Minggu, 26 Sep 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Setiap Hari, Desa Adat Tengkulung Bagikan 350 Nasi Bungkus

16 Juli 2021, 07: 32: 15 WIB | editor : Nyoman Suarna

Setiap Hari, Desa Adat Tengkulung Bagikan 350 Nasi Bungkus

AKSI SOSIAL: Desa Adat Tengkulung membagikan nasi bungkus untuk masyarakat yang membutuhkan. (Istimewa)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Pelaksanaan Perlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Bali menyebabkan aktivitas masyrakat dikurangi. Masyarakat yang bekerja sebagai pedagang yang berada di sektor non-esensial terpaksa harus diam di rumah. Demi meringankan beban masyarakat, Desa Adat Tengkulung, Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Selatan membagikan nasi sebanyak 350 bungkus dalam sehari. Bahkan kegiatan sosial ini mulai digerakan sebelum PPKM Darurat ditetapkan.

Bendesa Adat Tengkulung I Gede Eka Surawan mengatakan,  pembagian nasi bungkus gratis dilaksanakan sejak 1 Juli. Hal itu untuk meringankan beban masyarakat di tengah kesulitan yang dihadapi saat ini. Program tersebut diakuinya tidak ada kaitannya dengan PPKM Darurat, karena itu sudah dirancang dari Juni lalu. Namun karena kegiatan itu berbarengan dengan masa PPKM Darurat, tentunya sangat membantu masyarakat. “Program itu sudah 15 kali kami laksanakan sejak tanggal 1 Juli. Setiap harinya kita bagikan 350-an nasi bungkus gratis kepada yang membutuhkan. Jadi siapapun yang membutuhkan kami persilahkan mengambil, tanpa memandang ia krama gegem (penduduk asli), pendatang dan agama,” ungkapnya saat dikonfirmasi Kamis (15/7).

Surawan menjelaskan, program tersebut tercetus atas rasa kepedulian pihaknya terhadap kondisi warga. Karena itu pihaknya kemudian berpikir untuk mencari donatur agar membantu membiayai kegiatan tersebut. Kebetulan, pihaknya mempunyai kenalan wisatawan asal Australia yang sempat tinggal di Tengkulung dan banyak membantu selama ini. Maksud itu kemudian disampaikan kepada WNA pasangan suami istri tersebut, sehingga hal itu kemudian direspon yang bersangkutan, dengan melakukan penggalangan dana bantuan dari warga Australia. “Kebetulan pasangan WNA itu punya hubungan baik dengan almarhum ayah saya, dan ia tahu saya menjadi bendesa saat ini. Karena itu ia kemudian tergerak membantu kami dan mencoba mengumpulkan donasi di Australia,” bebernya.

Baca juga: KONI Bali Evaluasi dan Rencanakan Revisi Target PON

Jumlah nasi bungkus yang dibagikan itu, disesuaikan dengan budget anggaran yang dijatah Rp1 Juta per hari. Karena jumlah donasi yang terkumpul mencapai Rp 20 juta, maka program itu ditarget minimal bisa dilaksanakan selama 20 hari. Kemungkinan program itu akan terus dilanjutkan, karena mendapatkan respon positif dari warga. Wrga secara swadaya ikut menyumbang bahan yang diperlukan, di samping aktif mengerjakan secara gotong royong. “Kegiatan itu biasanya kami lakukan setiap jam 5 sore di banjar Tengkulung. Satu orang kami berikan satu nasi, dan itu kami atur menyesuaikan prokes. Jadi mereka tidak boleh mengantre dan langsung ambil dibawa pulang,” terangnya.

Sebagai bagian daerah tujuan wisata, menurut Surawan, kondisi perekonomian masyarakat Desa Adat Tengkulung sangat terpukul dengan imbas pandemi Covid-19. Sebab 90 persen masyarakat di sana sangat bergantung di sektor pariwisata. Sehingga hal itu membuat sebagian besar masyarakatnya sudah setahun lebih menganggur dan ada yang memutuskan beralih profesi menjadi buruh dan lainnya. “Mereka saat ini ada yang statusnya di rumahkan, PHK, banting setir menjadi kuli, bahkan ada yang sudah menjual mobilnya. Padahal ketika kondisi kembali normal,  mereka akan kembali bingung karena mobil itu adalah sumber penghasilan mereka,” ujarnya. (esa)

(bx/wan/man/JPR)

 TOP