Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Satu Tersangka Ditahan, Pemberkasan Korupsi LPD Belumbang Dipercepat

13 Juni 2021, 21: 22: 33 WIB | editor : Nyoman Suarna

Satu Tersangka Ditahan, Pemberkasan Korupsi LPD Belumbang Dipercepat

DIGIRING : Tersangka kasus korupsi LPD Belumbang, I Wayan Sunarta, saat ditahan untuk pertama kalinya pada 8 Juni 2021 lalu setelah ditetapkan sebagai tersangka sekitar Februari 2021 lalu. (Dok.Bali Express)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS – Meski telah melakukan penahanan terhadap I Wayan Sunarta (IWS),40, proses hukum dugaan korupsi LPD Belumbang di Kecamatan Kerambitan hingga sampai ke pengadilan rupanya masih agak panjang.

Kendati demikian, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan mengklaim akan mempercepat proses pemberkasan kasus dengan kerugian negara mencapai sekitar Rp 1,1 miliar ini.

Sebagaimana dijelaskan Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Tabanan Pande Putu Wena Mahaputra.

Baca juga: Denpasar Timur Masuk Zona Hijau

“Saat ini masih dalam proses merampungkan berkas. Semoga secepatnya bisa selesai dan perkaranya bisa diajukan ke persidangan,” jelasnya, Minggu (13/6).

Secara terpisah, Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Tabanan Ida Bagus Widnyana mengemukakan hal serupa. Menurutnya, penyidik akan berupaya mempercepat proses pemberkasan kasus ini.

“Sampai ke persidangan memang masih ada beberapa tahapan. Tapi, kami upayakan agar bisa dipercepat,” jelas Widnyana.

Terlebih, upaya penahanan yang dilakukan terhadap tersangka juga dimaksudkan untuk mempermudah proses pemberkasan.

Bila proses pemberkasan tuntas, sambungnya, penyidik akan menyerahkannya kepada tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang ditugaskan membawa perkara ini ke persidangan.

“Diserahkan ke tim JPU untuk dilakukan penelitian. Bila memang sudah lengkap, tentu akan diajukan ke pengadilan,” imbuhnya.  

Sekadar mengingat, I Wayan Sunarta merupakan Sekretaris LPD Belumbang. Dia ditetapkan sebagai tersangka sejak Februari 2021 lalu. Namun baru pada 8 Juni 2021, dia ditahan pihak Kejari Tabanan.

Terhitung dari saat itu, selama 20 hari ke depan dia akan menjalani penahanan tersebut. Sembari berkas kasusnya dirampungkan penyidik.

Terkait nilai kerugian dalam kasus ini, pihak Kejari Tabanan pada saat memutuskan untuk menahan tersangka, menyebutkan bahwa kerugian negara yang ditimbulkan sekitar Rp 1,1 miliar.

Menariknya, dari nilai kerugian tersebut, tersangka mengaku hanya memanfaatkan dana LPD sekitar Rp 400 sampai dengan Rp 500 jutaan. Dana itu dipakai untuk kebutuhan sehari-harinya dan selebihnya dipakai judi togel.

Karena itu, Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan Ni Made Herawati, menegaskan bahwa penyidikan terhadap kasus ini masih tetap dikembangkan. Sekalipun saat ini, pihaknya baru bisa menetapkan satu orang tersangka.

Dengan pengakuan sementara tersangka ditambah lagi proses penyelidikan yang masih dikembangkan, tim penyidik menerapkan Pasal 55 KUHP sebagai antisipasi bila dalam penyelidikan nanti ada potensi pihak lain yang terlibat.

“Nanti juga akan terkuak dalam persidangan. Dari keterangan saksi-saksi. Pengakuan terdakwa serta alat-alat bukti lainnya. Tim kami menerapkan Pasal 55 KUHP itu tujuannya untuk jaga-jaga kalau ada potensi pihak lain yang terindikasi terlibat,” kata Herawati saat itu.

Sehingga dalam kasus ini, tersangka disangkakan dengan perbuatan yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Itu pasal yang diterapkan dalam dakwaan primer. Sementara untuk dakwaan subsidernya, tersangka disangkakan melakukan perbuatan sebagaimana diatur dalam Pasal Pasal 3 juncto Pasal 18 dalam undang-undang yang sama juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

(bx/hai/man/JPR)

 TOP