Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

PPKM Darurat, Handika Tidak Bisa Jualan, Bagikan Gratis Nasi Jinggo

17 Juli 2021, 16: 11: 26 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

PPKM Darurat, Handika Tidak Bisa Jualan, Bagikan Gratis Nasi Jinggo

BERBAGI : Gede Putu Handika berbagi, bagikan Nasi Jinggo dagangannya tiap hari karena merasakan betapa makin sulitnya setiap orang mencari nafkah di masa PPKM Darurat. (Chaerul Amri/Bali Express)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS – Pandemi Covid-19 entah akan sampai kapan lagi. Pembatasan dengan segala namanya yang gonta-ganti, juga tidak diketahui akan sampai sejauh mana akan diterapkan.

Bahkan kini dengan diimbuhi kata darurat, beberapa sektor usaha harus ditutup sementara. Mereka yang berstatus karyawan toko untuk sementara tidak bekerja. Entah seperti apa nasib upahnya.

Berharap bantuan ke pemerintah juga agak riskan. Karena tidak semua orang bisa mengakses bantuan. Karena pemerintahpun punya standar juga. Yang namanya orang susah itu seperti apa.

Baca juga: Kevin Love Mundur dari Tim Basket Olimpiade AS, Ini Alasannya

Di tengah keruwetan, kerumitan, kesulitan yang lagi terjadi selama lebih dari satu setengah tahun ini, masih ada orang-orang yang bersedia berbagi. Berderma kepada sesama. Terutama kebutuhan pokok.

Mulai dari beras sampai nasi bungkus yang lumayan untuk mengurangi gejolak asam lambung.

Semisal yang dilakukan Gede Putu Handika. Pemuda asal Desa Tunjuk, Kecamatan Tabanan. Dalam beberapa waktu terakhir ini, sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat berlaku, dia bagi-bagi nasi jinggo.

Sedari pagi dia menjajakan nasi jinggonya pada vespa yang dibawanya. Tidak banyak memang. Tapi sering dilakukan. Kemarin saja setidaknya ada 40 bungkus yang dibagikan di seputaran Taman Kota. Pukul 09.00, jumlah itu sudah habis.

Harusnya nasi jinggo itu dia jual bersama istrinya. Dititip di warung-warung. Sejak pekerjaannya sebagai driver terkena dampak langsung dari wabah Covid-19. Pariwisata macet. Dan dia tidak lagi bisa jadi juru mudi.

Tapi ibarat jatuh tertimpa tangga pula, PPKM Darurat berlaku. Jam berdagangnya kena aturan. Biasanya jualan sore sampai jam 11 malam sudah tidak bisa dilakukan. Titip ke warung-warung, banyak yang tutup lebih awal.

“Kan Bali PPKM Darurat saya tidak bisa menitip di warung-warung. Sekarang teman-teman tidak bisa jualan. Karena biasanya kami jualan sore sampai jam 11 malam,” katanya saat berbagi di depan Puri Anom, Tabanan, Jumat (16/7).

Di saat yang sama, salah seorang temannya dari Kediri mengajaknya untuk berbagi nasi jinggo. Gratis bagi siapa saja masyarakat yang kebetulan lewat. Bahannya dibeli secara patungan.

“Kami ingin berbagi sedikit rezeki yang kami punya. Buat masyarakat yang memerlukan. Karena saat ini, banyak masyarakat tidak bekerja. Kesulitan memenuhi kebutuhan hariannya,” ujarnya meringkas.

Sama halnya dengan masyarakat lainnya, Handika berharap pandemi Covid-19 dengan segala pembatasan yang menyertainya berlalu. Sehingga masyarakat kembali bisa beraktivitas. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dan untuk kegiatan berbaginya ini, Handika mengaku akan terus melanjutkannya di tempat yang berbeda-beda. Baik sendirian, bekerja sama dengan komunitas. Atau pribadi lainnya yang memang ingin berbagi. 

(bx/hai/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya