Minggu, 26 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Saba Malunin Wajib Ada Kijang, Banten Balun Simbol Kesetiaan

02 Juli 2021, 08: 49: 07 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Saba Malunin Wajib Ada Kijang, Banten Balun Simbol Kesetiaan

BALUN : Ritual Saba Malunin dilengkapi dengan Banten Balun di Pura Munduk Madeg, Desa Pedawa, Kamis (24/6) lalu. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Ritual Saba Malunin di Pura Munduk Madeg, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, kembali dilaksanakan terhitung Kamis (24/6) lalu, bertepatan dengan Purnama Sasih Kasa. 

Tradisi mempersembahkan Banten Balun ini, merupakan upacara paling besar dibandingkan dengan Saba lainnya.

Menurut kepercayaan masyarakat Pedawa, sebelum Saba dilaksanakan, maka tidak diperbolehkan melaksanakan upacara Ngangkid atau Ngaben. Pelaksanaan Saba selalu berpedoman pada lalintihan, hanya saja waktunya diatur supaya berperiode lima tahun.

Baca juga: Pria Pembunuh Wanita Slovakia di Sanur Divonis 18 Tahun Penjara

Dalam satu kali periode, krama di Desa Pedawa bisa melaksanakan upacara Pitra Yadnya sesuai dengan lalintihan. Sehingga dua kali periode sudah datang upacara Panca Wali Krama atau Eka Dasa Ludra di Besakih.

Tokoh Adat Pedawa, Wayan Sukrata, mengatakan, Saba Malunin berasal dari kata Saba dan Malunin. Saba itu adalah upacara persembahan kepada Hyang Kuasa. Sedangka Malunin berasal dari kata Balun. Balun itu kependekan dari Ba yakni Banten dan Lu yakni Lungguh. Lungguh itu catatan atau tegak linggih krama ngarep di Pedawa. Sama dengan Ulu Apad di wilayah lain.

Upacara menggunakan Banten Balun dari krama ngarep di Pedawa. Balun ini lambang krama ngarep atau suami istri. Banten yang diserahkan oleh orang yang duduk dalam tata ungguh, mereka adalah orang yang sudah melalui proses perkawinan sebagai suami dan istri serta anaknya.

Banten Lungguh ini juga perlambang sebagai banten tertua di Desa Pedawa. Perlambang itu digambarkan oleh warga langsung, entah tua dan muda, saat membawa Balun harus berbekal tongkat.

Bentuk Balun inipun tidak seperti sarana banten umumnya di Bali. Namun, bentuknya khas dari Desa Pedawa dan unik. Isi Banten Balun itu nasi, sayur dari daun delundung, lalu berisi gerang atau ikan laut yang sudah dikeringkan, daging babi, cabai, bawang merah mentah serta berisi pisang setandan.

Semua isi banten itu diikat dalam ulatan bambu yang disebut klatkat dan dibalut daun pisang. Klatkat dan daun pisang ini diikat lagi dengan daun aren muda. “Ini adalah simbol tubuh manusia. Tidak mungkin kami mempersembahkan tubuh, tetapi disimbolkan dengan Banten Balun,” jelasnya.

Saba Malunin di Pedawa ini tidak tentu. Bisa mengikuti lalintih nemugelang. Lelintih itu dimaknai sebagai rangkaian. Sedangkan Nemu itu diartikan matemu, dan Gelang itu artinya lingkaran. Jadi, Lalintih Nemugelang itu tidak menentukan hari, tetapi pelaksanaan hasil musyarawah. Hanya saja harus dilaksanakan dengan memilih pada purnama sasih-sasih becik

“Misalnya menghindari Sasih Kasanga, Jyesta, Sadha. Yang lain bisa digunakan. Seperti sekarang Sasih Kasa. Belum tentu lagi lima tahun di Purnama Kasa ada Saba Malunin di Pura Munduk Madeg,” imbuhnya.

Awalnya, upacara Saba Malunin di Pura Munduk Madeg direncanakan dilaksanakan pada Sasih Kadasa lalu. Tetapi karena belum mendapatkan sarana Kijang, maka diundur ke Purnama Sasih Kasa.

“Karena memang sarana unik harus menggunakan Kijang untuk dipersembahkan kepada Ida Bhatara yang malingggih di Batur Mekasa dengan sarana Kijang Bukakak. Kalau tidak dapat ya diundur,” ungkapnya.

Sukrata menambahkan, Kijang itu diperoleh dengan cara berburu di kawasan Hutan Pedawa. Tetapi kalau tidak berhasil mendapatkan Kijang, maka diputuskan meminta petunjuk niskala lewat mapiuning.

Ia menyebut, ada beberapa alasan mengapa Saba Malunin ini perlu dilaksanakan. Alasan pertama, dimana krama ngarep yang tercantum dalam tata lungguh mesti diuningang kehadapan Ida Bhatara Lingsir, Kaki Dewaji, sehingga mengetahui sudah berapa jumlah panjak Ida.

Alasan kedua, tradisi ini sebagai rasa hormat dan kesetiaan kehadapan beliau berupa perwujudan Banten Balun. “Dengan proses Saba ini menunjukkan ketertiban krama, baik secara lungguh, maupun aturan awig sudah bagus,” bebernya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP