diri dari Desa Bengkala. Berdasarkan prasasti Pakuan, ketika krama menghormati gadis cantik yang sempat dilecehkan itu sebagai ratu dalam bentuk Palinggih Ratu, sementara krama Desa Pakraman Bengkala membuat tradisi ritual Mejuk-jukan sebagai simbol penghormatan kepada gadis dan wanita umumnya.

Darpa menambahkan, tradisi ritual Mejuk-jukan hingga kini dipakai krama Desa Pakraman Bengkala sebagai salah satu gambaran dan peringatan, bahwa keberadaan gadis atau wanita senantiasa harus dihormati.

Saat tradisi Mejuk-jukan ini dilaksanakan, para pemuda akan menangkap lima gadis yang secara simbolis ternobatkan sebagai Ratu Bengkala. Setelah persembahyangan selesai, pemuda yang telah mendapatkan mandat sebagai tukang juk atau tukang tangkap telah memiliki nominasi gadis yang akan ditangkap.

“Tukang juk akan berkeliling untuk menemukan dan menangkap seorang gadis. Tradisi ini merupakan wujud implementasi penghargaan terhadap kaum perempuan di Desa Bengkala,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP