Kamis, 23 Sep 2021
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pura Subak Kaliuntu Didesak Peradaban, Tak Ada Lagi Ngusabha

20 Juli 2021, 07: 04: 14 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pura Subak Kaliuntu Didesak Peradaban, Tak Ada Lagi Ngusabha

KOTA : Pura Subak Kaliuntu di Kelurahan Banyuasri, Buleleng berada di tengah Kota Singaraja. Tokoh Masyarakat Banyuasri Jro Mangku Ketut Subangkat. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Bagi masyarakat Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, mungkin tidak asing dengan tempat suci yang berada simpang tiga. Tepatnya antara Jalan Udayana Barat dengan Jalan Jenderal Sudirman, Kaliuntu. Ya, itu adalah Pura Subak Kaliuntu, Kelurahan Banyuasri.

Memang tidak ada yang aneh dengan pura ini. Namun, yang menarik adalah Pura Subak Kaliuntu ini masih eksis dan berdiri kokoh berada di tengah Kota Singaraja. Kawasan ini notabene adalah perumahan yang padat penduduk. Bahkan, tak satupun ditemukan persawahan di sekitar pura ini.

Jika dilihat secara seksama, pura ini masih sangat asri. Sejumlah tanaman sangat tertata dan rindang. Areal pura memang tidak begitu luas. Namun masih sangat terawat. Struktur bangunan berbahan batu bata merah menyala ini cukup klasik dan kondisinya masih bagus.

Baca juga: Pantang Tinggalkan Sisa Bunga Persembahyangan

Tokoh masyarakat Kelurahan Banyuasri, Jro Mangku Ketut Subangkat, 51, mengatakan, keberadaan Pura Subak Kaliuntu seingatnya memang sudah ada sejak dahulu. 

Saat alih fungsi belum marak, kawasan di wilayah Banyuasri memang masih banyak ditemukan areal persawahan. Namun, seriring berkembangnya Kota Singaraja, tak pelak membuat alih fungsi lahan dari persawahan menjadi bangunan kian menggila. Perlahan-lahan areal sawah tergerus, hingga membuat krama subak kesulitan mencari air untuk mengairi sawahnya.

Ia memprediksi, saat ini hampir 98 persen lahan pertanian di Subak Kaliuntu sudah beralih fungsi menjadi permukiman. “Masyarakat juga terus berkembang. Di wilayah Banyuasri juga banyak diserbu pendatang. Sehingga kian membuat lahan pertanian cepat beralih fungsi,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu (18/7).

Kondisi inipun memberikan efek domino. Sebab memengaruhi aspek pawongan yaitu anggota (krama) Subak sebagai pendukung kelangsungan hidup petani. Perlahan-lahan juga membuat jumlah krama berkurang, karena lahan garapannya berubah menjadi permukiman.

Tentu saja, efeknya adalah menurunnya jumlah panyungsung Pura Subak Kaliuntu, karena sebagai Pura Swagina yang disungsung petani. “Saat ini jumlah petani yang menjadi anggota subak paling sekitar 5-6 anggota. Itupun sudah termasuk Kelian Subak. Tetap ada struktur anggotanya,” paparnya.

Jro Subangkat menambahkan, areal persawahan yang kini dikelola krama Subak Kaliuntu sangat terbatas. Lokasinya rata-rata berada di wilayah Jalan Ahmad Yani Barat. Kawasan inipun kini dikenal sebagai areal pertokoan. 

“Paling hanya beberapa are lahan yang masih. Sampai sekarang, krama subak masih eksis. Paruman setiap bulan di Pura Subak Kaliuntu,” imbuhnya.

Dikatakannya, beberapa tahun belakangan, Pura Subak Kaliuntu yang menyungsung Dewi Sri ini, sudah tidak lagi menggelar pujawali atau Ngusabha. Hanya saja, anggota Subak kerap ngaturin alit atau sesajen tingkatan yang lebih sederhana saat hari-hari tertentu.

Tidak jarang juga saat Purnama, Tilem, Pagerwesi, Galungan dan Kuningan, krama yang bermukim di sekitar Pura Subak Kaliuntu kerap menghaturkan sesajen di pura tersebut. 

Krama Banyuasri masih mempercayai keberadaan Bhatara Sri sebagai Dewi Kesuburan dengan tetap melaksanakan pemujaan di Pura Subak Kaliuntu.

Saat ini, jumlah krama negak di Banyuasri sebanyak 500 orang. Dengan jumlah krama total mencapai 1.000 orang. “Kalau Ngusabha sudah tidak pernah lagi. Mungkin pertimbangannya karena kondisi anggota Subak yang sangat minim, ditambah areal lahan persawahan yang sempit. Hanya ngaturin alit saja,” paparnya.

Jro Subangkat menyebut, tidak jarang pula ketika sebuah rumah selesai dibangun, masyarakat di Banyuasri menggelar upacara Mangguh. Upacara ini juga sering disebut mantukang Dewi Sri. Ini menandakan jika lahan yang kini dibangun pemukiman sebelumnya adalah areal persawahan.

Meski alih fungsi sudah berlangsungs secara masif, ia berharap agar sisa lahan pertanian tidak dialihfungsikan lagi menjadi pemukiman. Upaya ini bisa dilakukan dengan membuat awig-awig pembatasan alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan menerapkan kawasan jalur hijau, sehingga keberadaan Subak akan tetap abadi sampai pada generasi-generasi berikutnya.

Terlebih dunia melalui Unesco sudah memberikan penghargaan bahwa subak sebagai warisan dunia. Bahkan Unesco menyatakan sistem pengairan Subak sebagai satu-satunya konsep sistem pemeliharaan kawasan di dunia yang berhasil mengharmonikan upaya pelestarian alam dan lingkungan dengan spiritual lewat penerapan konsep Tri Hita Karana.

Subak akan disebut sebagai Subak apabila ada Pura Subak di dalamnya, dan setiap akan melakukan kegiatan pertanian selalu diawali dengan ritual persembahan, baik dari menanam sampai memanen.

“Ritual tersebut bermakna sebagai pengakuan dan penghormatan petani terhadap Sang Pencipta, yakni Dewi Sri yang selalu memberikan kemakmuran dan kesuburan,” pungkasnya.

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP