Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Peringatan Tragedi Angeline Diwarnai Nyala Seribu Lilin

13 Juni 2021, 21: 08: 09 WIB | editor : Nyoman Suarna

Peringatan Tragedi Angeline Diwarnai Nyala Seribu Lilin

KENANG: Acara peringatan tragedi kematian Angeline pada enam tahun lalu. (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Taburan bunga disertai doa dan nyala seribu lilin mewarnai peringatan derita tragis kematian gadis cantik Angeline yang telah enam tahun berlalu. Kegiatan itu berlangsung pada Sabtu (12/6) sekitar pukul 17.00, di depan rumah Jalan Sedap Malam, Denpasar, yang menjadi saksi bisu insiden tersebut.

Acara ini diselenggarakan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak bersama Sahabat Anak Indonesia, yang dihadiri oleh murid teman sekolah Angeline, dan guru SD Negeri 12 Sanur, tempatnya bersekolah dulu. Adapun peringatan tersebut, diawali dengan tabur bunga Ketua Umum Komnas Perlindungan anak bersama yang mewakili Polda Bali, Polsek Sanur  dan Pemangku Kepentingan Pemerintah, Desa di lokasi mayat Angeline ditemukan waktu itu. 

Kemudian dilanjutkan dengan pembakaran seribu lilin yang dikuti oleh puluhan murid dan guru SD Negeri 12 Sanur. Bahkan momen itu menarik simpati masyarakat dan para pegiat perlindungan Anak. "Kami semua sangat mengenang derita dan tangis Engeline serta kronologi kematian Engeline," tutur Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait di sela-sela acara.

Baca juga: Separo Lebih Cabor PON Belum Gelar Try In

Bukan hanya sekedar peringatan dan doa semata, momen ini menjadi tonggak bagi Komisi Nasional Perlindungan Anak bersama Sahabat Anak Indonesia, menetapkan tiga butir rekomendasi. "Butir pertama yakni meminta Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan Presiden untuk menetapkan 10 Juni sebagai hari Anti Kekerasan Terhadap Anak di Indonesia," cetus Arist melalui orasi dalam acara itu.

Ditambahkan olehnya, butir kedua yaitu tragedi kematian Angeline dijadikan sebagai ikon Gerakan Nasional Pembebasan anak dari segala bentuk kekerasan di Indonesia. Terakhir adalah menyeruhkan kepada masyarakat untuk membebaskan anak dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi. Selain itu, dua Siswa SD Negeri 12 Sanur berkesempatan membacakan deklarasi Pembebasan anak dari segala bentuk eksploitasi dan kekerasan. 

Lantarab diduga, banyak kekerasan terhadap anak di Indonesia yang mengakibatkan tercerabutnya hak hidup anak. Banyak ditemui juga di lingkungan sosial anak menderita akibat salah asuh,  disiksa, dianiaya, dan dieksploitasi sedemikian rupa. "Tragedi  kematian Angeline enam tahun lalu, inilah yang mendasari dan menginspirasi Indonesia harus terbebas dari segala bentuk kekerasan, sehingga tragedi serupa tidak boleh terulang lagi," pungkasnya. (ges)

(bx/ras/man/JPR)

 TOP