Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ritual Saba Malunin Pentaskan Belasan Tarian, Banten Salah Didenda

02 Juli 2021, 08: 52: 26 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ritual Saba Malunin Pentaskan Belasan Tarian, Banten Salah Didenda

TUBUH : Banten Balun adalah simbol tubuh manusia. Jadi, harus benar membuatnya. Tokoh Adat Desa Pedawa, Wayan Sukrata. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Ritual Saba Malunin di Pura Munduk Madeg, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, dilaksanakan  Kamis (24/6) lalu, bertepatan dengan Purnama Sasih Kasa. 

Tradisi mempersembahkan Banten Balun ini, merupakan upacara paling besar dibandingkan dengan Saba lainnya.

Upacara di Pura Munduk ini dilaksankan selama tiga hari. Ptosesinya ada ritual penek banten pemujaan di Pura Munduk. Setelah ketampi, pulang lagi ke Pura Desa. Tetapi upacara tetap pemujaannya kepada Ida Bhatara di Pura Munduk Madeg.

Baca juga: Meski Kecewa, Gavin Kwan Adsit Ambil Sisi Positif Penundaan Liga

Tokoh Adat Pedawa, Wayan Sukrata mengatakan, semua warga krama ngarep sebanyak 1.350 lebih, wajib nanding Banten Balun di Pura Desa.

Bentuk Balun terdiri dari nasi, sayur dari daun delundung, lalu berisi gerang atau ikan laut yang sudah dikeringkan, daging babi, cabai, bawang merah mentah serta berisi pisang setandan.

Semua isi banten itu diikat dalam ulatan bambu yang disebut klatkat dan dibalut daun pisang. Klatkat dan daun pisang ini diikat lagi dengan daun aren muda. Banten ini adalah simbol tubuh manusia. Jadi, harus benar membuatnya.

Sebelum upacara dilaksanakan, semua banten dicek, siapa yang bawa dan tidak. “Dicek secara jelas, apakah rangkaiannya juga sesuai dengan tatanan atau tidak,” imbuh Wayan Sukrata.

Pada waktu mengerjakan Banten Balun akan diawasi Ulun Desa. Setelah banten jadi, kemudian diperiksa lagi Ulun Desa bersama krama. Jika saat pengecekan ditemukan ada banten yang tetandingannya salah, biasanya akan dikenakan denda. 

“Denda ini sebenarnya untuk mengingatkan kepada mereka soal kewajiban dan kesadaran. Denda berupa uang. Besarannya itu semua tergantung dari kesepakatan krama,” ungkapnya.

Setelah semuanya dinilai tak afa masalah, Banten Balun kemudian dipersembahkan kepada Ida Bhatara yang berstana di Pura Munduk Madeg. Setiap krama yang terdaftar sebagai nomor ganjil, maka Banten Balunnya dibawa ke Pura Munduk. Sisanya sebagian lagi dihaturkan di Pura Desa. Balian Desa dan undangan balunnya dipersembahkan di Palinggih Pangijeng. 

Sedangkan Banten Balun milik perbekel juga harus dipersembahkan di Pura Penyarikan. Karena penyarikan itu perbekel secara niskala.

Kemudian pada malam harinya dimulai dengan nuntun, matebangan, ngundang balian, ngetisin, nuntun, sampai selesai satu malam, dilanjutkan di Pura Desa dengan adanyan tari-tarian sakral, maka proses persembahyangan barulah selesai.

“Khusus untuk Saba Malunin, ada Rejang yang menandakan prosesi penek banten. Jadi, penek banten itu ada Rejang, kalau sudah mulai orang marejang, barulah krama boleh memotong babi, untuk persiapan upacara besoknya,” katanya.

Setelah selesai Rejangnya, krama boleh membawa banten ke pura untuk dipersembahkan malam harinya saat wayon. Sedangkan krama yang ingin bersembahyang sebentar, baru boleh setelah Rejang Akilukan. Sebelum itu tidak boleh, karena bisa disebut ngaduk-aduk, atau mengganggu.

Selama pelaksanaan Saba Malunin, sedikitnya ada sebelas tarian yang dipentaskan. Mulai dari Tari Baris Gede, Baris Bulan Kepangan, Tari Mepetokan, Tari Nabuin, Tari Meblawangan, Tari Abuang-Abuangan, Tari Rejang Akilukan, Tarian Kebak-Kebayan, Tari Gayung, Tari Puser Gantung, Tari Langkarang, dan tarian lainnya.

“Acara ini kawekasan keantebang oleh Balian Desa. Nantinya Balian Desa akan menuntaskan upacara Saba Malunin. Begitu juga dengan tarian sakral itu wajib ada. Tidak boleh ditampilkan selain waktu itu. Karena waktu Saba membawa tatanan dan nilai spiritual dan religius,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP