Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Politik
icon featured
Politik

Dewan Minta Simantri Jangan Tinggal Nama

18 Juli 2021, 20: 02: 47 WIB | editor : Nyoman Suarna

Dewan Minta Simantri Jangan Tinggal Nama

Anggota DPRD Bali Made Rai Warsa (Putu Agus Adegrantika/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Prorgam sistem manajemen pertanian terintegrasi (Simantri) saat ini beberapa masih aktif. Ada juga tinggal papan nama. Hal itu pun menjadi perhatian anggota DPRD Bali Made Rai Warsa.

Rai Warsa berharap agar Dinas Pertanian atau pihak terkait lainnya tidak melepaskan begitu saja program tersebut. Ia menyarankan semestinya tetap diawasi, mana yang masih aktif dan mana yang tidak.  “Ini semata -mata dibiarkan begitu saja, supaya tidak  dilepaskan saja harus diimbangi dengan survey. Selain itu harus ada pengawasan leading sektor yang dilakukan oleh penyuluh pertanian, itu dikasi memantau,” terangnya, Minggu (18/7). 

Rai Warsa juga menegaskan program itu seharusnya dapat dituntaskan. Sebab  kalau dibiarkan  dan tidak ditindaklanjuti akan terjadi ketidakjelasan dalam pengelolaannya.  Sehingga masyarakat yang mengurusnya akan semakin berani memanipulasi keberadaan Simantri tersebut. “Harus diungkap oleh leading sektor, dipertanggungjawabkan di sana baik kepada legsilatif, maupun teman-teman yang membidangi. Rata-rata memang ada simantri di setiap desa, tapi  kegiatan tidak jalan.  Agar tidak jadi papan nama saja harus diawasi,” terang anggota dewan dapil Gianyar ini.

Baca juga: Pemandu Dorong Jalur Pendakian Gunung Agung Dibuka

Ia menambahkan, kedepannya  program ini harus diantisipasi. Jangan sampai ada temuan soal penyalahgunaan. “Makanya harus diawasi betul bikin-bikin kelompok tani.  Sebab ada badan hukum, pengawasan harus jelas, pertanggungjawaban, dan kelanjutan usaha itu sendiri,” pungkas politikus PDIP ini.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry menjelaskan 2009 sampai tahun  2019 di Bali terbentuk 752 Simantri atas dukungan, pembinaan dan bantuan pemerintah daerah Bali. Disebutkan dari sisi ide dan kebijakan untuk  memberdayakan kalangan peternak ini sangat bagus. 

Sayangnya, setelah 10 tahun berjalan, banyak kelompok Simantri yang tidak lagi aktif melanjutkan aktivitasnya di lapangan. Parahnya lagi, hasil pengecekan di lapangan banyak juga Simantri yang sekarang berganti nama menjadi Sistem Pertanian Terpadu (Sipadu) yang masih melaksanakan aktivitasnya di bawah pembinanaan UPTD Sipadu. 

Sugawa Korry pun menambahkan, ide kebijakan pengembangan Simantri dinilai sangat positif. Dalam kontek meningkatkan kesejahteraan peternak melalui usaha ternak sapi, dan produksi sampingannya serta diintegrasikan dalam konteks mewujudkan Bali sebagai pulau organik. Hasil produksi kelompok Simantri seperti kotoran sampi diolah pupuk organik, urine dari ternak sapi juga diolah menjadi pupuk. 

Bahkan, dari kelompok Simantri juga bisa menghasilkan gas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Melihat keberhasilan program ini sebelumnya, Sugawa Korry meminta Simantri atau Sipadu lebih dimaksimalkan lagi untuk kesejahteraan petani. 

(bx/ade/man/JPR)

 TOP