Sabtu, 24 Jul 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Idul Adha, Syarat Keluar Masuk Bali Jalur Udara Diperketat

21 Juli 2021, 06: 33: 17 WIB | editor : Nyoman Suarna

Idul Adha, Syarat Keluar Masuk Bali Jalur Udara Diperketat

DIPERKETAT: Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Taufan Yudhistira. (istimewa)

Share this      

BADUNG, BALI EXPRESS – Berlandaskan Surat Edaran (SE) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 15 Tahun 2021, syarat keluar-masuk Bali melalui transportasi udara diperketat. Sehingga, selama rentang waktu 18 hingga 25 Juli hanya sejumlah masyarakat dengan keperluan tertentu yang diperbolehkan keluar-masuk Bali.

SE tersebut memuat tentang Pembatasan Aktivitas Masyarakat Selama Libur Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah Dalam Masa Pandemi Covid-19 yang ditetapkan per 17 Juli lalu. Selain mengatur mobilitas masyarakat keluar daerah, SE tersebut juga membatasi sementara aktivitas perjalanan orang usia di bawah 18 tahun.

Terkait pengaturan terhadap mobilitas keluar daerah, ada sejumlah keperluan yang dikecualikan dari pembatasan tersebut. Di antaranya adalah keperluan untuk bekerja pada sektor esensial dan kritikal. Pengecualian juga berlaku bagi mereka yang memiliki keperluan mendesak. Seperti pasien dengan kondisi sakit keras, ibu hamil (didampingi 1 orang keluarga), kepentingan persalinan (didampingi maksimal 2 orang), serta mengantar jenazah non Covid-19 (pengantar berjumlah maksimal 5 orang).

Baca juga: Bali United Tiadakan Tradisi Sembelih Hewan, Sumbangkan 5 Ekor Kambing

Dikonfirmasi Selasa (20/7), Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Taufan Yudhistira, membenarkan adanya penerapan SE tersebut di bandara. Karenanya, di samping sertifikat vaksinasi (minimal dosis pertama) dan surat keterangan negatif Covid-19 dengan tes PCR (sampelnya diambil 2x24 jam sebelum keberangkatan), calon penumpang dikecualikan juga wajib melengkapi diri dengan surat keterangan perjalanan.

“Pembatasan itu maksudnya pembatasan mobilitas supaya masyarakat tidak bepergian menggunakan transportasi udara, dikecualikan yang ada pada poin 2 dengan persyaratan poin 1 dan 2. Ini berlaku periode 19 sampai 25 Juli, 26 Juli hanya poin 1 atau aka nada regulasi yang baru,” katanya.

Menurutnya, bagi penumpang dikecualikan yang merupakan pekerja sektor esensial dan kritikal, itu bisa berupa Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) ataupun surat keterangan lain yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah atau surat perintah tugas dari pimpinan instansi setingkat eselon II. Sementara untuk penumpang dikecualikan karena alasan mendesak (seperti tertuang dalam SE), wajib menunjukkan surat keterangan perjalanan seperti surat rujukan dari rumah sakit, surat pengantar dari perangkat daerah setempat, surat keterangan kematian, dan lain sebagainya.

Maka, imbuh dia, calon penumpang yang melakukan perjalanan bertujuan untuk wisata tidak masuk dalam pengecualian. Dengan kata lain, mereka tidak bisa terbang dari dan menuju Bali. Kemudian, bagi calon penumpang dikecualikan tetapi tidak mengantongi surat keterangan perjalanan, maka bisa melakukan reschecule.

“Sedangkan jika ada calon penumpang yang tidak termasuk dalam kategori dikecualikan, misalnya pekerja sektor non esensial, maka bisa melakukan reschedule ataupun refund,” tuturnya.

Untuk itu, masyarakat umum utamanya para calon penumpang diharapkan sudah mengetahui ketentuan tersebut. Karena pihaknya telah melakukan sosialisasi di seluruh sosial media bandara. Sehingga nantinya bisa mempersiapkan diri, jika hendak melakukan perjalanan ke luar daerah, khususnya via Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.(ika)

(bx/ras/man/JPR)

 TOP