Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
DRESTA

Pantang Tinggalkan Sisa Bunga Persembahyangan

20 Juli 2021, 05: 05: 59 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pantang Tinggalkan Sisa Bunga Persembahyangan

Penyarikan Desa Adat Lepang, I Made Mudiarta (Resa Kertawedangga/Bali Express)

Share this      

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS — Menjaga kebersihan pura di Desa Adat Lepang, tidak hanya menjadi tanggung jawab luput (pangayah). Seluruh warga desa setiap dilangsungkannya piodalan di pura yang ada di wawidangan Desa Adat Lepang, selalu diimbau untuk tidak meninggalkan begitu saja bunga sisa persembahyangan. 

Pamedek diingatkan untuk langsung membawa dan membuang sisa bunga persembahyangan untuk selanjutnya dibuang pada tempatnya (tong sampah). Sehingga bunga sisa persembahyangan tidak berserakan di halaman pura. 

Panyarikan Desa Adat Lepang I Made Mudiarta menyatakan, imbauan yang diberikan ini bermula dari banyaknya volume sampah sisa piodalan. Tak heran para luput (pangayah) pun harus bergerak cepat membersihkan sampah tersebut. Terlebih piodalan di masing-masing pura dapat berlangsung selama tiga hari. 

Baca juga: Diduga Buka Saat PPKM, Boshe Ditutup dan Didenda 

“Bukan hanya untuk meringankan tugas luput, tapi juga untuk mengingatkan kepada krama desa agar dapat menjaga kebersihan di areal pura,” ujar Mudiarta, kemarin.

Menurutnya, pada awal imbauan tersebut disampaikan, memang masih banyak warga yang tidak menghiraukan. Namun seiring berjalannya waktu, krama Desa Adat Lepang pun mulai sadar, dan terbiasa melakukan hal tersebut. 

Walaupun tidak ada sanksi yang diberikan bagi warga yang tidak mengikuti imbauan tersebut. “Kami selaku prajuru desa adat berkaca dari pura-pura besar yang ada di Bali. Kalau disana saja bisa, kenapa kami di lingkungan desa tidak dapat mencontoh hal yang baik itu,” ungkap pria penghobi bersepeda itu.

Selain bunga sisa persembahyangan, pria berkaca mata ini menjelaskan, Canangsari atau Sampyan yang dihaturkan bersama Gebogan juga tidak dilebar langsung di pura. Namun saat ngalungsur banten, pamedek pastinya langsung membawanya pulang.

“Kami juga dalam memberikan kedua imbauan tersebut tidak semata-mata atas keputusan sendiri. Kami mendapatkan informasi seperti itu dari Bendesa Alit Kecamatan,” jelasnya.

Lebih lanjut Mudiarta menerangkan, imbauan untuk membuang sampah bunga sisa persembahyangan memang belum ditetapkan sebagai pararem desa maupun awig-awig desa. (esa)

(bx/aim/rin/JPR)

 TOP