Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Mengenal Pura Manik Galih Batuaji di Desa Adat Batuaji, Tabanan

19 Juli 2021, 19: 35: 56 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mengenal Pura Manik Galih Batuaji di Desa Adat Batuaji, Tabanan

PURA: Suasana Pura Manik Galih yang terletak di kawasan Desa Adat Batuaji, Kerambitan, Tabanan. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Bali dikenal dunia, salah satunya karena potensi agrarisnya. Bahkan sistem subak menarik para peneliti untuk menelusuri lebih jauh. Sistem organisasi kelompok petani ini bahkan mampu bertahan di tengah modernisasi. Walaupun kenyataannya, banyak sawah dan kebun yang kini telah beralih fungsi menjadi bangunan.

Nah, Subak Yeh yang di dalamnya terdapat petani padi tak lepas dari sistem ritual. Mengingat kelompok-kelompok warga atau keluarga di Bali juga cenderung tetap bersatu karena ikatan ritual. Kelompok warga yang memiliki profesi tertentu biasanya memiliki ritual khusus kepada dewa tertentu yang dianggap memberikan pengayoman. Demikian juga petani yang tergabung dalam Subak Yeh, umumnya memiliki pura yang dinamakan Pura Manik Galih.

Seperti yang terdapat di Desa Adat Batuaji, Kerambitan, Tabanan. Pura Manik Galih setempat masih lestari hingga kini. “Pura Manik Galih ini sudah ada sejak dulu,” ungkap Bendesa Adat Batuaji, I Gusti Nyoman Madia Utama kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu (18/7).

Baca juga: Tidak Ada Penangkaran, Telur Penyu di Pantai Lepang Hilang

Pura ini cukup sederhana. Kesan kuno masih terlihat dari angkul-angkulnya. Sekilas seperti angkul-angkul rumah tradisional Bali zaman dulu. Bahannya batu padas. Tembok panyengkernya juga berbahan batu padas, namun jenisnya berbeda, yakni batu padas yang lebih keras. Sementara palinggih yang ada di dalamnya tampaknya baru dipugar. Terlihat gedong yang sudah berbahan batu alam yang biasa disebut batu selem (hitam).

Letak pura ini di bagian belakang bale subak setempat. Namun posisinya lebih tinggi karena lokasinya seperti bukit kecil. Seperti yang telah disebutkan di awal, pura ini terkait erat dengan subak. Sehingga antara bale subak dan pura menjadi satu-kesatuan.

Menurut Jro Bendesa, sesuai namanya, Pura Manik Galih erat kaitannya dengan keberadaan petani yang memiliki sawah. Sehingga pangemponnya utamanya adalah petani Subak Yeh. “Pura Manik Galih untuk padi. Manik Galih itu kan beras,” ujarnya.

Adapun pangempon utamanya, adalah pemilik tanah setempat. Sementara yang melaksanakan piodalan adalah Subak Labak. “Piodalannya saat rahina Budha Cemeng Klawu, bertepatan dengan piodalan Sang Hyang Rambut Sedana,” ujar pria 60 tahun tersebut.

Nah, lantaran Sang Hyang Rambut Sedana juga dewa kemakmuran dan kesejahteraan, pamedeknya, sebut Jro Bendesa, tak hanya petani. Selain pekaseh dan klian subak, warga yang memiliki usaha juga ikut bersembahyang. “Kalau piodalan, pamedeknya dari krama di sini. Terutama yang memiliki usaha bisnis. Yang punya warung misalnya, banyak kesana,” terang pria yang senang membaca sastra agama ini.

Terkait dengan Manik Galih, dalam Lontar Sundarigama disebutkan, ‘Buda wage, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, Bhatari Manik Galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara amertha ring sanggar, muang ring luhuring aturu, astawakna ring Sri Nini kunang duluring diana semadi ring latri kala’.

Artinya adalah ‘Budha Wage, Budha Cemeng namanya, artinya mewujudkan inti hakikat kesucian pikiran, yakni putusnya sifat-sifat kenafsuan, itulah yoga dari Bhatari Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara Amerta di sanggar (tempat suci) serta di atas tempat tidur, melakukan pemujaan kepada Dewi Sri dan bersemadi di malam hari’.

Berkenaan dengan itu, Budha Cemeng ini juga diyakini umat Hindu di Bali sebagai hari suci untuk harta. Oleh karena itu, ada kepercayaan tak membelanjakan uang atau menukar harta pada hari ini. Ini semata-mata untuk menghormati Sang Hyang Rambut Sedana, manifestasi Tuhan sebagai pemberi kemakmuran.

(bx/adi/yes/JPR)

 TOP