Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Caru Rsi Gana Netralisasi Ulah Niskala Pasca Ulah Pati

17 Juli 2021, 08: 35: 13 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Caru Rsi Gana Netralisasi Ulah Niskala Pasca Ulah Pati

PACARUAN: Suasana prosesi pecaruan Rsi Gana di Setra Desa Adat Buleleng. Kelian Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Caru Rsi Gana menjadi salah satu sarana penyucian secara niskala untuk menteralisasi Bhuana Agung dan Bhuana Alit pasca peristiwa besar terjadi di sebuah tempat. Bahkan, sarana ini juga kerap digunakan jika ada kasus ulah pati seperti kasus bunuh diri.

Upacara Rsi Gana  ini dilakukan Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, Jumat (16/7) di areal setra yang berlokasi di Kelurahan Kendran, Kecamatan Buleleng.

Ritual ini dilaksanakan setelah adanya seorang wanita yang nekat gantung diri di pohon Ketapang areal setra, Kamis (15/7) lalu, lantaran mengalami sakit kanker payudara sejak lama.

Baca juga: Bulutangkis Harusnya Sudah Masuk Persiapan Khusus

Kelian Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna mengatakan, kasus ulah pati (bunuh diri) di Setra Adat Buleleng adalah tragedi yang pertama kali terjadi di wawidangannya. Namun, pihaknya bersama prajuru adat langsung bergerak untuk melaksanakan pacaruan Rsi Gana. 

Upacara ini dipimpin langsung Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Nanda Kusuma dari Geria Stiti Shanti Mutiara.

Jro Sutrisna mengatakan, caru Rsi Gana digunakan untuk menetralisasi wawidangan yang leteh (kotor secara niskala) akibat kasus ulah pati atau bunuh diri. Pohon Ketapang yang dijadikan sarana gantung diri pun juga ditebang. Kemudian akarnya juga dibongkar agar tidak tumbuh lagi. 

“Di tanah bekas pohon Ketapang tumbuh, kami tanam sarana caru Rsi Gana. Kami berharap secara niskala agar tidak ngerebeda atau gentayangan,” jelasnya.

Dikatakan Jro Sutrisna, dipilihnya Caru Rsi Gana sebagai sarana untuk menetralisasi wawidangan setra bukanlah tanpa alasan. Mengingat di wilayah ini terjadi ulah pati. Sehingga tidak tepat jika menggunakan sarana caru biasa.

Pihaknya memutuskan untuk menggunakan sarana pacaruan Rsi Gana tingkat alit. “Kami gunakan banten suci, banten pacaruan lengkap, bebek belang,” imbuhnya.

Menurutnya, Caru Rsi Gana secara umum memang berfungsi sebagai sarana penyucian (pangeruatan) Bhuana Agung dan Bhuana alit. Ritual ini juga untuk menjaga keharmonisan alam semesta beserta segenap isinya.

Caru Rsi Gana memang kerap digunakan menyucikan karang yang tergolong angker atau karang panes. Dikatakan Jro Sutrisna, ciri-ciri dari karang angker atau karang panes sebagaimana terdapat dalam lontar Pamanes Karang ia, ib, 2a, dan 2b disebutkan, karang panes yang menyebabkan panas yang dirasakan penghuninya.

Ciri-cirinya antara lain, bila dalam areal pekarangan tersebut terdapat lulut, ada orang mati gantung diri, pohon kelapa bercabang, pisang bercabang, rumah  terbakar. Kemudian ada darah tanpa sebab, ada ular masuk rumah, ada orang mati tidak wajar, ada hewan babi atau anjing beranak satu. Selain itu, pekarangan bersebelahan dengan pura, pekarangan bersebelahan dengan balai banjar, dan lainnya, patut diupacarai dengan upacara caru nista, madia, dan utama.

Pelaksanaan upacara Caru Rsi Gana juga menggunakan sarana seperti banten Byakala, banten Prayascitta, banten Durmaggala dan berbagai bentuk-bentuk rerajahan.

 “Semua itu berfungsi untuk proses penyucian, meliputi dua macam, yakni penyucian yang bermakna lahiriah dan penyucian yang bermakna lahiriah dan penyucian yang bermakna rohaniah,” bebernya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP