Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Sumberkelampok Kembangkan Desa Wisata Curik Bali

11 Juni 2021, 17: 25: 28 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sumberkelampok Kembangkan Desa Wisata Curik Bali

PENANGKARAN : Burung Jalak yang ditangkar penduduk di Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

GEROKGAK, BALI EXPRESS-Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak sedang menyiapkan diri menjadi desa wisata.  Jika taka da aral melintang, peluncuran desa wisata rencananya akan dilakukan pada tahun 2022 mendatang.

Perbekel Sumberkelampok, I Wayan Sawitrayasa kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menceritakan, Desa Sumberkelampok memang menjadi salah satu desa di Buleleng yang ikut melakukan penangkaran Burung Jalak Bali.

Bukan tanpa pertimbangan, mengingat secara geografis, lokasi ini memang berdampingan dengan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) yang menjadi habitat burung Jalak Bali. Sehingga menjadi desa penyangga habitat Jalak Bali.

Baca juga: Berkas Kasus Pemerkosaan Dilimpahkan, Penyidik Tunggu Petunjuk JPU

Pengembangan desa wisata lebih mengarah pada konsep ekowisata Curik Bali Berbasis Masyarakat. Selain itu, akan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait cara penangkaran burung endemic yang juga akrab disebut Curik Bali ini.

“Desa kami sebagai daerah penyangga habitat Jalak Bali, bagaimanapun juga harus turun tangan melestarikan populasi. Dan ini sudah berjalan cukup sukses di warga kami yang mendapat izin penangkaran. Tentu ini juga peluang untuk mengedukasi masyarakat,” jelasnya.

Saat ini sudah ada sekitar 20 pasang burung Jalak Bali yang ditangkar warga setempat.  Bahkan, dari jumlah tersebut, berkembang biak mencapai 100 anakan. Puluhan pasang Jalak Bali ini ditangkar di bawah kelompok.

“Kalau jumlah KK yang berpartisipasi penangkaran mencapai 20 KK, astungkara tahun depan desa wisatanya bisa kami launching,” imbuhnya.

Sawitrayasa menambahkan, aktifitas penangkaran di Desa Sumberklampok sudah di bawah kelompok Manuk Jegeg, ini sudah ada sejak 2011 silam. Selain berfungsi untuk pelestarian Jalak Bali, penangkaran ini sebut Sawitrayasa juga memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.

Masyarakat yang menangkar boleh menjual Jalak Putih sesuai dengan peraturan yang ada. Selain harus mengantongi izin edar sebagai izin penjualan dari BKSDA, mereka hanya diberikan menjualnya kepada orang Indonesia.

“Jadi masyarakat memang mendapat manfaat. Karena per pasang harganya lumayan mahal. Bisa tembus Rp 6 juta sampai Rp 8 juta. Tetapi poin utama lebih ke konservasi dan pelestarian,” pungkasnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP