Jumat, 18 Jun 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Curik Bali Masuk Satwa Prioritas, Populasinya Mendekati 400 Ekor

11 Juni 2021, 18: 22: 12 WIB | editor : Nyoman Suarna

Curik Bali Masuk Satwa Prioritas, Populasinya Mendekati 400 Ekor

PRIORITAS : Curik Bali atau Jalak Bali yang ada di Penangkaran Jalak Bali Taman Nasional Bali Barat (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Curik Bali atau Jalak Bali merupakan salah satu satwa endemic Bali. Burung yang memiliki cirri khas warna biru di bagian mata ini adalah satwa langka yang di lindungi. Dulu, Curik Bali hanya bisa dijumpai di tempat penangkaran yang ada di kawasan Taman Nasional Bali Barat. Jumlah populasinya pun mengalami pasang surut, namun tahun 2021 ini merupakan populasi tertinggi dari tahun 1997. Jumlahnya mencapai 395 ekor. Faktor-faktor yang mempengaruhi berkurangnya jumlah populasi burung ini tidak saja faktor alam. Namun juga predator hewan dan manusia. Saat pelepasliaran di lakukan di Teluk Brumbun, burung-burung tersebut harus berjuang bersembunyi dari pemangsa seperti burung Elang. Disamping itu, juga banyak pencuri dan pemburu burung yang masuk kawasan Teluk Brumbun. Perjuangan hidup Curik Bali juga cenderung keras saat berada di Teluk Brumbun. Sebab disana merupakan hutan musim dan tidak ada sumber air. Jadi mereka haru bertahan hidup ketika musim kemarau datang.

Dari perkembangannya tahun 1997 yang berjumlah 174 ekor, tahun 2001 jumlahnya menurun drastis menajdi 16 ekor. Mirisnya keberadaan burung Curik Bali ini sempat tidak terdeteksi pada tahun 2006. Namun seiring berjalannya waktu ijin penangkaran dikembangkan agar masyarakat penggemar burung Curik Bali memiliki ijin tangkar. Dari saat itulah, populasinya terus merangkak naik.

Kepala Taman Nasional Bali Barat, Agus Ngurah Krisna, Jumat (11/6) siang menyampaikan. Jumlah populasi Curik Bali itu mengalami panambahan. Sehingga pada tahun ini jumlahnya paling banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Agus menyebut sebelum dilepasliarkan jumlah Curik Bali sebanyak 241 ekor. Kemudian mengalami penambahan anakan termasuk indukan menjadi 395. “Curik Bali sekarang sudah 300 lebih. Yang sebelum dilepas itu 341 ekor yang bisa di hitung, karena ada yang tidak bisa dihitung. Sekarang ada tambahan sekitar 54 jadinya 395 ekor. Itu termasuk indukan dan anakannya,” kata dia saat dihubungi via telepon.

Baca juga: Panas Bumi hingga Arus Laut, Sumber EBT yang akan Dikembangkan di Bali

Satwa endemic Bali ini saat dilepasliarkan dilengkapi dengan cincin pengontrol. Cincin atau ring itu dipasang ada bagian kaki burung. Sehingga pergerakan burung dengan mudah dipantau tanpa harus menangkap burung. Diakui Agus, saat ini anakan Curik Bali memang lebih banyak ketimbang indukannya. Tidak saja yang berkembang biak di penangkaran, namun kebanyakan yang berkembang di alam bebas. Itu pun mereka tidak dilengkapi dengan alat pengontrol berupa ring. “Yang banyak sekarang malah anakannya yang di alam. Yang dilepasliarkan itu burungnya pakai ring di kakinya. Jadi bisa di control. Disana ada kodenya. Nah itu membedakan kalau ada ringnya, ini hasil lepas liaran, kalau tidak ada berarti itu anakannya. Jadi itu sudah berkembang biak di luar. Kami tidak bisa bilang jumlahnya 341 lebih hasil lepasliaran. Sebab di luar sana juga mereka punya sarang dan merupakan anakan di alam liar.

Ada tiga tempat pelepasliaran burung Curik Bali. Awalnya hanya dilakukan di kawasan Teluk Brumbun dekat Semenanjung Prapat Agung. Kemudian pihak TNBB mengambil inisiatif untuk melepaskan Curik Bali di kawasan Labuan Lalang dan Cekik. Sebab di kedua tempat itu memiliki pepohonan yang hijau sepanjang tahun serta terdapat sumber air. Berbeda kondisinya dengan di Teluk Brumbun. “TNBB juga punya strategi baru. Pelepasannya tidak saja di Teluk Brumbun, juga ada di Labuan Lalang dan di Cekik. Sehingga ada tiga tempat. Ternyata yang paling bagus itu perkembanannya di Labuan Lalang dan di Cekik. Karena tipe hutannya hutan dataran rendah. Ada pohon-pohon yang hujai sepanjang tahun. Kalau di brumbun kan hutan musim kalau musim kemarau ya kering. Tidak ada sumber air. Beda dengan kedua tempat lainnya itu,” ungkapnya.

Kini keberadaan Curik Bali telah mencapai ratusan. Untuk melihat burung ini tidak saja ada di penangkaran TNBB. Namun di rumah-rumah warga juga sudah bisa. Wilayahnya pun tersebar. Bahkan ijin transaksi juga sudah diatur dengan harga yang lebih murah. “Gilimanuk, Melaya, Sumberklampok, Pejarakan, Belimbingsari, semua punya ijin penangkaran di masyarakat. Selain itu juga mereka yang penggemar curik bali diijinkan untuk menjual F2 atau anakan dari curik bali. Sekarang harganya sepasang itu Rp 8 juta dari Rp 15 juta. Jadi tidak perlu lagi membeli di pasar gelap,” jelasnya.

“Populasinya naik mulai tahun 2015. Stabil perkembangannya. Dari 56 ekor, lalu tahun 2016 sekitar 98, lalu 2017 jadi 109. Seperti itu naiknya hampir dua kali lipat.  Kemudian dari pantauan pusat, tahun 2013 hingga kini ada kenaikan 1.000 persen lebih. Karena burung ini masuk dlam kategori satwa prioritas, sejajar dengan badak, harimau Sumatra, gajah, orang hutan,” lanjutnya.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP